Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 41 : Last Me Time with Bestie


__ADS_3

"Kak, woy! Jen melambaikan tangan di depan wajah Bara. Seketika pria itu berkedip lalu menatap dengan sorot mata yang tajam.


"Jelek!" cetusnya cuek kembali fokus dengan bukunya.


Jennifer menggeram, ia mengepalkan kedua tangannya. Merasa diabaikan ditambah lagi jawabannya tidak sesuai dengan ekspektasi. Sungguh membuat gadis remaja itu naik darah.


"Iihh! Ada ya cowok kayak gitu! Hnghh!" geramnya menghentakkan kaki lalu melempar tubuh kecilnya tepat di samping Bara. Ia enggan membuat jarak di antara keduanya.


"Apasih, Bocil! Jauhan sana!" cebik Bara memicingkan mata. Tetapi tidak tega untuk mendorongnya. Padahal ia sudah duduk di ujung kursi.


"Nggak mau!" sengit Jen melipat kedua lengannya di dada, menumpukan kakinya pada kaki yang lain.


Punggungnya memang bersinggungan dengan lengan Bara. Ia kesal sekaligus penasaran, baru kali ini ada lelaki yang mengabaikannya. Padahal selama ini dia selalu menjadi pusat perhatian para kaum adam.


"Di sana masih longgar, Jen!" sembur pria itu.


"Maunya di sini!" Jennifer memainkan kuku-kuku cantiknya, tidak merespon kekesalan Bara.


"Geser sana loh!"


"Enggak!" cetus Jen kekeuh dengan keinginannya sembari menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa.


Tak berapa lama, perdebatan kecil mereka terhenti ketika melihat Emily keluar dengan gaun tanpa lengan berwarna putih menjuntai hingga ke lantai. "Kalian berisik banget tahu nggak?" desah Emily sembari merapikan gaunnya.


Tepat bersamaan Hansen yang baru sampai dengan tersengal-sengal usai berlari dari pelataran butik tersebut. Perhatian mereka langsung tertuju pada pria itu.


"Ya ampun, Hansen. Ngapain lari-lari?" ucap Emily menyeka keringat di kening Hansen dengan telapak tangannya.


"Maaf aku terlambat," jawab Hansen.


"Iya, nggak apa-apa. Tetap hati-hati. Nggak usah terburu-buru. Jangan bikin aku khawatir," balas Emily menggenggam tangannya.


Sedikit salting diperhatikan di depan orang banyak. Termasuk Jennifer yang enggan berkedip menatap pasangan itu. Hansen memijat tengkuknya sambil berdehem. "Ehm, Eee ini gaun pilihan kamu?" Ia mengalihkan perhatian, tatapannya beralih memindai gaun yang ketat hingga pinggang, berekor panjang dan bermekaran.

__ADS_1


"Iya, gimana?"


"Bagus, tapi apa nggak keberatan pas jalan nanti? Sepanjang itu ekornya?" Hansen menautkan alisnya.


"Tidak seberat cintaku padamu," celetuk Emily melingkarkan kedua lengannya di bahu Hansen.


Seketika membuat tubuh pria itu menegang, dengan debaran jantung yang sudah berantakan. Meskipun sudah lama menjalin kasih, Emily tetap saja membuat dadanya berdenyut dengan kuat.


Bara secara refleks menutup kedua mata Jenn yang membelalak melihat Emily yang berjinjit, semakin mendekat dan hampir menyatukan bibir mereka.


Kedua tangan lebarnya menutup rapat mata gadis itu dan memutar duduknya agar tidak menonton live streaming yang membuat noda di mata gadis itu.


"Anak kecil nggak boleh lihat!" bisik Bara lalu melepaskan tangannya.


Jennifer tidak bisa bergerak, tubuh nya mendadak kaku. Aroma khas pria itu menyeruak ke dalam indera penciumannya, seolah mengikat kuat dadanya yang memberontak di dalam sana. Wajahnya terangkat menatap pria tampan di sebelahnya. Bulu mata lentik itu berkedip lembut dan mulutnya sedikit terbuka.


"Kak! Tanggung jawab deh!" ucap Jennifer tanpa memalingkan mukanya dari Bara.


"Iya, sakit, Kak. Sentuhan lo bikin jantung gue cenat cenut!" celetuk Jennifer tersenyum sangat manis.


"Pletak!"


