Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 161. Bucin sedari Kecil


__ADS_3

Semua mata tertuju pada pria yang dikawal oleh dua orang polisi itu. Khansa menarik napas panjang, dadanya kembali sesak ketika melihat ayahnya dalam keadaan diborgol. Tubuhnya bergetar, tidak bisa membendung air mata yang sedari tadi dia tahan.


Langkah kaki Fauzan terseok untuk mencapai peti mati sang ayah mertua. Ia menjatuhkan tubuhnya tepat di samping peti tersebut. Fauzan menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal karena tidak menjaga amanat ayah mertuanya dengan baik.


Meski awalnya pernikahannya dengan Stefanny tidak disetujui, namun pada akhirnya Tuan Besar Isvara bisa menerimanya untuk meminang Stefanny, putri satu-satunya. Bahkan ia diberi amanat untuk menjalankan perusahaan yang sempat di ambang kehancuran. Kakek Khansa semakin percaya, saat Fauzan mampu membuat Perusahaan tersebut kembali mencapai puncak kejayaan.


"Maaf, Yah!" seru Fauzan menangis pilu. Penyesalannya tak berujung, namun tetap saja tidak bisa mengembalikan Stefanny.


Leon merengkuh tubuh istrinya, memeluk dengan erat dalam dekapannya. Nenek juga turut menenangkan Khansa, mengusap punggung perempuan itu naik turun.


Setelah puas menangisi penyesalannya, Fauzan berjalan dengan kedua lututnya. Beralih ke seberang peti dan berjongkok di depan Khansa.


"Sa! Maaf! Maafin Ayah!" ujar Fauzan menunduk.


Khansa mundur dan bersembunyi di balik punggung Leon. Tangannya mencengkeram kuat lengan Leon, kepalanya menunduk menahan isak tangisnya.


Orang-orang saling menggumam satu sama lain. Fauzan terus meminta maaf, ia kembali merangkak dan bersujud di kaki Khansa. Menyadari semua kesalahannya selama ini, yang mana selalu memperlakukan Khansa dengan buruk.


Leon tidak ingin ikut campur, dia sendiri tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Apalagi dengan saudara tirinya. Lama kelamaan, Khansa pun berjongkok. Menyentuh kedua bahu sang ayah yang bergetar kuat. Membangunkan lelaki paruh baya itu.


Tidak ada kata terucap, hanya pancaran mata berlapis cairan bening yang terus berjatuhan tanpa diminta. Keduanya seolah saling berbicara melalui sorot mata mereka.


"Bangunlah, Yah. Jangan seperti ini," ucap Khansa pelan.


Fauzan kembali menunduk, ia menggelengkan kepala masih dengan tangis penyesalannya. Khansa turut berjongkok lalu menepuk salah satu bahu ayahnya. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Mau ayah menangis darah sekalipun, tidak bisa mengembalikan ibu," ujar Khansa lirih.


"Maaf, Ayah sering menyakitimu, Sa!" ucap Fauzan di tengah isakannya.


Khansa tersenyum meski derai air mata terus membanjiri kedua pipinya. Ia lalu melingkarkan lengannya di leher sang ayah, memeluknya dengan erat. Meski Fauzan hanya bisa menopangkan kepala di dagu Khansa.


"Maaf, Sa!" ucap Fauzan berulang-ulang.


Khansa mengangguk tanpa suara. Tangannya mengusap punggung sang ayah yang bergetar hebat. Bagaimanapun juga, Fauzan adalah ayahnya.

__ADS_1


"Sudahlah, Yah. Kita lanjutkan dulu acara pemakaman Kakek," ucap Khansa setelah beberapa saat. Mereka kembali berdiri.


Beberapa prosedur pemakaman akhirnya dilakukan satu per satu. Usai ibadah penghiburan, sampailah pada penutupan peti. Leon kembali merengkuh bahu Khansa yang saat itu menahan tangisnya, mencoba merelakan kepergian sang kakek.


Khansa membawa foto kakek dan memilih untuk naik mobil ambulan, menemani kakek untuk yang terakhir kalinya. Sedangkan Leon mengendarai mobilnya sendiri. Fauzan sudah harus kembali ke kantor polisi karena waktunya sudah habis. Iring-iringan mobil sanak saudara pun cukup banyak yang mengikuti di belakangnya.


Pemakaman berjalan lancar, semua orang kembali pulang setelah acara usai. Nenek masih setia menemani Khansa di kediamannya.


"Kakek kamu orang yang baik, Sa," puji nenek menggenggam jemari Khansa.


"Nenek mengenalnya?" Khansa yang sedari tadi bersandar di bahu Leon, kini menegakkan duduknya.


