Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 65. Tamu VIP


__ADS_3

Setelah Khansa benar-benar menghilang dari pandangannya, Leon melesat pergi dari sana. Ia masih belum pulang ke rumah, kembali ke bar milik Simon lagi dan menginap di sana.


Taksi online yang mengantarkan Khansa kini berhenti di depan rumah sakit. Ia bergegas turun dan mengayunkan kakinya untuk masuk ke sana. Malam yang semakin larut, tak banyak manusia yang lalu lalang.


Benturan heels milik Khansa menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Pandangannya menunduk, langkahnya tak bersemangat.


Tak berselang lama, tangannya mengulur membuka pintu ruang rawat Bibi Fida. Ia melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Khansa mendaratkan tubuhnya di kursi tepat di sebelah ranjang.


Ia menghela napas panjang ketika menekan denyut nadi Bibi Fida yang masih terasa lemah. Seperti biasa, setiap Khansa berkunjung akan selalu membantu pengobatan tradisional.


“Bibi, kapan Bibi akan sadar?” ucap Khansa menusukkan beberapa jarum perak pada titik-titik akupuntur di tubuh Bibi Fida. Khansa tidak akan menyerah, ia berusaha sekuat tenaga untuk kembali menyembuhkan Bibi Fida.


“Bi, tadi Sasa menghancurkan acara pertunangan Jihan dengan Hendra. Meskipun dengan cara halus, tapi berhasil membuat acaranya berantakan,” ucap Khansa antusias.


Kini Khansa menggenggam tangan lemah Bibi Fida, meletakkannya di pipi. Tenggorokannya tercekat untuk meneruskan cerita. “Apa Sasa kejam, Bi? Tapi jika mengingat kejadian sepuluh tahun lalu, ini masih nggak ada apa-apanya,” ujarnya mulai menitikkan air mata.


“Bibi bangunlah, temani Sasa di sini. Beri Sasa kekuatan untuk menghadapi semua ini. Bantu Sasa membongkar semua teka-teki ini, Bi. Apa yang dilakukan Hendra?” Khansa mulai terisak, mengingat harus kehilangan orang-orang yang sangat dia sayangi.


Tidak ada suara selain denting monitor detak jantung dan isak tangis Khansa. Ia selalu berharap agar Bibi Fida segera sembuh. Meskipun harus menunggu entah berapa lama.


Setelah satu jam mencurahkan segala uneg-uneg di hatinya, Khansa menyeka air matanya. Kembali membenarkan selimut Bibi Fida, lalu mencium kening wanita tua itu.


“Sasa pulang dulu ya, Bi. Segeralah bangun,” ucap Khansa berpamitan, kemudian melenggang pergi.


Khansa pulang ke Vila Anggrek. Sesampainya di sana, suasana sangat sepi. Bahkan lampu-lampu yang berpendar hanya remang-remang saja. Karena memang malam sudah sangat larut. Sebagian penghuni Villa sudah terpulas dalam tidurnya.


“Selamat malam, nyonya muda! Anda baru pulang?”


Khansa terjingkat saat hendak memasuki kamarnya. Suara Paman Indra tiba-tiba mengejutkannya.


“Malam, Paman. Iya, tadi aku ke rumah sakit dulu menjenguk Bibi Fida,” balas Khansa mengangguk. “Aku masuk dulu ya, Paman.” Khansa melenggang masuk tanpa mendengarkan jawaban dari kepala pelayan itu.


Pintu ditutup rapat ketika sudah memasuki kamarnya. Hatinya masih terasa kacau. Ia sedang tidak berminat diajak berbicara.


“Malam yang melelahkan,” desah Khansa mendudukkan diri di ranjang empuknya.

__ADS_1


Ia menekan leher dan menggerakkannya untuk menghilangkan pegal. Setelah beristirahat sejenak, Khansa segera membersihkan tubuhnya.


Usai berganti pakaian tidur, Khansa merebahkan diri di ranjang. Namun kedua mata indahnya sulit untuk dipejamkan. Padahal tubuhnya sudah sangat lelah.


Khansa terus bergerak di atas ranjang untuk mencari posisi yang nyaman. Namun berkali-kali mengubah posisi tidur, ia masih merasa tidak nyaman.


“Huuuftt!” Khansa beranjak duduk. Kepalanya menoleh ke samping. Matanya menatap nanar kasur yang terbentang luas itu. Tangannya refleks meraba bantal yang biasa digunakan Leon untuk tidur.


Biasanya, saat ia merasa gelisah dan hatinya tidak enak seperti sekarang ini, Khansa akan terlelap dalam pelukan hangat Leon. Debaran jantung pria itu, juga aroma tubuhnya bisa menenangkan hatinya.


“Ah! Kenapa aku jadi kepikiran Leon?” Tangannya terhenti mengusap bantal Leon dan menariknya kembali.


