Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 179. Wanita Kuat


__ADS_3

"Ceklek!"


Pintu kamar Leon terbuka dengan kasar, nenek Sebastian melangkah dengan tergesa menghampiri cucunya. Khansa menaikkan kembali kepalanya yang sedari tadi bersandar pada kening Leon.


"Nenek," sapa Khansa lirih menyeka air matanya, berusaha agar selalu terlihat tegar.


Nenek menjulurkan kedua tangan pada bahu Khansa, memutar gadis itu agar berhadapan dengannya. "Apa nenek tidak salah dengar?"


Kening Khansa mengernyit kala mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut sang nenek. Mencoba berpikir apa yang dimaksud oleh wanita baya itu. Apalagi sorot mata nenek terpancar penuh harap.


"Maksud nenek apa ya? Sasa nggak ngerti, Nek," sahut Khansa tersenyum canggung. Masih terlihat jelas kedua manik indahnya memerah dan terdapat sisa-sisa air mata.


Nenek mengintip pada wajah Leon, pria berparas tampan itu terlihat begitu pulas dan tidak merasa terganggu dengan percakapan mereka. "Apakah kamu hamil, Sa? Nenek akan segera menimang cicit?" serunya berbinar.


Khansa menganggukkan kepala, sepasang bola mata nenek membelalak dengan lebar, mulutnya pun menganga. Kebahagiaannya membuncah hingga mampu menutupi kesedihan yang tengah menimpa Leon.


"Puji Tuhan! Akhirnya, doa nenek terkabul." Nenek langsung menarik tubuh Khansa ke dalam dekapannya, memeluk dengan begitu erat. Kemudian melonggarkannya, mencium kening dan kedua pipi Khansa, lalu kembali memeluk cucu menantunya dengan sangat erat.


Setidaknya kebahagiaan nenek mampu mengobati sedikit kecewa di hatinya. Bukan kecewa terhadap Leon, tapi kecewa dengan keadaan yang membuat Leon kembali memunculkan traumanya.


Nenek membingkai wajah mungil Khansa, menatapnya dengan raut penuh syukur dan bahagia, "Semoga Tuhan selalu menjaga kalian berdua, Sayang," doa nenek tulus mengalir dari hatinya.


Khansa mengangguk beberapa kali, tak sengaja air matanya kembali menetes. Terharu dengan sambutan nenek yang begitu antusias dan bahagia. Setidaknya dia memiliki support dari orang-orang di sekelilingnya.


"Terima kasih, Nek," ucap Khansa mengurai senyum lebar.


"Kalau begitu nenek akan meminta para koki agar selalu menyiapkan makanan yang sehat dan bergizi! Nenek juga akan membuatkan minuman rempah yang bagus untuk mengurangi mual, kamu mual muntah nggak, Sa? Atau pusing? Atau ada gejala lainnya?" cecar nenek penuh perhatian.


Khansa menggenggam kedua tangan nenek, "Nek, nggak usah repot-repot. Sasa mual setiap mencium asap nasi. Tadi udah dibeliin Emily susu sama buah-buahan kok," sahut Khansa yang sebenarnya takut merepotkan.


"Baiklah, nenek buatkan minuman rempahnya. Bagus untuk kekebalan tubuh kamu sama cicit nenek," ujar nenek bersemangat sembari mengusap perut Khansa dengan lembut.


Nenek lalu melenggang pergi meninggalkan pasangan suami istri itu. Khansa beranjak berdiri, ia mengambil air hangat dari sower kamar mandi juga handuk kecil untuk membilas tubuh Leon.


Khansa membuka kancing kemeja Leon satu per satu dan berusaha melepaskan kain yang melekat sejak pagi pada tubuh Leon. Perlahan ia menyapu lembut wajah tampan sang suami dengan washlap di tangannya. Lalu beralih ke leher turun ke perut sixpacknya.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah," ucapnya menusukkan sebuah jarum perak di pelipis Leon, agar tidurnya semakin berkualitas, juga mengendurkan beberapa syarafnya yang masih menegang.

