
“Kalian ketemu di rumah sakit mana, Ji? Dia masuk ke sana?” tanya Maharani saat putrinya sudah tenang.
“Di rumah sakit xxx, Bu. Iya, aku lihat sendiri dia masuk kok. Nggak tau lagi jenguk atau periksa, aku langsung pulang tadi,” jawab Jihan sembari memakan camilannya.
Maharani mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tersenyum menyeringai dengan kilatan tajam dari ekor matanya.
“Yaudah kamu sarapan aja sana. Belum sempet sarapan ‘kan tadi?” tawar Maharani meraih ponselnya. Jemarinya mengetik dengan lincah.
“Mau mandi aja deh, Bu. Lagi nggak nafsu makan.” Jihan melenggang pergi meninggalkan ibunya yang sudah sibuk sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khansa berjalan dengan tenang melewati setiap koridor yang cukup ramai pagi itu. Karena memang ini waktunya berkunjung.
Khansa tampak sangat anggun dengan jeans berwarna putih sepanjang tumit, yang pas membalut kaki jenjangnya. Atasan rajut berlengan panjang berwarna maroon sangat kontras dengan kulit putihnya. Rambut panjangnya terikat rapi, bergerak ke kiri dan kanan mengikuti gerakan tubuhnya.
Helaan napas panjang Khansa embuskan saat tangannya meraih handel pintu, berharap akan segera mendapat kabar baik.
Saat kakinya melangkah, pemandangannya masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Khansa segera duduk di kursi, meraih tangan renta Bibi Fida dan menciumnya.
“Selamat pagi, Bibi,” sapanya lalu mencium kening Bibi Fida.
Tak berapa lama, terdengar pintu terbuka. Khansa menoleh, tampak seorang suster membawa sebuah trolly.
“Selamat pagi Mbak Sasa,” sapa suster tersebut yang sudah hapal dengan Khansa.
“Pagi juga, Sus. Apa dokter sudah berkunjung?” tanya Khansa sembari tersenyum.
“Sudah, Mbak. Sekitar sepuluh menit yang lalu. Beliau memeriksa lebih awal karena akan ada seminar sebentar lagi,” lanjut suster sembari menyuntikkan infus Bibi Fida sesuai dengan resep obat dokter.
Khansa mengangguk, lalu ia beranjak berdiri mengambil stainless berisi air hangat dan washlap. “Suster, biar saya saja yang membasuh Bibi Fida,” ucap Khansa.
“Oh, baik. Kalau begitu saya permisi ya, Mbak. Semoga Bibi Fida segera sadar,” ucap suster itu. Khansa mengangguk. “Makasih ya, Sus. Udah bantuin jaga Bibi Fida.
“Sama-sama, Mbak. Mari,” ucap wanita berseragam putih itu dengan sopan.
Sepeninggalnya petugas medis itu, Khansa mulai membersihkan tubuh Fida. Dengan telaten, ia membasuh muka, dilanjutkan membasuh seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Khansa merawat wanita tua itu dengan penuh kasih sayang. Sama seperti Bibi Fida yang membantu merawatnya sewaktu kecil.
Setelah itu, Khansa kembali mengenakan pakaian pasien Bibi Fida lagi dan membenarkan selimutnya.
“Udah seger lagi ya, Bi. Sekarang,” ucap Khansa lembut.
Kemudian, Khansa melakukan pijat tuina, yaitu pijat tradisional China yang diimbangi dengan pengobatan akupunturnya. Ini berfungsi untuk meningkatkan mobilitas tubuh dengan cara melancarkan sirkulasi darah.
Selanjutnya ia sambung dengan menusukkan beberapa jarum perak pada titik-titik tubuh Bibi Fida sesuai dengan sumber penyakitnya.
“Bibi wanita hebat, karena sudah bertahan sejauh ini. Terus berjuang ya, Bi. Lawan semua sakit ini, Sasa akan bantu sebisanya.”
Khansa kembali duduk dan meraih lengan Bibi Fida. Khansa terus mengajak Bibi Fida berbicara. Tak peduli akan didengarkan ataupun tidak. Ia juga menceritakan tentang Leon. Hingga tak terasa hari sudah menjelang sore. Saatnya dia pulang ke Villa.
“Sasa pulang ya, Bi.” Khansa mencium kening dan tangan wanita itu lalu melenggang keluar ruangan.
Tanpa Khansa sadari, saat ia sudah mencapai lift, Khansa diikuti oleh dua orang berseragam hitam. Dua orang itu seharian berkeliling di rumah sakit untuk mencari keberadaan Khansa.