Bayangan pria tampan itu mulai menguasai pikirannya. Khansa menekuk kedua lututnya, sedangkan kedua tangan menepuk-nepuk kepalanya dengan mata terpejam. “Pergilah Leon! Pergi dari otakku!” gumamnya pada diri sendiri.


Beberapa saat kemudian, Khansa kembali merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga lehernya dan memaksa kedua mata indah itu segera terpejam. Meski lumayan lama, Khansa akhirnya bisa masuk ke alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mentari mulai menyembul dari peraduan, memancarkan cahaya menggantikan dinginnya udara malam dengan kehangatan.


Pagi-pagi sekali, Paman Indra tengah menerima telepon dari Leon. Pria paruh baya itu selalu siap siaga jam berapa pun.


“Pagi, Paman. Hari ini aku akan membawa pulang tamu VIP. Persiapkan semua untuk penyambutannya,” perintah Leon di balik telepon.


“Oh, baik, tuan muda. Apakah saya harus menyuruh nyonya muda untuk bersiap juga?” tanya Paman Indra.


“Tidak! Tidak perlu,” tegas Leon lalu mematikan sambungan telepon. Leon memang tidak ingin memberi tahu Khansa lebih dulu.


Paman Indra berdecak, saat tuan mudanya itu seenaknya sendiri mematikan telepon. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Paman Indra segera mengumpulkan beberapa pelayan untuk memberikan instruksi, membersihkan seluruh ruangan. Tepat saat Khansa keluar dari kamarnya. Khansa dapat mendengar jelas dengan perintah Paman Indra pada para bawahannya.


“Pagi semua. Saya hanya ingin memberi tahu, bahwa nanti tuan muda akan pulang membawa tamu VIP. Para koki, silahkan siapkan menu makanan terbaik. Terus sisanya bersihkan seluruh ruangan ini sampai sebersih-bersihnya. Jangan sampai ada debu yang tercecer satu titik pun. Mengerti semua?” perintah Paman Indra dengan tegas membagi tugas.


“Siapkan juga kamar tamu, berjaga-jaga kalau tamunya menginap. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun! Atau kalian akan tanggung akibatnya!” Paman Indra berucap dengan tegas menajamkan pandangannya pada satu per satu bawahannya.

__ADS_1


“Baik, Tuan!” sahut semua pelayan secara serentak.


“Mulai kerjakan sekarang juga!” tambah Paman Indra.


“Siap, Tuan!” jawab mereka serentak lalu segera membubarkan diri mengerjakan job description masing-masing. 


Saat Paman Indra berbalik, ia terkejut karena nyonya mudanya berdiri di belakangnya bersandar pada dinding depan kamarnya.


“Selamat pagi, nyonya muda,” sapa Paman Indra membungkukkan tubuhnya.


“Pagi juga, Paman. Sepertinya hari ini merupakan hari yang sangat sibuk, Paman,” balas Khansa mengangguk.


“Eee ....” Paman Indra nampak kebingungan. Karena ia takut jika memberi tahu pada nyonya mudanya, maka Leon akan marah. Tapi di sisi lain, ia tak bisa menyembunyikan apa pun dari Khansa.


“Bicara saja, Paman. Apakah akan ada tamu spesial?” tutur Khansa menebak.


“Begitulah, Nyonya. Saya permisi dulu, karena masih banyak pekerjaan. Selamat pagi, nyonya muda,” sahut Paman Indra membungkuk lalu melenggang pergi untuk menghindari pertanyaan lebih jauh dari Khansa.


Khansa mengerutkan bibirnya di balik cadar, tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Membayangkan betapa spesialnya tamu tersebut, sampai-sampi seluruh pelayan di rumah dikerahkan sampai seperti itu.


Tak ingin berlarut-larut dalam pikirannya, Khansa segera mandi. Ia cukup lama berdiam di dalam kamar, debaran jantungnya sedari tadi masih tak terkendali. Khansa sedikit berdandan dan mengenakan pakaian yang cukup bagus. Entah kenapa dia ingin melakukannya.


Hingga beberapa jam kemudian, mobil mewah model panjang berhenti di halaman, Leon dan seorang wanita turun dari mobil. Khansa kebetulan sudah keluar dari kamarnya. Ia terpaku di tempat saat melihat Leon bersama dengan seorang wanita. Kedua kakinya melemas, jantungnya serasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya, karena tidak menyangka Leon akan membawa seorang wanita pulang.


Bersambung~


 


Duuh habis. dalam hati pasti mengumpat. sialan digantung lagi harus nunggu lagi 😂 ya sama kalo gitu. wkwkwk.


Boleh krisan jika ada something yang janggal. manusia kan tempatnya khilaf dan lupa tak terkecuali author, walaupun author maha benar😂. tapi jan pake bahasa yang anuu ... bikin down ya. big thanks and big hug 💞💞


sampai jumpa di next part, hrus nunggu titah editor duluu🌶😘😘 sabar yaa biar makin jembar 😂


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2