Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 212. My Amazing Wife


__ADS_3

Leon berjongkok meraih tubuh gadis kecil itu ke dalam gendongannya. Ada sedikit debaran halus dalam dada dan juga urat nadinya. Namun ia berusaha menangkan diri dengan cepat. Lengan kecil itu melingkar erat di leher Leon. "Hai anak gadis om papa!" sapanya lalu mencium pipi Cheryl bergantian.


Khansa berdiri di sebelah Leon yang langsung direngkuh pinggangnya, Khansa pun memeluk pinggang kuat sang suami. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Tawa bahagia seketika menghiasi keluarga besar itu.


Rentetan suara petasan mulai menggelegar memekakkan telinga. Simon sangat bersemangat menyalakannya sambil berteriak. Hana yang berada tepat di sebelahnya terlonjak kaget. Menutup telinganya dengan rapat dan sedikit menjauh. Ia melirik sinis pada Simon yang menyulut sumber keterkejutannya.


Mereka lalu menerbangkan balon-balon yang sedari tadi digenggam erat. Balon yang bertuliskan ucapan selamat atas pencapaian Khansa. Tawa riuh diiringi tepuk tangan meriah kini menggema di pelataran luas itu. Karena semua yang menyaksikannya ikut merasakan kebahagiaan keluarga tersebut.


Beberapa waktu kemudian, mereka meninggalkan kampus yang sudah menemani Khansa berjuang untuk meraih impiannya. Rombongan nenek diantarkan oleh Vincent ke apartemen agar bisa beristirahat. Sedangkan Lily pulang sendiri karena Khansa ikut suaminya naik helikopter.


"Eh, Miss Hana! Sama aku aja pulangnya!" ajak Lily.


Langkah Hana berhenti seketika. Ia menoleh lalu beralih mengikuti Lily. Simon menatap perempuan berkaca mata itu sembari berdecak kagum. Ia segera menyusul nenek ketika perempuan itu menghilang dari pandangan.


Di dalam helikopter, Leon membantu memasang sabuk pengaman untuk Khansa dan juga Cheryl. Anak kecil itu menutup kedua telinganya rapat-rapat. Getarannya juga sangat terasa.


"Bising sekali, Om Papa!" seru anak itu.


Segera Leon memasangkan headphone yang meredam suara keras tersebut. "Nah, kalau begini enakan 'kan?" tanya Leon melalui mic kecil yang menyambung dengan headphone di telinganya.


Cheryl mengangguk-angguk sambil menaikkan ibu jarinya, dengan memamerkan deretan gigi putih dan rapinya. Khansa melepas topinya, lalu mengenakan alat yang sama. Setelah semuanya siap, heli yang mereka tumpangi mulai merangkak naik dan terbang di udara.


"Cheryl suka nggak?" tanya Khansa memerundukkan kepalanya.


"Suka banget aunty mama. Kita bisa melihat apapun dari sini!" jawabnya antusias.


Lengan Leon menyilang hingga bisa mencapai bahu Khansa. Perempuan itu segera menoleh, menatap Leon yang tersenyum penuh arti. "Lihat ke bawah deh!" ucapnya ketika sudah berada pada titik yang tepat.


Khansa tak mengerti, Leon kembali memintanya untuk mengarahkan pandangan ke bawah. Seketika mulutnya menganga saat matanya menangkap banyaknya rangkaian bunga warna warni yang begitu besar di sebuah taman, membentuk kalimat I love you, Sasa. My amazing wife.

__ADS_1


"Aaah, manis sekali, Oppa! Terima kasih," ucapnya menangkup pipi dengan kedua tangannya.


"Aunty, opa ikut kita juga ya?" tanya Cheryl menyela ucapan Khansa.


Khansa terhenyak sesaat, saling melempar pandang dengan Leon lalu tertawa terbahak-bahak. "Enggak, Sayang. Oppa itu panggilan aunty untuk om papa kamu," jelasnya dengan lembut.


"Hah?" Cheryl mengerutkan dahinya. "Om Papa rambutnya belum putih. Kenapa dipanggil opa?"


Tawa Leon dan Khansa semakin pecah mendengar celotehan keponakannya itu. Perutnya sampai terasa pegal karena terus tertawa. "Udah, udah jangan dipikirin. Intinya oppa yang aunty maksud itu panggilan sayang aunty untuk om papa. Seperti Cheryl yang panggil aunty mama dan om papa, beda dari yang lain," papar Khansa menjelaskan dengan lembut.


Leon membelai pucuk kepala Khansa, ia bisa melihat jiwa keibuannya muncul. Mungkin sudah saatnya mereka kembali berusaha untuk memiliki buah hati lagi.


Setelah menempuh pendidikan S1 kedokteran diikuti program pendidikan dokter spesialis selama satu tahun, Khansa resmi menyandang gelar dr.Sp.KJ sesuai dengan keinginannya. Dan pasien pertamanya adalah suaminya. Ia belajar sembari praktik secara langsung menangani pasien. Selain itu, Lily juga mengajarinya banyak jurus karate yang belum Khansa kuasai.


