Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 150. Jumpa Virtual


__ADS_3

Hansen kembali menenggak wine dengan sedikit kasar. Deru napasnya terdengar berat. Ia kembali meraih ponselnya dan menatap foto-foto Emily yang pernah ia ambil di bukit dan juga saat di laboratorium miliknya.


Simon baru saja kembali dari dunia kerjanya. Melihat Hansen yang termenung sendirian, dia urungkan niat untuk masuk ke kamarnya. Mengubah langkahnya beralih menyusul Hansen.


Pria super kepo itu berjalan mengendap-endap, lalu mengintip dari balik punggung Hansen. Simon melongokkan kepalanya di samping Hansen, "Wow! Sepertinya ada yang lagi teremil-emily nih!" sindirnya mengejutkan Hansen.


"Gila! Kek hantu aja datang tiba-tiba!" gerutu Hansen menatapnya dengan tajam.


Simon terkekeh, ia turut mendudukkan tubuhnya di sebelah Hansen. Menuangkan wine pada gelas kosong lainnya dan meneguk sedikit demi sedikit.


"Jadi ini yang bikin sibuk berhari-hari?" gurau Simon memicingkan mata setelah meletakkan gelasnya di meja.


"Bukan, apasih. Aku sibuk sama obat-obatan yang dikasih Kak Leon."


"Obat-obatan apa? Bisa aja mengalihkan pembicaraan," celetuk Simon menyulut rokok milik Hansen yang tinggal beberapa batang dalam bungkusnya itu.


Hansen terdiam sejenak, menurutnya Simon terlalu emosian dan sulit menjaga rahasia. Tidak baik jika pria itu mengetahuinya sekarang. Mata Hansen tertuju pada gelas kosong di depannya.


"Mmm ... masih penyelidikan sih buat cari bukti. Kalau semua barang bukti sudah terkumpul, kita baru bertindak," sahut Hansen dengan tenang.


"Apa nih? Aku ketinggalan berita? Siapa pelakunya?"


"Nanti aku ajak eksekusi. Mandi dulu sana!" Hansen menatap Simon yang sudah mulai menggebu-gebu.


Dengan malas Simon beranjak berdiri mengusak puntung rokok yang masih sisa setengah. Ia berbalik dan menuju ke kamar. Namun saat menoleh, Simon melihat Hansen kembali menatap ponselnya sambil duduk dengan santai dan merokok dengan elegan.


Buru-buru Simon kembali dan mengintipnya. "Tuh 'kan bener! Ciye Hansen lagi teremil-emily nih! Hahaha!" celetuk Simon sambil tertawa.


Hansen memutar tubuhnya, meraih asbak yang terbuat dari kaca dan mengangkatnya. Seolah-olah akan melemparkannya pada Simon.


"Woy kalem, Bos! Kalem!" Simon mundur sembari menyilangkan kedua tangannya di atas kepala, masih dengan tawa meledek.


Hansen hanya menatapnya dengan tajam sampai Simon benar-benar masuk ke kamarnya. Ia menghela napas panjang dan kembali fokus pada layar ponselnya yang menampakkan banyak sekali foto-foto Emily.


Di pulau seberang, Emily berada dalam perjalanan pulang menuju villa tempat tinggalnya selama di Bali.


"Barbara, mana ponselku!" Emily mengulurkan tangannya ke depan.


Bara menoleh ke kursi penumpang, menyerahkan tas Emily. "Nih!"


"Nggak ada telepon lagi ya," gumamnya pelan meraih tas tersebut.

__ADS_1


"Si kulkas itu? Siapa sih dia, Beib? Apa jangan-jangan yang pernah beredar di gosip-gosip itu ya!" Bara yang fokus menyetir masih bisa mendengar gumamannya.


"Kepo!" seru Emily menaikkan kedua kakinya di kursi lalu memiringkan tubuhnya.


Emily meraih ponselnya, menggulir layar panggilan dan mencoba menelepon balik. Emily mengerutkan dahinya saat mendengar sambungan teleponnya sedang sibuk berada di panggilan lain. Ia tidak menyerah mencoba lagi dan lagi, hasilnya sama saja. Ternyata, keduanya menelepon secara bersamaan.


"Ck!" decak Emily kesal lalu memasukkan kembali ponselnya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpanginya sudah berhenti di depan villa. Emily bergegas turun dengan wajah cemberut.


"Baby!" panggil Bara sebelum Emily menutup pintu mobil. Ia kembali melongokkan kepala.


"Besok bangun jam 6 loh ya. Jam 7 harus udah berangkat! Jangan begadang, langsung mandi terus tidur. Istirahat biar nggak kecapekan!" seru Bara.