__ADS_1


Leon sama sekali tak terganggu saat Khansa membalikkan tubuhnya, membersihkan punggung dan kedua lengan, lalu memakaikan piyama berlengan pendek. Sedikit kepayahan, namun ia berusaha keras hingga berhasil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa pelayan telah selesai membersihkan kekacauan akibat ulah Leon. Khansa masih setia berada di sampingnya. Tak berapa lama, nenek kembali bersama pelayan membawakan banyak makanan sehat, susu, juga minuman rempah sesuai resep nenek.


"Sa, kamu nggak boleh kecapekan ya. Jangan banyak pikiran juga. Habiskan minuman dan makanannya. Kalau butuh apa-apa, panggil saja pelayan." Nenek menghampiri merengkuh bahu Khansa dari belakang, mengusapnya dengan perlahan.


"Iya, Nek. Terima kasih banyak perhatiannya," sambut Khansa dengan senyum terurai lembut.


"Iya, Sayang. Apa kamu tahu sesuatu tentang Leon?" cetus nenek yang pandangannya beralih pada pria yang terbaring di hadapannya.


Khansa mendongak, pandangannya bersirobok dengan manik sayu milik wanita tua itu. Sepersekian detik, lalu kembali memutar tubuhnya menghadap Leon. Membelai puncak kepalanya dengan perlahan.


"Sasa enggak punya hak untuk menyampaikannya, Nek. Sasa harus meminta izin dulu sama Leon. Puluhan tahun dia memendamnya sendiri. Pasti sakit banget. Inilah salah satu alasan kenapa dia bisa mengalami insomnia parah," jelas Khansa.


Nenek semakin penasaran, tapi dia juga tidak mau mendesak Khansa. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Sa?"


"Nggak ada, Nek. Selain menjadi pendengarnya dengan baik, memberi dukungan sosial dan membangun kepercayaan juga rasa aman untuk Leon. Kalau bisa kita jangan membahas anak dulu di depan Leon ya, Nek," papar Khansa menatap Leon lekat-lekat.


Nenek benar-benar bersyukur karena memiliki Khansa. Jika saja wanita lain yang mendampingi Leon, pasti sudah pergi meninggalkannya setelah melihat kondisi Leon seperti itu. Tapi Khansa justru berjuang untuk membuat Leon sembuh.


Khansa meneguk minuman hangat yang dibuatkan nenek. Setelahnya memilih naik ke atas ranjang. Ia menelusupkan dirinya pada sang suami. Memeluk erat tubuh pria itu, seolah tidak ada lagi hari esok. "Semangat, Sayang! Semangat!" Kepalanya mendongak, lalu memberi ciuman di pipi Leon.


Lama kelamaan, matanya terasa berat. Lelah yang mendera membuatnya tertidur dengan cepat. Menyandarkan kepala pada dada Leon seperti biasanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi-pagi sekali Leon mengerjapkan mata. Ia merasakan berat pada lengan kanannya. Satu tangannya terangkat untuk menekan pangkal hidungnya, karena pusing yang masih mendera.


Ia lalu menoleh, menatap nanar istri kesayangannya. Matanya kembali tertutup, menghela napas panjang menghilangkan berbagai pikiran buruk yang mulai bermunculan. Ia marah, marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan emosionalnya. Rasa sakit itu terus bermunculan.


Perlahan dan sangat hati-hati, Leon melepaskan diri dari Khansa. Meninggalkannya dalam tidur lelapnya. Leon bergegas membersihkan diri dan bersiap ke kantor.


Tanpa menyapa, tanpa berpamitan, Leon melenggang pergi begitu saja. Ia tidak mau kembali bereaksi seperti semalam, ia sangat takut menyakiti Khansa. Wanita yang selalu ia jaga bagai menjaga berlian dalam gelas kaca. Tidak mungkin dirinya pula yang akan menghancurkannya.


Hal itu berlangsung selama beberapa hari. Leon selalu menghindar bahkan sama sekali tidak mau berbicara. Namun Khansa masih tetap dalam kesabarannya. Setiap hari ia selalu menyiapkan obat yang harus dikonsumsi oleh Leon. Tak lupa ia juga memberikan kalimat motivasi dan semangat melalui secarik kertas.

