
"Mmm ...." Leon memutar tubuhnya agar berhadapan dengan wanita kesayangannya. Matanya menatap lekat calon ibu dari anaknya itu. Bagaimana mungkin dirinya tega mengelak keinginan sederhana sang istri.
"Tidak! Perketat saja penjagaan. Tapi jangan terlalu mencolok. Terus pantau keberadaan kami," titah Leon yang suaranya mengudara sampai ke telinga Gerry.
Asisten kepercayaannya itu selain menghandel pekerjaannya, juga ditugaskan untuk bertanggung jawab mengamati pergerakan musuh dibantu dengan jajaran staff handal pilihan.
"Baik! Tetap hati-hati, Tuan!" pesan Gerry.
Leon pun mematikan sambungan komunikasi. Dia kembali menghampiri Khansa, dan merengkuh bahunya. "Biar diurus sama mereka, kamu jangan kecapekan," ajak Leon menatap Khansa mendongak ke arahnya. Mata indah itu mengerjap lembut lalu mengangguk.
"Bawa dia! Sebagian tetap tinggal untuk berjaga." Leon memerintah dengan tegas.
Maharani masih syok, dia berusaha meredam ketakutannya sendiri. Dia tidak berani menatap ke arah Leon maupun Khansa. Tubuhnya terasa lunglai tak berdaya. Sampai akhirnya dia pun pasrah ketika harus kembali diangkut ke dalam mobil pengawal dan membawanya ke kantor polisi.
Leon dan Khansa bergegas menuju mobil yang akan mengantarnya ke resort. Hanya butuh beberapa menit saja, karena jarak mereka sudah cukup dekat. Pandangan Leon menyebar ke seluruh penjuru. Dalam diamnya, ia memasang mata waspada.
"Leon kamu kenapa?" tanya Khansa menyentuh lengan suaminya. Ia menemukan gelagat aneh dari pria itu.
Leon menoleh, ia menatap dalam kedua manik indah Khansa sambil mengembuskan napas berat. Satu tangannya menepuk puncak kepala Khansa dengan perlahan. "Sa, berjanjilah satu hal." Kedua tangan Leon beralih menggenggam jemari Khansa.
"Jangan minta hal aneh-aneh!" Perempuan itu memicingkan matanya, kedua alis saling bertaut. Sorot mata Leon yang biasanya setajam elang tiba-tiba berubah sayu. Debaran jantung Khansa mendadak berubah cepat. Kekhawatiran memancar dari sorot matanya.
Kegelisahan menyelimuti hati Leon sedari tadi. Ia tidak bisa selamanya menghindar dan bersembunyi. Leon tidak ingin selamanya hidup dalam sangkar, apalagi sebentar lagi keluarga kecilnya lengkap dengan hadirnya Leon junior. Dia bertekad akan menggerus bayang-bayang masa lalunya. Tidak peduli apapun yang akan terjadi nanti, yang terpenting kelak anak dan istrinya hidup dengan tenang.
Leon mengembuskan napas berat, "Jaga diri kamu dan anak kita dengan baik. Aku yakin dia akan tumbuh menjadi anak yang hebat dan kuat seperti kamu," ucapnya mencium punggung tangan Khansa sangat lama. Kedua matanya terpejam, seolah menyerahkan tanggung jawab besar pada kedua tangan Khansa.
"Kita akan membesarkannya bersama, Leon! Kamu ayahnya!" Khansa menaikkan nada suaranya. Dadanya bergemuruh hebat. Tangannya mencengkeram kuat jemari panjang Leon.
Mario ikut tersentak mendengar istri tuannya berbicara dengan nada tinggi. Karena setahu dia, selama ini Khansa selalu bertutur lembut. Namun ia kembali fokus pada jalan yang berkelok dan turunan di depannya. Mencoba menutup telinga saat kedua pasangan itu bersitegang.
"Tidak ada yang tahu bagaimana takdir kita satu menit ke depan, Sayang. Sekalipun aku tidak di sampingmu, ingatlah jika aku selalu berada di hatimu." Leon menunjuk dada Khansa.
"Jangan bicara sembarangan! Kamu tidak akan ke mana-mana. Kita akan terus bersama-sama apa pun yang akan terjadi nanti!" teriak Khansa yang suaranya mulai bergetar.
Ia memukul-mukul dada Leon dengan kepalan tangannya. Tubuhnya gemetar dengan mata yang mulai berlapis cairan bening. Berbagai pikiran buruk bersarang di benaknya. Tidak! Dia tidak siap.
