Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 35 : Lebih Berhati-hati


__ADS_3

Leon melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata. Sepanjang jalan, Khansa meminta untuk membuka atapnya. Menikmati setiap alunan angin yang berembus dengan damai menelusup ke wajahnya.


"Sayang," panggil Khansa tanpa menoleh.


"Hmmm?" sahut Leon fokus dengan jalan.


"Kalau suatu saat nanti aku pergi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya nya masih membelakangi Leon, ia asyik menatap pepohonan rindang yang mereka lalui. Menikmati setiap pemandangan dan kesejukan yang tersaji.


DEG!


Leon menautkan kedua alisnya, jantungnya berdebar mendengar pertanyaan random istrinya. 'Apa lagi ini, astaga?' gumamnya dalam hati. Ia benar-benar menjaga setiap kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Tidak mau membuat istrinya itu tersulut emosi atau membuatnya menangis.


"Kok diem?" Kini ia menoleh pada sang suami yang tengah kebingungan.


"Ya nggak ngapa-ngapain, Sayang...." Leon menarik napas dan hendak melanjutkan ucapannya.


"Kok gitu? Kamu seneng ya aku pergi?" Nada suaranya sedikit meninggi, memotongnya terlebih dahulu.


Sebuah tarikan napas panjang lalu diembuskan berat oleh Leon, "Sayang. Di mana pun kamu berada, di situ pasti akan ada aku. Kamu perginya 'kan selalu sama aku?" ucapnya lembut seraya mengusap puncak kepalanya.


"Oh iya ya, hehe!" cetus Khansa tertawa.


Jemari Leon mengetuk-ngetuk setir mobil. Bibirnya menyungging senyum tipis. Sepertinya ia memang harus melebarkan dadanya untuk menyimpan banyak stok kesabaran.


"Sayang!" Khansa memanggil lagi.

__ADS_1


"Iya, Cinta! Jangan minta aneh-aneh lagi ya, tolong."


"Apanya yang aneh?" cibir Khansa memicingkan mata.


Sedangkan Leon tampak berpikir sejenak, memilah kata yang tepat. "Ya, kaya nyisir rambut tadi. Mending kamu minta makanan atau apa pun yang bisa dibeli deh. Ya, Sayang?" Leon mengantisipasi sebelum ada kejadian hal aneh lagi yang akan diminta istrinya.


"Itu juga bukan kemaunku sendiri. Rasanya kayak jengkel aja liat rambutnya acak-acakan, nggak beraturan, nggak rapi. Bikin sepet mata aja," jawabnya sedikit kesal.


"Memang tipe rambutnya seperti itu, Sayang. Lain kali jangan dilihat apalagi diperhatiin. Cukup lihat suamimu aja yang selalu tampan dan menawan setiap harinya," ucap Leon dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Turunin dikit, Sayang," pinta Khansa menggerakkan tangannya ke bawah.


"Apanya?" Leon menatap sekilas.


"Ketampananmu. Aku nggak suka tiap jalan keluar, kamu selalu jadi pusat perhatian," decak Khansa sebal.


"Emang gimana caranya?" pancing Khansa yang selalu membuat Leon berdebar-debar.


"Entah!" jawab Leon pada akhirnya sembari mengedikkan bahu, melempar pandangan ke samping hingga saling menatap dengan istrinya. Diam beberapa saat, lalu keduanya tertawa bersamaan dengan lantang, tepat saat mobil yang berhenti di lampu merah.


Receh sekali memang, namun itu salah satu usaha Leon demi menjaga kestabilan mood istrinya yang tentunya sangat berpengaruh pada calon anak-anaknya. Ia akan menjadi ayah dan suami siaga sejak sekarang.


"Di depan belok kanan ya, Sayang," ucap Khansa ketika hampir sampai di perempatan.


"Baik, Nyonyaku."

__ADS_1


Hanya sekitar 100 meter, mereka pun sampai di sebuah gedung wedding organizer ternama, berlantai 3. Saat mereka turun, Emily langsung menyambut kedatangan Khansa. Ia sengaja menunggu sahabatnya itu di luar gedung. Padahal, ia sudah sampai sejak tadi.


"Sasa!" Emily beranjak sembari melambaikan tangan. Sang pemilik nama pun segera menghampiri, mereka saling berpelukan dan mencium kedua pipi.


"Hai, twins. Are you ok? Jangan pada berantem ya di dalam sana!" gurau Emily sembari mengusap perut Khansa dengan lembut.


"Kamu ini, mereka masih segini. Mana bisa berantem!" ujar Khansa menunjuk ujung jari telunjuknya.


"Hahaha! Ya kali aja mereka udah berebut di dalam sana. Tendang-tendangan sejak dini," Emily berucap dengan tawanya yang memekik.


"Isssh! Ngawur!" cetus Khansa menepuk lengan Emily lalu merangkulnya. Keduanya berjalan masuk dengan langkah serentak.


"Nggak sabar nunggu mereka besar terus lahir. Aaah pasti gemes kayak aunty nya!" seru Emily antusias.


"Mana bisa begitu? Yang bikin 'kan aku sama Leon?" sanggah Khansa tidak terima.


"Pokoknya nggak mau tahu, harus gemesin kayak aku, titik!" paksa Emily.


"Yaudah, iyain aja deh. Padahal bentar lagi juga proses sendiri," sindir Khansa membuat Emily bungkam dengan wajah memerah. Ia tidak ingin menyahut dan pura-pura tidak mendengar.


Leon menggerutu karena sedari dulu Emily tidak pernah berubah. Selalu saja merebut Khansa darinya. Wajahnya tampak sangat kesal, ia bahkan membanting pintu mobil begitu keras.


Baru menginjakkan kaki di pintu masuk, aroma wewangian berbagai jenis bunga, menyeruak ke indera penciuman lelaki itu. Tiba-tiba menelan salivanya karena merasa ada sesuatu yang mengoyak perutnya.


"Mmmmpphh!" Leon merasa mual dan menutup mulut beserta hidungnya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2