Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 6 : Gugup dan Panik


__ADS_3

"Emily Kurniawan?" gumam Agnes masih dalam keterkejutannya.


Mengabaikan Jennifer yang masih melompat penuh kebahagiaan bertubi-tubi. Selain kakaknya bisa terlepas dari perempuan yang dianggapnya caper, ia akan mempunyai kakak ipar yang merupakan artis idolanya.


"Tunggu, Jen! Kita harus menelusuri seluk beluk, bibit, bebet dan bobotnya dulu!" Agnes menyentuh lengan Jennifer yang asyik menari-nari meluapkan kebahagiaannya.


Gerakannya terhenti, ia menoleh pada wanita yang telah melahirkannya itu. "Ibu, apalagi yang mau ditelusuri sih? Sudah jelas-jelas Kak Emily ini bukan orang biasa. Public figure terkenal se Indonesia loh. Hubungan mereka bahkan didukung hampir seluruh warga negara ini. Ibu mau menentang mereka semua?" tantang Jen mengangkat kedua alisnya.


"Hei! Ini urusan keluarga. Ngapain bawa-bawa orang lain. Ibu nggak peduli akan menentang 270 juta jiwa di negara ini. Lagi pula, artis itu nggak selamanya di atas, Jen. Beda dengan yang punya talent dalam usaha, kehidupannya terjamin bahkan sampai anak cucunya!" tegas Agnes masih kekeuh dengan pendiriannya.


Jennifer menghela napas panjang. Ia berusaha agar tidak mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar pada ibunya itu. "Bu, kenapa sih yang ada di pikiran ibu itu nggak jauh-jauh dari harta? Itu tanggung jawab seorang suami yang menjamin kehidupan keluarganya. Lagipula cinta itu nggak bisa dipaksa, Bu!"


"Kalau ada yang bisa bergerak dalam usaha yang sama, kenapa tidak? Bagus dong, akan semakin maju perusahaan!" cetus Agnes lalu melenggang pergi dari kamar putrinya itu.


"Aaaaiissxfxfxfxx!!" pekik Jen, menendang pintu dengan kakinya hingga tertutup sangat keras, bahkan dindingnya sampai bergetar.


"JEN!!" teriak ibunya dari luar pintu.


Jennifer tidak peduli, berjalan menendang-nendang udara sambil menggerakkan bibirnya, menirukan ibunya yang mengomel tanpa mengeluarkan suara. Lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


Jen mencoba menghubungi Hansen, namun hanya nada sambung yang terdengar. Ia melirik jam di sudut ponselnya. "Aihh! Pasti masih sibuk. Kak Emily juga kok nggak bales DM-ku ya," gumamnya membuka tutup aplikasi instagramnya.


...🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥...


Sementara itu, di salon Emily masih menikmati serangkaian treatment di seluruh tubuhnya. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ponselnya diletakkan dalam hand bag dan mematikan semua notifikasi.


Emily sama sekali belum mengetahui kabar yang tengah meledak di media sosial, semua orang kini membicarakannya. Untung saja, Hansen memilih tempat yang sangat privasi, tidak berbaur dengan pengunjung lainnya.


Tak berapa lama Bara sampai di salon tersebut sesuai dengan petunjuk Hansen. Ia pun mengenakan topi, masker dan kaca mata hitam. Tidak mau dikejar-kejar fans Emily.


"Baby!" panggil Bara menerobos masuk ke ruangan Emily.


"Lu ngapain, kaya buronan aja pake item-item gitu?" sahut Emily menatapnya dari pantulan kaca.


"Aiih, kamu belum tahu ya? Keknya kita butuh pengawal nih. Aku hubungin Ayang Mario deh buat kasih kita pengawal!" Bara mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Emily.

__ADS_1


Gadis itu menautkan alisnya. Karena pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban. Rasa penasaran mulai melingkupi hatinya. "Kenapa sih, Barbara yang cakepnya ngalahin ratu keabadian? Please deh jangan bikin aku gemes pengen gigit!" gerutu Emily melirik dengan ekor matanya.


Bara hanya tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya, Emily pun geram, jika saja tidak sedang menjalani treatment, sudah habis lelaki gemulai yang tengah memainkan ponselnya itu. Ia segera menghubungi Security Sebastian Group (SSG) untuk meminta pengawalan.


Tak butuh waktu lama, beberapa orang berseragam rapi serba hitam pun segera meluncur ke tempat Emily saat ini. Mereka membentuk barisan pertahanan di depan klinik kecantikan tiga lantai di pusat kota itu.


Beberapa jam kemudian ....


Emily sudah selesai dengan perawatannya. Seluruh tubuhnya tampak fresh dan berkilau. Ia segera beralih pada Bara yang masih setia menunggunya. Pembayaran sudah diselesaikan oleh Hansen sebelum ia pergi tadi.


"Sudah? Sekarang kita cari gaun dulu," ajak Bara meraih tangan Emily dan menariknya.