Selama mereka berproses, keduanya telah berkonsultasi dengan dokter kandungan, Leon ingin menunda kehamilan Khansa. Ia memilih alat kontrasepsi yang tepat dan aman hingga memungkinkan kesiapan mereka menjadi orang tua. Selain itu, mereka juga bisa lebih fokus dengan pendidikan dan pekerjaan masing-masing.


"Mungkin sekarang sudah saatnya, Sayang!" ucap Leon menatap penuh harap.


Leon membelai pipi Khansa dengan perlahan. Hatinya menghangat melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya. "Tentu saja. Aku sudah memiliki dokter yang hebat jika sewaktu-waktu masih kambuh."


"Kamu sudah hampir sembuh, Sayang!" balas Khansa dengan tatapan lembut.


Leon melirik ke bawah, ia menemukan Cheryl yang terlelap dalam pangkuannya. Perlahan ia mendekatkan kepala dan melayangkan ciuman bertubi di kening Khansa.


"Semua berkat kegigihan dan kesabaranmu. Terima kasih, istriku. Kamu memang wanita luar biasa!" pujinya gemas mencubit pipi istrinya. Kalau saja tak mengingat pilot yang begitu dekat dengan mereka, sudah dipastikan Leon akan melahap habis wanita istimewanya itu.


"Bukan hanya aku, tapi keinginanmu untuk sembuh pun menjadi penunjang utama dan bisa mempercepat prosesnya," elak Khansa mengusap pipinya yang memerah.


"Jadi, gimana? Kamu sudah siap menjadi ibu?"

__ADS_1


"Tentu saja. Sejak lama aku sudah sangat siap menyambutnya!" gumam Khansa tersenyum sembari menyentuh perut datarnya.


Setelah lelah berkeliling melihat pemandangan dari ketinggian, yang disertai kejutan-kejutan tak terduga dari Leon, Khansa meminta untuk pulang. Apalagi melihat Cheryl yang tampak begitu kelelahan. Leon meminta sang pilot untuk segera mendarat di rooftop apartemennya yang begitu luas.


Leon menggendong gadis kecil itu di bahu, ketika helikopter sudah mendarat dengan sempurna. Ia menuruni tangga serentak bersama Khansa di sampingnya dengan tangan yang saling bertautan erat. Sudah seperti keluarga kecil yang sempurna.


Suasana di dalam apartemen megah nan luas itu tampak lengang dan sepi. Semua penghuni sedang beristirahat di kamar masing-masing. Leon pun menggendong Cheryl hingga kamar mereka. Merebahkan di atas ranjang besarnya dengan pelan dan hati-hati karena takut membangunkannya.


Ada bahagia yang tak bisa terucap ketika melihat wajah polos anak kecil yang turut mengisi hari-harinya meskipun hanya melalui virtual saja. Dan hatinya menghangat kala bisa bertemu, menyentuh dan memeluk keponakan kesayangannya itu.


"Sayang, aku mandi dulu!" pamit Khansa setelah menyimpan semua atribut wisudanya.


Leon terperanjat dan buru-buru bangkit dari ranjang. Dengan cepat ia berlari sembari melepas pakaian yang melekat di tubuhnya dan bergegas menyusul Khansa.


"Leon!" pekik Khansa terkejut saat pintu kamar mandi tertahan oleh lengan Leon.


"Sssttt! Jangan teriak-teriak, nanti Cheryl bangun." Leon melenggang masuk sembari menutup mulut Khansa dengan telapak tangan lebarnya.


Khansa pun mengangguk pasrah. Leon menutup pintu dengan kakinya. Dada Khansa berdebar kuat ketika Leon mulai melepaskan satu persatu kain yang menempel di tubuh Khansa.


"Mungkin berendam bersama bisa menghilangkan lelah seharian ini," ucap Leon menyalakan kran dengan menyetting suhu air agar menjadi hangat dan pas untuk berendam. Kemudian menuangkan aroma terapy favorit Khansa yang juga sangat ia sukai.


"Mmm ... ada maunya nih pasti," selidik Khansa memicingkan mata. Buru-buru ia masuk ke dalam bath up diikuti Leon yang duduk di belakangnya. Dengan telaten ia menggosok punggung mulus istrinya, sesekali menghirup dalam-dalam aroma memabukkan yang menguar dari tubuh sang istri.


Lama kelamaan, Leon tidak bisa menahan diri. Ia memeluk erat wanita dalam dekapannya. Menyusuri punggung polos sang istri yang seketika membuatnya meremang.


Kegiatan mandi itu pun seketika menjadi aktivitas panas kedua pasangan tersebut. Sudah hampir satu jam keduanya masih belum ada keinginan untuk menyelesaikan. Kenikmatan yang direguk begitu memabukkan dan sungguh mencandu.


Keduanya enggan untuk melepas penyatuan yang bahkan sudah beberapa kali mencapai puncaknya. Mereka sampai lupa daratan, seolah sedang terbang menjulang tinggi hingga langit ke tujuh. Saling memberi kepuasan satu sama lain.

__ADS_1


"Aunty! Om Papa!"


Bersambung~


__ADS_2