Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 15 : Kakak?


__ADS_3

"Lelaki seperti dia tidak pantas mendampingi kamu!" berang Bara menghempaskan tubuh Hansen hingga terjatuh ke lantai.


Leon dan Frans membantunya berdiri, lalu memisahkan mereka berdua. Karena Hansen terlihat tidak terima dengan ucapan Bara.


"Kamu sama sekali nggak berhak, Bara!" geram Hansen ingin membalas pukulan Bara. Namun segera ditahan oleh Leon.


Bara masih tampak dikuasai amarahnya. Napasnya memburu dengan tatapan tajam dan mematikan. "Sini kamu! Nggak sudi aku Emily bersama laki-laki kaya kamu!" geram Bara memasang kuda-kuda dan hendak menyerang Hansen lagi.


Emily memaksa tubuh lemahnya turun dari ranjang. Khansa dengan sigap membantunya berdiri, gadis itu melangkah lalu memeluk punggung Bara. Melingkarkan lengan kurusnya pada perut sixpack Bara, menyandarkan kepala pada punggung kokoh pria itu. "Bar, udah, tenangin diri lo!" gumam Emily dengan suara lemahnya.


Bara memutar tubuhnya, menatap lekat Emily dan menaikkan dagu lancipnya hingga keduanya saling menatap lembut.


Hansen marah melihat kemesraan dua orang itu, kedua tangannya terkepal dengan kuat. Ia hendak menghampiri keduanya namun Jennifer segera menyentuh lengan Hansen dan menghentikan langkahnya.


"Jangan ganggu mereka dulu, Kak!" gumam Jennifer bersuara pelan.


"Apa maksud kamu, Jen?" elak Hansen tidak terima.

__ADS_1


"Tunggu, sabarlah sebentar. Jangan sela mereka berdua. Aku mohon," sergah Jennifer memeluk lengan Hansen yang dadanya sudah serasa ingin meledak.


"Mulai detik ini, aku akan menghabisi orang-orang yang menyakiti adikku, tidak peduli siapa pun mereka dan apa jabatan mereka. Bahkan aku bisa membunuh mereka dengan kedua tanganku. Aku akan melindungimu sampai embusan napas terakhirku, adikku!" jelas Bara dengan suara yang bergetar.


Sepasang manik cokelatnya nampak berkaca-kaca. Semua orang menautkan kedua alisnya mendengar pernyataan pria itu. Kecuali Khansa, Monica dan Jennifer yang memang sudah mengetahui faktanya.


Emily berdebar-debar mendengar penuturan Bara, matanya bergerak ke kiri dan kanan menyelami indahnya manik pria di hadapannya. "A ... adik?" gumamnya pelan.


"Iya, kamu adalah hello kitty nya Kakak," sahut Bara membelai puncak kepala Emily.


Air mata Emily mulai menyeruak, "Apa maksudnya?" Dia masih ingin memastikannya. Tubuhnya bergetar hebat, kedua tangannya mencengkeram kuat pakaian pasien yang dikenakan Bara.


"I ... ini aku?" tunjuk Emily pada fotonya. Ia mengingat dengan jelas wajah mungil dan menggemaskan itu, karena Monica sering mengabadikan foto-fotonya sejak kecil.


"Ya!" jawab Bara yang tenggorokannya tercekat.


"Ini, kakak? Apakah dia adalah ...." Emily menaikkan pandangannya.

__ADS_1


Air mata Bara mulai mengalir deras membasahi kedua pipinya. Pria itu mengangguk, "Iya, lelaki itu adalah aku, kakakmu," gumamnya pelan lalu tangisnya kembali pecah.


Tidak bisa berkata-kata lagi, Emily menangis histeris. Ia menubrukkan wajahnya pada dada bidang Bara. Menangis menjerit dalam pelukan pria itu. Keduanya saling berangkulan erat, melepas kerinduan.


"Kakak," panggil Emily di sela isak tangisnya.


"Iya, adikku!" sahut Bara menciumi puncak kepala Emily.


Sungguh, Emily tidak pernah menyangka, bahwa ia masih memiliki saudara sedarah. Orang yang selama ini selalu bersamanya, menjaganya dan menyayanginya dengan tulus ternyata adalah kakak kandungnya.


"Kakak!" panggil Emily sesenggukan, semakin mengeratkan pelukannya.


Bersambung~


Terharuuu 🥺🥺 Tap tapi... kalian kok mirip


__ADS_1



__ADS_2