Dan lantai paling atas adalah tujuan terakhir mereka. Secara kebetulan bersamaan dengan keluarnya Khansa dari ruangan. Salah satu dari mereka membawa kursi roda yang digunakan untuk mendorong Khansa, agar tidak ada yang curiga.
Khansa tengah menunggu pintu lift terbuka. Lantai yang ditempati Bibi Fida memang tidak ramai, karena lantai VIP tersebut hanya di ada beberapa kamar saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam semakin larut, sedari tadi Maharani mondar mandir di kamarnya sembari memegang ponselnya.
Sesekali ia menatap layar benda pipih itu, menunggu notifikasi dengan perasaan was-was. Ia takut kali ini rencananya akan gagal lagi.
“Duh mana sih dua orang itu! Kenapa sampai sekarang masih belum kasih kabar juga?” gerutu Maharani tak bisa diam.
Entah sudah berapa kali ia bolak balik dari ujung ke ujung lainnya di dalam kamar. Matanya kering, sama sekali tidak mengantuk. Apalagi sedang menunggu kabar besar dari orang-orang suruhannya.
Ya, Maharani adalah dalang dibalik penculikan oleh 2 pria berbaju hitam tadi. Entah sudah berapa jam ia berdiri dan seperti setrikaan. Yang pasti, dia tidak akan tenang sebelum mendapat kabar tentang Khansa.
Sampai jam menunjukkan pukul 23:30, ponsel Maharani menerima notifikasi pesan. Buru-buru wanita itu membukanya dengan tak sabaran.
Matanya membulat dengan sempurna, mulutnya menganga. “Waaaa! Uuups!” Maharani berteriak kegirangan. Lalu ia segera sadar dan buru-buru menutup mulutnya.
__ADS_1
Terlihat sebuah foto tak senonoh milik Khansa yang dikirim oleh penculik itu. Dalam foto tersebut, tampak seorang pria tengah menindihnya tanpa mengenakan pakaian. Namun, wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Maharani tersenyum licik, kebenciannya terhadap Khansa sudah membuncah.
“Lihat saja bocah ingusan. Kamu akan hancur malam ini juga!” gumamnya dengan senyum seringai.
Maharani mengunggah dan menyebarkan foto tak senonoh itu ke internet untuk merusak nama baik Khansa.
Ia mengunggah disertai caption, “Pura-pura lugu untuk mengelabuhi semua orang! Khansa Isvara, tercyduk sedang bermalam dengan pria asing!”
Tidak berselang lama, banyak tanggapan dari para netizen mengenai foto tersebut. Meskipun tengah malam sekalipun. Banyak sekali hujatan yang ditujukan untuk Khansa.
“Serius ini Khansa? Wow gila!”
“Nggak nyangka yaampun, padahal kalem gitu tapi ternyata bobrok!”
“Hellow! Sikap sama muka nggak cocok, Neng!”
Dan masih banyak lagi komentar netizen yang memang mudah sekali tersulut emosi.
Jihan yang saat itu belum tidur, membelalak saat melihat berita mengenai Khansa. Ia segera berlari keluar dan berdiri di depan pintu kamar orang tuanya. Jihan yakin, ibunya belum tidur juga.
“Tok! Tok!” Jihan mengetuk pintu dengan sangat pelan.
Tak lama, Maharani langsung membukanya. Ia segera keluar menemui Jihan.
“Bu! Bu! Ini foto Khansa di internet karena ibu?” tanya Jihan berbinar. Ia segera memastikan dengan Maharani tentang foto tak senonoh yang tersebar di internet.
Maharani menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang melihat atau mendengarnya. Maharani menarik lengan Jihan menuju balkon. Jihan hanya menurut saja.
“Jadi gimana, Bu? Ini semua karena ibu?” tanya Jihan tak sabaran.
Maharani mengangguk dengan puas, “Iya, akhirnya Khansa bisa terjebak, hahaha!” seru Maharani tertawa.
“Aaaaa!” Jihan mulai kegirangan, ia bahkan sampai melompat-lompat sembari memeluk ibunya. “Makasih, Bu. Kelihatannya Khansa si rubah penggoda sangat pantas digilir pria! Hahaha!” seru Jihan tertawa dengan keras.
Bersambung~
Sekian untuk hari ini... semoga jum'at dapet ounline lagi dan sabtu bisa up yah ☺
__ADS_1