__ADS_1


"Selamat pagi suamiku, minum obatnya ya. Semangat, Sayang. I love you!"


"Minum obat dulu ya, Sayang. Selamat beristirahat, semoga bisa menyambut esok dengan keajaiban. Aku merindukanmu. I love you!"


Kertas warna warni bertuliskan kalimat itu selalu terselip di bawah obat yang disiapkan untuk Leon. Pagi maupun ketika malam menjelang tidur. Seulas senyum tersungging di bibir pria itu. Dadanya berdebar saat membacanya, sudah tiga hari mereka tidak saling berkomunikasi. Namun Khansa selalu memberikan cintanya setiap waktu.


Dokter Yuda masih datang setiap hari melakukan psikoterapi dan konseling. Dokter mengatakan, jika keadaan sudah membaik ia akan datang sesekali saja.


Sebelum terlelap, Khansa selalu menusukkan jarum akupuntur untuk merilekskan syaraf-syaraf Leon, lalu memeluknya erat ketika Leon sudah jauh di alam mimpinya. Memberikan support system untuk tubuhnya. Dan perempuan itu akan terbangun jauh sebelum Leon membuka mata.


Seolah mengerti dengan kondisi sang ibu, Khansa tidak mengalami gejala apapun selama beberapa hari ini. Meski masih menjauhi nasi dan meja makan, namun setidaknya rasa mual sudah berkurang.


"Nenek, Sasa izin ke rumah sakit ya. Bibi Fida hari ini sudah boleh pulang," pamit Khansa menghampiri meja makan.


"Oh, syukurlah. Biar diantar sama Indra ya!"


"Ah tidak usah, Nek. Sopir Sasa sudah menunggu di luar. Nanti Sasa antar Bibi Fida ke rumah dulu. Mungkin akan kembali sore hari, Nek," sergah Khansa.


Leon yang juga sedang menikmati sarapan, menghentikan aktivitasnya. Ia mencuri pandang pada wanita cantik yang kini tubuh rampingnya berbalut gaun putih selutut, berlengan panjang. Hatinya berdenyut nyeri karena masih belum mampu menjamah istrinya, ia akan selalu teringat dengan janin yang sedang dikandung oleh wanita itu. Yang berakibat emosinya kembali membuncah.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya, Sayang. Ingat, jangan sampai kelelahan! Vitamin, susu dan minuman herbal dari nenek sudah diminum?" pesan sang nenek penuh perhatian.


Leon merasa tersentil, seharusnya dirinya yang melakukan hal itu, bukan nenek atau orang lain. Tangannya mencengkeram kuat sendok dalam genggaman.


"Iya, Nek, sudah semuanya kok," balas Khansa tersenyum ceria seolah tidak terjadi apa-apa. Betapa kuatnya wanita itu. Ia meraih tangan sang nenek, sedikit membungkuk dan menciumnya.


Saat kembali menegakkan tubuh, manik indahnya saling bersitatap dengan mata elang Leon. Darahnya berdesir sangat kuat. Debaran jantungnya juga kian meningkat. Kedua kakinya terasa lemas, beberapa hari yang cukup sulit baginya. Karena hanya berkomunikasi melalui sorot mata masing-masing. Terlihat jelas pancaran cinta dan kerinduan teramat dalam.


"Leon, aku pergi dulu."


Pria itu tersadar dari lamunannya, Khansa sudah berdiri di sampingnya. Tangannya menjulur meraih punggung tangan Leon dan menciumnya. Tubuh pria itu membeku, tenggorokannya tidak mampu mengeluarkan suara. Khansa tersenyum lalu melenggang pergi.


Leon mengikuti setiap gerakan Khansa melalui manik matanya. Ia terus menatap hingga punggung Khansa menghilang dari pandangannya.


Bersambung~


__ADS_1


Untuk Hanly sepertinya aku lanjutin nanti ya Bestie, setelah SaLe tamat. 💜


Thankyou for support like coment gift and vote... Love you all... always sekebon cabe 😂😂😘


__ADS_2