"Iya Barbara, iya. Lu bawel banget sih ngelebihin mama! Dah sana pergi! Hati-hati Barbara jangan ngebut!" Emily menghempaskan pintu mobil dengan keras lalu melambaikan tangannya. Bara yang hendak melayangkan protes pun bibirnya terkatup lagi.


Mobil yang dikendarai pria itu pun melaju dengan pesat. Emily pun berjalan malas menuju kamarnya. Segera ia menghempaskan tubuhnya yang dirundung kepenatan di ranjang empuknya. Kedua tangannya menekan-nekan kepalanya yang sedikit merasa pusing.


Tring!


Sebuah notif pesan masuk ke ponselnya. Sempat ia abaikan karena mengira pesan itu dari Bara yang selalu mengingatkan ini itu, juga melarang ini itu.


Tring!


"Apa lagi sih, Barbara! Katanya suruh tidur besok bangun pagi-pagi. Lah ini malah berisik dari tadi. Heran deh!" seru Emily mendecak sebal.


"Ehm!"


Mendengar suara deheman yang berbeda, Emily membuka matanya lebar-lebar. Ia beranjak duduk dan melihat layar ponselnya. Matanya semakin membelalak saat tahu sang penelepon ternyata bukan Bara, melainkan Hansen.


"Sudah tidur?" tanya Hansen.


"Sudah!" sahut Emily asal, ia tiba-tiba berubah gugup. Dadanya berdebar mendengar suara dingin namun ia rindukan itu.


"Hahaha! Kalau sudah tidur lalu siapa yang bicara ini," ucap Hansen lagi.


Emily mengerjap beberapa kali. Ia menjauhkan ponselnya, "Hah, dia ketawa? Dia bisa ketawa kayak gitu?" gumamnya tidak percaya.


"Eee ... baru mau tidur maksudnya," ujarnya setelah kembali meletakkan ponselnya di telinga.


Tidak ada sahutan lagi, tiba-tiba Hansen merubah panggilannya menjadi video call. Emily panik, ia merapikan rambutnya yang sudah acak-acakan. Mencari cermin kecil yang selalu ada di dalam tasnya.

__ADS_1


"Aduh, angkat nggak ya. Lagi berantakan gini!" Emily menggigit bibir bawahnya. "Angkat aja deh, bodo amat sama muka kusut!"


"Hai," sapa Emily tersenyum kaku.


Hansen diam, namun pandangan matanya tak sedikit pun beralih dari layar ponsel.


"Kok diem sih. Matiin aja deh kalau enggak mau ngomong!" Emily mencebikkan bibirnya.


"Tunggu. Kamu baru pulang?" tanya Hansen melihat jam di sudut ponselnya. Sudah sangat larut.


Emily mengangguk, "Iya!"


"Kok nggak bilang kalau balik ke Bali?"


"Lah kenapa harus bilang? Orang tua bukan, saudara bukan," cetus Emily yang langsung menjadi skakmat bagi Hansen.


Pria itu terdiam lagi, satu tangannya memainkan gelas kosong di meja. "Emm ... kamu kapan ada jadwal kosong?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Enggak tahu. Belum tanya Barbara," jawab Emily berusaha cuek.


"Siapa itu Barbara? Saudara kamu?"


"Iih kepo!"


Emily berkali-kali mengusap dadanya yang berdebar hebat. Padahal setiap kalimat Hansen tidak ada kalimat yang berarti, biasa saja bahkan terkesan kaku. Tapi entah kenapa membuat Emily berasa jungkir balik bisa melakukan panggilan video dengan pria itu.


Wajah Emily yang polos dan ekspresif membuat Hansen tersenyum tipis. Emily menopang dagu dengan kedua tangannya. Karena sedari tadi ponselnya ia sandarkan di bantal.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya gadis itu menatap curiga.


"Enggak apa-apa. Tidurlah, selamat malam." Hansen langsung mematikan ponselnya sebelum mendapat balasan dari Emily.


"Diihh! Apasih maksudnya. Tenang Emily, jangan baper. Takutnya kena ghosting. Tidur ajalah. Nggak usah mandi, abis liat yang seger-seger kayaknya udah cukup."


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di kasur dan benar-benar tidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa yang sudah terlelap dari tadi mendadak terbangun, karena tidak ada yang memeluknya seperti sebelumnya. Ia mengerjapkan mata dan membalikkan tubuhnya. Benar saja, Khansa tidak menemukan suaminya.


Masih dalam keadaan mengantuk, Khansa berjalan keluar mencari Leon. Dia mendengar suara orang berbincang-bincang di ruang kerja. Manik matanya menilik jam yang menggantung di dinding, "Sudah jam 1 malam loh," gumamnya mengucek mata.

__ADS_1


"Leon!" panggil Khansa sembari membuka pintu ruang kerja tersebut.


Bersambung~


__ADS_2