Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 39. Kecurigaan Nenek


__ADS_3

Melihat perubahan sikap Khansa, nenek mengerutkan keningnya. Ia kembali meletakkan tanaman itu ke tempat semula.


Nenek kembali menghampiri Khansa yang masih bergeming, membelai kucingnya dengan lembut namun tatapannya kosong.


“Sa, kamu baik-baik saja?” tanya nenek menyentuh lengannya.


“Ah! Iya, Nek. Maaf, Khansa malah melamun.” Khansa menyeka bulir bening yang berjatuhan dan hampir mengering.


“Sa, apa Leon menyakitimu?”


Pertanyaan nenek sontak membuatnya terkejut. Pasalnya, Khansa sedih karena teringat mendiang ibunya. Namun, nenek beranggapan lain. Ia mengira ada sesuatu yang tidak beres antara pasangan itu. Karena tidak biasanya Khansa terlalu mengumbar kesedihannya seperti itu. Bahkan hampir tidak pernah. Khansa selalu ceria di depannya.


“Enggak kok, Nek. Kenapa nenek berpikiran seperti itu? Tu … eh maksudku, Leon sangat baik, Nek.” Khansa segera menyanggah pendapat neneknya.


“Ehm, benar begitu?” tanya nenek memicingkan mata. Ia tidak percaya begitu saja.


“Baiklah, kalau begitu segera beristirahat, atau mau nenek minta siapkan makanan sekarang?” tawar sang nenek.


“Enggak usah, Nek. Khansa mau istirahat aja dulu,” elak Khansa lalu berpamitan ke kamarnya bersama dengan hewan yang kini menjadi piaraannya.


Khansa menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia menelungkupkan tubuhnya, jemarinya sibuk mengelus kepala kucing itu. Kelembutan Khansa, membuat kucing itu merasa nyaman dengan sang pemilik barunya.


“Mulai sekarang namamu Catty. Gemesin banget sih kamu.” Seolah mengerti ucapan Khansa, kucing itu pun menggesekkan kepalanya di pipi Khansa. Gadis itu tertawa cekikikan bersama binatang piaraannya.


Setelah lama bergelut, Khansa berpamitan dengan Catty untuk tidur, mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


“Catty, aku mau istirahat dulu ya. Kamu mainlah sesukamu tapi harus kembali ke sini lagi, okey,” ucap Khansa mengusap kepala Catty lembut.


“Meow.” Seolah mengerti ucapan Khansa, Catty menjawab namun ia justru ikut melingkatkan tubuhnya di dekat Khansa.


“Oh, kamu mau tidur juga? Baiklah,” ucap Khansa yang mengusap puncak kepala Catty hingga kucing itu tertidur.


Ia menelentangkan tubuhnya, pandangannya nanar menatap langit-langit kamar. Statusnya sudah berubah, ia telah menikah dan menjadi bagian di Villa Anggrek.


Satu hal yang ia sadari dari keluarga ini. Kasih sayang dan kehangatan keluarga yang sebenarnya, yang tidak ia miliki sejak ibunya meninggal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara Nenek Sebastian mencari keberadaan Paman Indra setelah Khansa menghilang di balik pintu kamarnya.

__ADS_1


Nenek menyusuri lorong demi lorong Villa yang cukup besar itu. Hingga sampailah sepasang netranya menangkap keberadaan orang yang ia cari. Kebetulan Paman Indra tengah memberi arahan pada penjaga di belakang Villa. Ia memang sengaja memilih tempat itu, karena bisa bebas mengekspresikan kemarahannya tanpa mengganggu penghuni Villa.


“Indra!” panggil nenek semakin mendekat.


Melihat nyonya besarnya, Indra segera membubarkan penjaga dan meminta menjalankan tugas dengan baik.


“Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Indra yang juga merapatkan jarak keduanya.


“Apa kamu tahu sesuatu tenang Leon dan Khansa?” Nenek langsung mengutarakan maksud dan tujuannya.


“Maksud Nyonya?” Paman Indra bertanya balik.


“Khansa terlihat aneh. Dia tampak sangat sedih. Apa kamu tahu sesuatu mengenai mereka?” cecar Nenek Sebastian.


Paman Indra diam sejenak. Keraguan nampak jelas di wajahnya. Ia menunduk, tangannya menggenggam pergelangan tangannya sendiri.


“Katakan semua yang kamu tahu, Indra!” tegas nenek.