Leon tersenyum tipis, merengkuh tubuh mungil sang istri ke dalam pelukannya. Bibirnya mengatup rapat, membiarkan wanita hamil itu menumpahkan segala amarahnya. Tangannya membelai rambut panjang Khansa dengan lembut dan teratur.
"Tenanglah, kasihan dia kalau ibunya menangis terus," ucap Leon setelah beberapa saat sembari mengusap lembut perut Khansa.
"Kan ulah ayahnya!" cebik Khansa yang mulai serak.
Leon memundurkan tubuhnya, menangkup pipi Khansa dan menengadahkannya. Kedua ibu jari menyeka air mata yang menganak sungai di kedua pipinya. "Lupakan! Anggap aku tidak pernah mengatakannya." Ia merebahkan keningnya di atas kepala Khansa, lalu beralih menciumnya dengan sangat lama.
"Gimana mau lupa! Ucapanmu benar-benar mengiris hatiku!"
__ADS_1
"Kamu berlebihan!" sindir Leon mencubit ujung hidung Khansa yang lancip itu.
Tak terasa, mobil sudah berhenti di depan sebuah villa tunggal yang berukuran minimalis namun bangunan exteriornya sangat indah dan elegant. Mario tidak ingin merusak suasana, dia tetap diam sambil menatap lurus ke depan.
"Saatnya baby moon!" seru Khansa menarik kedua sudut bibirnya, saat menyadari mereka telah sampai. Ia sedikit mendorong dada bidang Leon. Khansa mencoba menekan perasaan khawatirnya dan menepis semua pikiran buruk. Mengingat saat ini ia sedang mengandung.
Leon memutar bola matanya, satu alisnya terangkat nampak sedang berpikir keras. "Baby moon? Apa itu?"
"Quality time untuk kita sebelum menyandang gelar orang tua secara resmi," jelas Khansa bersiap untuk turun. "Udah nggak usah dipikirin. Intinya liburan!" lanjutnya terkekeh.
Mario bergegas membukakan pintu untuk nyonya nya itu. Tubuhnya sedikit membungkuk yang dibalas Khansa dengan ucapan terima kasih. Mario berlari ke seberang, membukakan pintu untuk Leon. Namun pria tinggi kekar itu tertegun, tuannya sudah keluar berdiri gagah merapikan kemejanya.
"Tidak apa! Selalu prioritaskan Khansa, jaga dengan baik! Atau kupenggal kepalamu!" bisik Leon menepuk bahu keras Mario, melangkah tegas menyusul Khansa. Pria itu tercengang sedikit bergidik lalu membungkukkan tubuhnya sampai langkah Leon semakin jauh.
Kedatangan Khansa dan Leon disambut baik oleh para staff yang bekerja di gedung tersebut. Rona bahagia menguar dari raut wajah Khansa saat melenggang masuk. Tujuan utamanya adalah kamar yang terletak di lantai dua.
Ruangan yang tidak terlalu luas namun interior yang nyaman dan terasa sejuk. Langkahnya beralih menuju balkon. Kedua tangannya mencengkeram trallis besi yang ada di tepian balkon sembari memejamkan mata.
Angin yang mengantar udara sejuk, menerpa kulit mulus Khansa, melambaikan rambut juga gaun yang saat ini dikenakannya. Leon yang berjalan santai kini merapatkan tubuhnya, menempelkan dada pada punggung Khansa dan melingkarkan lengan kokohnya pada perut wanita itu.
"Kamu suka?" bisik Leon menopangkan dagu di bahu Khansa.
"Ya, di sini sangat asri. Juga, membuatku sangat bersyukur mengingat bagaimana merangkaknya hidupku dulu. Coba deh, tarik napas panjang, embuskan perlahan bersamaan dengan semua beban yang ada di dadamu, Leon. Lakukan berulang-ulang," sahut Khansa melakukan apa yang dia ucapkan. Membuang jauh pikiran buruknya.
Tangan Leon bergerak membuka cadar Khansa, lalu menarik pinggangnya hingga tubuhnya saling berhadapan tanpa jarak. Tatapannya jatuh pada bibir merah Khansa yang selalu memabukkan.
Seperti mengandung magnet yang kuat, Leon langsung tertarik untuk memagut bibir itu, menyesapnya dengan lembut namun intens. Khansa menyambutnya dengan suka cita. Tanpa melepas tautan bibirnya, Leon bergerak maju menuntun Khansa masuk ke kamar.
Khansa mundur dengan hati-hati. Ia memasrahkan langkahnya pada lelaki yang sangat dicintainya itu. Tangannya mencengkeram kuat kedua sisi kemeja Leon. Hingga kakinya membentur ranjang, Leon menjatuhkan tubuhnya dengan perlahan. Hampir menindih kalau saja lengannya tidak sigap menopang tubuhnya sendiri.