"Iya, semasa kakek Leon masih hidup, kami sering bertemu. Bahkan waktu kamu baru lahir dulu, kami sering menengokmu. Leon sampai tidak mau diajak pulang karena suka menungguimu. Karena waktu kecil Leon ikut sama nenek. Tapi setelah masuk dunia sekolah, ayah Leon kembali memintanya," papar nenek Sebastian.


Khansa beralih menatap Leon, ia menyenggol lengan suaminya. "Jadi kamu udah menyukaiku sejak bayi nih? Ciye," goda Khansa.


"Aku nggak ingat, Nek!" elak Leon memicingkan mata.


"Haha, ya itu sudah lama sekali," ujar sang nenek.


"Jadi Leon tertarik sama aku 'kan Nek sejak masih bayi?" Khansa merasa bahagia karena ada senjata untuk menggoda suaminya. Nenek berhasil mengalihkan kesedihannya.


Khansa bergelayut manja di lengan Leon sembari mencolek pinggang suaminya. "Ngaku hayo, udah kepincut dari bayi ternyata," bisik Khansa memiringkan kepalanya.


Leon hanya memicingkan mata, wajahnya memerah terus digoda seperti itu. "Nenek, kenapa diceritain? Kan jadi gede nih kepalanya," ucap Leon menangkup kepala Khansa dengan kedua tangannya.


Nenek lega karena melihat Khansa kembali ceria. Dalam hati ia bersyukur karena Leon mendapat pendamping yang tepat. Bukan anak-anak Maharani. Ternyata strateginya dulu berhasil.


"Sok-sok'an galak waktu pertama ketemu, padahal bucin sedari kecil," goda Khansa lagi mengeratkan pelukan pada lengan Leon.


Leon pun tak kuasa untuk menahan senyumnya. Ia melepas lilitan tangan Khansa beralih memeluknya dengan erat. "Iya iya little princess," gumam Leon mencium puncak kepala Khansa.


"Nenek, pulanglah lebih dulu. Jangan sampai kelelahan. Kami mau jenguk Gerry di rumah sakit," ucap Leon pada sang nenek.


Khansa meregangkan pelukannya, menyentuh lengan sang nenek, menatapnya penuh sayang, "Iya, Nek. Nenek harus banyak istirahat. Terima kasih banyak sudah hadir di pemakaman kakek," sambung Khansa berucap lembut.

__ADS_1


"Asisten Gerry bisa sakit juga ternyata," cibir nenek sebastian tertawa.


"Bisalah, Nek. Dia 'kan manusia bukan robot," celetuk Leon mengundang gelak tawa dua wanita kesayangannya itu.


"Yasudah, kalau begitu kalian hati-hati. Nenek pulang dulu ya. Salam untuk asisten Gerry!" ucap Nenek beranjak berdiri.


Khansa dan Leon mengantarnya ke depan. Paman Indra segera membukakan pintu penumpang, lalu beralih duduk di balik kemudi.


"Paman, hati-hati!" ucap Khansa sebelum Paman Indra masuk.


"Baik, Nyonya. Permisi," sahutnya membungkuk lalu masuk ke mobil dan melajukannya dengan perlahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mau ke rumah sakit sekarang?" tanya Leon menunduk.


Khansa yang masih berada dalam rengkuhannya menengadahkan kepala, "Iya," jawabnya.


Leon mendesah lega, karena Khansa tidak terpuruk seperti dalam perkiraannya. Wanita itu benar-benar menjelma menjadi wanita yang kuat seperti ucapannya tempo hari. Menangis dan bersedih sewajarnya, karena sesuatu yang berlebihan pasti berakhir tidak baik. Dan dia bangga dengan istrinya itu.


"Leon," panggil Khansa saat sudah dalam perjalanan.


"Hm?" Leon menoleh sesekali.


"Emmm ... apa yang akan kita lakukan pada Keluarga Ugraha?" tanya Khansa menoleh pada suaminya. Kali ini dia tidak ingin gegabah, karena yang dia hadapi bukan orang sembarangan. Dan nama baik suaminya akan menjadi taruhan.


Leon tersenyum misterius, tatapannya berubah tajam. "Kamu tenang saja, aku sudah menyusun rencana untuk menghancurkannya secara perlahan. Kali ini kita harus bekerja sama," jawab Leon fokus ke jalan raya.


"Baiklah," ucap Khansa percaya sepenuhnya pada sang suami.


Bersambung~



😚 Sama bini sendiri gpp kelles!

__ADS_1



MasLe: Tuh! Tuh jadi digodain mulu kan?!. 😒


__ADS_2