“Baik, Nyonya. Waktu itu, hampir tengah malam nyonya muda buru-buru keluar dari rumah ini. Kemudian selang satu jam, Tuan muda menelepon menanyakan keberadaannya. Beliau mengatakan nyonya muda tidak mau mengangkat telepon dan membalas pesannya. Menurut saya, tuan dan nyonya muda sedang bertengkar, Nyonya,” papar Paman Indra sebatas yang ia tahu.


Nenek menghela napasnya dengan kasar. Satu tangannya menyentuh kening yang tiba-tiba pusing. Tubuhnya terhuyung, namun Indra segera menangkapnya, lalu memapah nyonya besarnya duduk di kursi tak jauh dari jangkauan mereka.


Nenek Sebastian pusing karena Leon pandai dalam hal apa pun, namun tidak dalam hal berpacaran.


“Sudah kuduga, Leon pasti melakukan kesalahan. Indra, cari cara agar malam ini mereka kembali berdamai. Bantu aku memikirkan caranya,” pinta Nenek Sebastian yang merasakan kepalanya semakin berdenyut nyeri.


“Baik, Nyonya,” sahut Paman Indra mengangguk patuh. 


“Aku punya ide, Indra,” ucap nenek tiba-tiba dengan senyum menyeringai setelah mereka terdiam beberapa saat.


Nenek pun menjelaskan rencananya. Dan meminta Indra untuk mengeksekusi dengan cepat.


“Sekarang mungkin dia sedang beristirahat. Nanti sekitar jam 3 sore kita mulai jalankan rencana,” ucap nenek menaik turunkan kedua alisnya.


“Baik, Nyonya besar.” Hanya itu jawaban sang kepala pelayan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Khansa! Kamu sudah bangun belum?” tanya Nenek Sebastian sembari mengetuk pintu.

__ADS_1


“Iya, Nek,” sahut Khansa yang sebenarnya baru membuka kedua matanya.


Ia segera beranjak dari kasur, membuka pintu kamarnya. “Ada apa, Nek?” tanya Khansa masih dengan penampilan yang berantakan.


“Bantu nenek bikin kue untuk Leon,” rayu sang nenek menarik lengan Khansa.


“Tapi, Nek. Khansa mau mandi dulu,” elak Khansa malu.


“Tidak perlu, ayo cepat. Keburu Leon pulang!” paksa sang nenek. Mau tidak mau, Khansa pun menurut. Di sisi lain, Paman Indra melihat kode kedipan satu mata dari sang nenek. Ia pun segera beraksi setelah majikannya turun ke dapur.


Di dapur, nenek mengajari Khansa cara membuat red velvet favorit Leon. Sambil sesekali bercanda, saling bercerita, hingga cake tersebut selesai dibuat. Khansa pun menghias dengan sangat cantik, lalu memasukkannya ke dalam lemari pendingin.


“Selesai, kalau begitu Khansa mandi dulu ya, Nek. Terima kasih sudah mengajari Khansa membuatnya,” pamit Khansa.


“Iya, Sayang sama-sama. Nenek yakin, Leon pasti menyukak red velvet buatanmu,” puji Nenek Sebastian.


“Ah, nenek bisa aja,” sahutnya merona.


“Ya sudah, sana!” Nenek sedikit mendorong punggung Khansa.


Gadis itu pun beranjak ke kamarnya. Ia segera ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu, melangkah keluar hanya mengenakan bathrobe. Ia lupa mengambil pakaian ganti.


Dengan langkah jenjangnya, Khansa menuju ke walk in closet.  Keningnya mengernyit dalam saat tidak menemukan baju tidur yang biasa ia pakai di lemari yang berjajar itu.


Yang ia temukan,  baju tidur dengan bahan sutra asli di dalam lemari yang banyak sekali. Khansa sembarang memilih satu set dan segera mengenakannya.


“Hai, Catty! Kamu sudah bangun?” Khansa menghampiri Catty dan segera menggendongnya. Ia bermain sebentar dengan hewan peliharaannya.


Sesaat kemudian, terdengar derit pintu terbuka. Khansa menoleh, ternyata Leon sudah pulang.


“Hai, Tuan Leon. Sudah pulang?” Khansa menyapa seperti biasa saat Leon masuk ke kamar.


Namun Leon tidak menjawabnya, kedua bola matanya melebar, “Astaga, apa yang kamu pakai?” pekik Leon dengan ekspresi terkejut.


Khansa terdiam sejenak, ia merasa aneh, kemudian turun dari ranjang dan berdiri di depan cermin.


Ia sendiri terbelalak kaget, rupanya Khansa memakai baju, bukan baju tidur biasa.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2