Sentuhan demi sentuhan yang dilancarkan oleh Leon membuat Khansa menggeliat. Tubuhnya seketika memanas, apalagi Leon. Setiap berdekatan dengan istrinya, senjata tempurnya selalu langsung dalam siaga satu. Bersiap untuk mengobrak-abrik kepemilikan istrinya.
Setelah pemanasan cukup lama, pakaian keduanya pun mulai berhamburan di lantai. Leon bersiap mengarahkan miliknya untuk menembus kenikmatan.
"Leon, pelan-pelan!" lirih Khansa yang napasnya memburu.
"Iya, Sayang!" jawab Leon dengan suara beratnya.
Khansa melenguh panjang saat Leon berhasil memasukinya, berhenti sejenak sembari menggeram saat merasakan cengkeraman kuat dari sang istri. Ia beralih mencium bibir Khansa, lalu mulai bergerak perlahan.
Seperti biasa, Khansa akan selalu mencubit atau menampol tubuh Leon ketika pria itu hampir hilang kendali. Semua yang ada di tubuh Khansa begitu istimewa baginya.
Senja di sebuah desa yang terasa begitu panas bagi pasangan suami istri itu. Padahal udara yang mulai dingin menerobos melalui pintu balkon yang masih terbuka lebar. Namun tetap saja tak mampu menghapus keringat keduanya. D*sahan dan l*nguhan memenuhi seisi kamar tersebut. Menggapai kenikmatan tiada tara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Malam mulai merangkak, Khansa yang merasakan sekujur tubuhnya melemas enggan bangkit dari kasur itu. Seluruh tulangnya seolah terlepas. Usai membersihkan diri ia langsung bergelung di bawah selimut tebal dan enggan untuk beranjak.
"Sayang! Mau makan di sini apa keluar aja?" tanya Leon menjatuhkan tubuhnya di samping Khansa. Mendekatkan bibirnya di telinga Khansa.
"Enggak mau. Aku capek," keluhnya yang mulai mengantuk. Padahal belum terlalu larut.
"Yaudah, suruh antar ke sini aja. Mau nasi?" tawar Leon membelai puncak kepala wanita itu.
"Enggak ah. Aku capek Leon, mau tidur aja!" elak Khansa bergerak membelakangi suaminya.
"Hei, makan dulu. Belum minum vitamin juga!" paksa Leon menggoyang bahu Khansa.
Namun wanita itu tetap bergeming, justru menaikkan selimutnya hingga ujung kepala. Leon mendesah pasrah. Ia lalu beralih menuju balkon, menikmati malam dalam kesendirian sembari mengepulkan asap rokok favoritnya.
Entah sudah berapa batang rokok yang ia habiskan. Menyisakan puntung dan asap di asbak yang terletak di meja. Ia juga selalu berkomunikasi dengan para anak buahnya.
"Tuan!" Terdengar suara Mario dari sambungan alat komunikasi yang menempel di telinganya ketika malam semakin larut.
"Ya!" balas Leon singkat.
"Tuan Tiger menuju ke bar yang ada di ujung tempat ini!" lapor kepala pengawal itu.
"Oke! Jaga Khansa dari luar villa!" pesan Leon mematikan rokok terakhirnya lalu beranjak dari kursi, kembali ke kamar.
"Baik, Tuan!" sahut Mario patuh.
Leon mengambil hoodie berwarna hitam dan mengenakannya. Ia merunduk di tepi ranjang, membelai kepala Khansa dan menciumnya cukup lama. "Aku keluar sebentar," ucapnya lirih.
Dengan berat kakinya melangkah keluar dari villa itu, meninggalkan Khansa seorang diri namun dengan penjagaan ketat di luar villa.
Bersambung~
Bestieee... seminggu ke depan aku ada acara dadakan. Kalau gak up berarti gak sempet ngetik yaa.. duh padahal pen cepet kelarin, tapi gimana ya, real lifenya lagi membelit seluruh tubuhku...wkwkwk 🤣🤣
😅; sejak kapan jantungmu pindah ke kepala mas? 🤣
MasLe; Sialan! Ngajakin gelut mulu ni anak.
😌; Kalem mas kalem... suruh aja readers komen yg banyak, kali aja bisa memantik semangat begadang buat ngetik 😄
Sabar Bar, sabar .... rebahan aja dulu kamu. Kalo udah waktu take gw kabarin 😄
__ADS_1