"Eh, jelasin dulu napa!" gerutu Emily mengikuti langkah panjang Bara.


"Nanti aja di mobil. Buka HP kamu!" seru Bara berjalan sembari menyibak jambulnya.


"Ck! Ngeselin nih orang!" decaknya kesal menepuk bahu Bara dengan hand bag nya.


Bara cuek saja, beberapa orang sudah berjaga di mobilnya. Benar saja perkiraan Bara, baru keluar dari klinik itu mereka langsung diserbu para fans yang kebetulan lewat. Mereka menjerit-jerit meneriakkan nama Emily dan Hansen. Pengawal sigap melindungi Emily sampai masuk ke dalam mobil. Gadis itu semakin kebingungan.


"Aduh, apa ini!" gumamnya merasa panas dingin di tubuhnya. Emily mendadak pusing, berita ini terlalu membuatnya syok. Ia pun meletakkan ponselnya lagi ke dalam tas.


"Bar, nggak usah ke mall deh. Pulang aja!" pinta Emily.


"Kamu baik-baik saja, Beib?" tanya Bara menatapnya dari spion. "Kulkas gantengmu yang minta dipublish," lanjutnya lagi.


"Ya, nggak apa-apa sih. Aku cuma masih syok aja. Aduh, Bar deg-deg an banget nih mau ketemu calon mertua. Kok jadi nervous gini ya," gumam Emily menopang dagu sembari menggerakkan jemari lentik di pipinya.


"Tenang, Baby. Aku di depanmu!"


Emily menghempaskan punggungnya ke sandaran mobil. Waktu yang berjalan, terasa begitu cepat bagi Emily. Dan itu membuatnya semakin gugup. Apalagi ditambah kabar yang saat ini menggemparkan jagat dunia maya.


...💖💖💖💖💖💖💖💖💖...


"Ma, Emily berangkat ya!" ucap Emily menuruni tangga.

__ADS_1


Penampilannya begitu memukau. Gaun malam berwarna putih yang elegan kini membalut tubuh rampingnya. Make up soft dan rambut diikat separuh, dengan sedikit poni yang menjuntai di sisi kiri dan kanannya, semakin membuat gadis itu terlihat cantik alami.


Monica yang sedang membaca majalah kini munutupnya. Pandangannya fokus pada putrinya yang sedang berjalan ke arahnya.


"Loh, Hansen sudah jemput? Kok nggak masuk?" tanya Monica.


"Enggak, Ma. Aku diantar Barbara. Hansen masih ada urusan. Kalau ke sini dulu kejauhan, Ma. Takutnya kemalaman, katanya ketemu di rumah aja," sahut Emily duduk di sebelah Monica.


"Waduh, kalau kalian nggak barengan gimana sampainya?" Sang ibu pun nampak khawatir.


"Jangan nakutin dong, Ma!" rengek Emily dengan manja.


Wanita paruh baya itu pun mengangguk. Ia membelai wajah anak gadisnya dengan penuh kasih sayang. "Baiklah, semoga lancar ya, Sayang!" ucapnya.


"Iya, Ma. Berangkat, ya." Emily mencium kedua pipi mamanya lalu beranjak berdiri.


Sedangkan Bara sudah bersiap di depan berbincang dengan beberapa pengawal. Melihat Emily sudah keluar, ia segera membukakan pintu mobil. Emily mengembuskan napasnya berulang kali.


"Bar! Gue kok panik gini sih. Aduh, kenapa Hansen harus ke luar kota sih!" gerutunya saat sudah duduk di mobil.


Bara hanya mengatupkan bibirnya, ia takut salah bicara yang akan membuat gadis itu semakin panik. Sepanjang jalan, Emily terus bergumam dan berusaha mengatur debaran dadanya. Mobil pengawal pun turut mengikutinya.


Saat melewati pintu gerbang sebuah rumah yang cukup megah, Emily mengedarkan pandangan mencari keberadaan mobil Hansen. Raut wajahnya nampak kecewa saat tidak menemukannya.


"Bar! Hansen belum sampai nih kayaknya! Aduh gimana dong! Gue takut, Bar. Pulang aja yuk!" cerocos Emily.


"Balik gimana? Tuh udah disambut!" ucap Bara menghentikan mobilnya, lalu menunjuk ke arah teras dengan dagunya.


Emily memejamkan matanya kuat-kuat. Lalu membuka air mineral yang selalu tersedia di mobil tersebut. Diteguknya air mineral itu hingga habis setengah. Ternyata tidak cukup menghilangkan kegugupannya.


"Ayo!" ucap Bara yang ternyata sudah membukakan pintu untuknya.


Emily menarik napas panjang, mengisi banyak oksigen di paru-parunya. Lalu mengembuskannya dengan sedikit kasar. Membenarkan sedikit penampilannya, kemudian keluar dari mobil dengan menyambut uluran tangan Bara. Ia cukup kesulitan dengan heels setinggi 7 cm yang melekat di kakinya.


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2