"Kebanyakan nonton Drakor lu, ah!" cetusnya menyentil kening Jennifer yang hanya diraba dengan lembut.


Bara beranjak dari duduknya menghampiri Emily yang hampir saja mencium bibir Hansen. Dengan cepat, Bara menarik telinga Emily hingga kedua lengan kecil itu terlepas dari leher kekasihnya.


"Adududuh! Sakit, Bang!" keluh Emily mengusap-usap kasar telinganya.


"Sabar dikit napa? Lihat-lihat sekeliling kalau mau mesra-mesraan. Untung ruangan VIP, cuma ada kita-kita sama pegawai doang. Jangan sampai khilaf di keramaian!" cerocos pria itu melipat kedua lengannya di dada, dengan tatapan tajam.


"Iya, iya, maaf. Bilang aja iri. Dasar jomblo!" cibir Emily membuang muka, kembali mendekati calon suaminya.


"Apa kamu bilang?!" seru Bara berkacak pinggang.

__ADS_1


Emily tertawa mengejek, memegang erat lengan Hansen dan bersembunyi di balik punggung kekarnya. Jennifer senyum-senyum sendiri melihatnya sembari bertopang dagu.


"Sudah ... sudah. Kakak ipar, Emily hanya bercanda." Hansen menjadi penengah.


Seharian dua pasangan itu sibuk mencoba banyak gaun untuk rentetan acara mereka. Emily juga memilih gaun yang senada untuk Jennifer dan Khansa sebagai pengiringnya saat pernikahan nanti.


Selain itu, Khansa juga memesan kain brukat dan batik grade A masing-masing berukuran 10 meter, untuk souvenir nanti. Sedangkan Emily mendapat sponsor dari ayah angkatnya, serangkaian produk kecantikan sebagai souvenir. Hansen dan Leon tidak mengerti hal seperti itu, mereka pasrah saja dengan semua keputusan para wanitanya.


Usai dari butik tersebut, mereka beranjak memilih catering yang akan dipakai dalam acara mereka. Sebenarnya bisa saja meminta para bawahan untuk menyelesaikannya.


Namun Khansa dan Emily ingin mempersembahkan yang terbaik, semua harus mereka buktikan sendiri secara rasa, gizi dan lain sebagainya. Tak hanya itu, mereka juga antusias memilih dua kue pengantin berukuran sangat besar sebagai pelengkap.


"Wanita ternyata sungguh ribet!" gumam Hansen yang duduk bersama Leon. Hanya menatap kedua wanitanya berkoordinasi dengan pihak catering.


"Biarkan saja, ini sekali seumur hidup. Harus membuat mereka bahagia dan berkesan. Aku saja sudah sangat terlambat!" cetus Leon sibuk memijat keningnya karena mendadak pusing dengan berbagai aroma masakan.


"Mmm ... Kakak baik-baik saja? Kelihatannya sangat pucat," tanya Hansen khawatir.


"Tidak apa, hanya sedikit pusing," balasnya menyandarkan punggung di kursi tunggal itu.


Setelah sibuk berkeliling untuk mencari makanan terbaik, Khansa dan Emily kembali bergabung bersama Leon dan Hansen. Bara dan Jennifer berada di meja yang berbeda.


Mereka sekalian makan siang di resto and cake yang cukup luas dan ramai siang itu. Hanya saja, mereka berada di ruangan khusus yang tidak tergabung dengan konsumen lainnya. Semua demi keamanan dan kenyamanan dua pasangan besar itu.


"Sasa, nanti H-1 pernikahan aku, kamu nginep di rumah aku ya!" tanya Emily setelah meletakkan serbet di pangkuannya.


"Apa? Tidak bisa!" tolak Leon dengan tegas. "Kamu sudah terlalu sering merebutnya dariku!" lanjutnya merengkuh Khansa dengan posesif.


Emily langsung berkaca-kaca, "Aku janji ini yang terakhir. Terakhir kalinya aku tidur bersama Sasa. Aku sangat merindukannya. Please, Tuan Leon Sebastian. Semalem doang loh. Izinkan kami untuk me time sebelum sibuk dengan keluarga masing-masing," pintanya memohon sembari menyeka air matanya.


Khansa melirik suaminya, menyentuh lengan kekar pria itu yang seketika membuat Leon mendelik. "Apa?! Kamu mau merayuku juga? Jangan harap!" tegas pria itu membungkam bibir Khansa.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2