Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 60. Pesta Pertunangan


__ADS_3

Derik jangkrik, katak, tenggoret dan segala jenis binatang turut meramaikan suasana acara pertunangan Jihan dan Hendra, salah satu orang besar dari 4 keluarga kaya di Kota Palembang. Meski disamarkan dengan musik romantis yang diputar pada malam itu.


Acara tersebut diselenggarakan di sebuah Mountain Champ, di bawah kerlap kerlip taburan ribuan bintang dan sinar rembulan. Sebuah dekorasi dari Event Organizer ternama di kota ini, menyulap gelapnya malam menjadi tempat yang gemerlap dengan aneka rangkaian bunga indah. Baik bunga lokal maupun import, dipadu padankan dengan sangat epic.


Selain itu, para tamu juga disuguhkan pemandangan yang sangat indah dari puncak gunung di malam hari. Ribuan lampu kota yang menyala, memanjakan netra mereka. Semua orang berdecak kagum dengan acara mewah, megah, berkelas dan romantis itu.


Hembusan angin malam melambaikan gaun yang kini membalut tubuh Jihan. Gaun tanpa lengan berwarna lylac yang bertaburan kristal berlian di sepanjang ekornya, nampak menyilaukan mata. Lekuk tubuhnya tercetak sempurna. Dada mulusnya terpampang, begitu pun leher jenjangnya. Karena rambutnya disanggul modern dengan rapi, sebuah mahkota kecil turut menghias kepalanya. 


“Jihan, kamu cantik banget!” ucap salah satu tamu.


“Iya, Ji. Aku pangling loh lihatnya. Sumpah beda banget dari biasanya,” sambung yang lainnya menyentuh lengan Jihan.


“Duh, iya dong. Calon istri Hendra gitu loh. Secara salah satu orang terkaya di kota ini. Pasti akan memberikan suguhan terbaik dan termewah dong. Iya ‘kan, Ji?” seru seorang gadis yang sebaya dengannya.


Jihan sedari tadi tak henti-hentinya tersenyum. Sepanjang perjalanannya menemui para tamu, semua orang berdecak kagum dan melontarkan pujiannya.


“Iya nih. Semuanya yang nyiapin Kak Hendra,” jawab Jihan malu-malu.


“Beruntung banget ya kamu, Ji. Bisa dapetin Kak Hendra, aku iri banget,” ucap perempuan lainnya menangkupkan kedua tangan di pipi.


“Iya, aku seneng banget. Karena Kak Hendra memilihku,” sambung Jihan tertawa bangga. Matanya mengeliling sedari tadi mencari sosok yang ia cari. Sepanjang percakapannya dengan tamu, Jihan tidak fokus menjawab sekedarnya saja.


Hingga akhirnya, ia menangkap pergerakan Khansa yang semakin mendekat. Matanya berbinar dengan senyum menyeringai. Ia berjalan mendekati Khansa yang saat ini mengenakan gaun mewah berwarna putih. Khansa memang sangat menyukai warna itu. Dan secara kebetulan Leon menyiapkan banyak gaun pesta sesuai warna favoritnya.

__ADS_1


“Eh, wanita simpanan sudah datang ya? Ah, syukurlah kamu nggak bawa semua simpanan kamu. Atau jangan-jangan kamu mau cari mangsa baru di sini? Hati-hati loh ibu-ibu semuanya, dijaga baik-baik ya suaminya. Kamu, enggak ada niat untuk ngambil Kak Hendra juga ‘kan, Sa?” teriak Jihan sengaja menyindirnya.


Orang-orang di sekeliling saling bergunjing tentang Khansa. Bahkan ada yang terang-terangan langsung menggamit lengan suami maupun pasangannya.


“Nggak tahu malu banget sih. Kasihan suaminya lagi sekarat malah ditinggal selingkuh sana sini!” cibir seorang ibu sosialita.


“Ya gimana dong, Bu. Lakinya nggak bisa ngapa-ngapain cuma di kasur doang,” tambah seorang gadis rekan Jihan.


“Harusnya mah di rumah aja ngurus suaminya, ngapain di mari sih? Cari mangsa ya?” sindir yang lainnya lagi.


Masih banyak cibiran, sindiran dan gunjingan yang terlontar untuk Khansa. Jihan tersenyum puas melihat mereka menjelekkan Khansa.


“Tapi aku yakin kok, kali ini kamu nggak akan berbuat macam-macam di sini. Iya ‘kan, Sa? Ini ‘kan hari bahagia aku. Kamu pasti hanya ingin mendoakanku aja. Makasih banyak loh udah jauh-jauh datang ke sini.” Jihan pura-pura baik untuk membela Khansa.


Tapi Khansa hanya tersenyum mendengarnya. Ia tahu mereka hanya berakting, Khansa tidak marah dan malah merasa lucu. "Nyamuknya banyak banget sih!" Khansa mendongak lalu menepuk tangannya.


Kini Jihan sudah menjadi calon istri dari salah satu dari 4 keluarga terhebat di Palembang, ia patut berbangga diri dan menyombongkan miliknya. Seperti biasa Khansa sama sekali tidak peduli. Menurutnya itu sangat tidak penting. Ia seperti menutup telinga saat Jihan mengoceh.


Maharani juga tengah berjalan ke arah mereka berdua, ia mengenakan gaun dengan warna senada dengan yang dikenakan oleh putrinya.


“Kamu ini gimana sih, Zan? Udah disiapin jasnya yang senada juga malah nggak dipake! Kan nggak serasi jadinya. Ini tuh hari bahagianya Jihan loh,” sembur Maharani yang mengomel sedari tadi sambil menyentuh tatanan rambutnya yang sudah disanggul rapi.


“Ya gimana nggak muat! Dipaksa malah bikin sesak!” balas Fauzan dengan dingin sembari mengancingkan jasnya yang berwarna hitam.

__ADS_1


“Itu ‘kan karena kesalahanmu sendiri! Kenapa tidak pernah datang untuk fitting baju?” Maharani tidak mau kalah dan tidak mau disalahkan. Mereka terus saling berbalas dengan nada geram.


“Aku ‘kan kerja Maharani! Kamu ini bisanya ngomel aja terus. Pusing tahu nggak denger ocehanmu yang nggak bermutu itu!” sahut Fauzan menatap lurus ke depan.


Beruntung mereka telah sampai di keramaian pesta. Sehingga Maharani yang melotot tidak terima kembali melemaskan mukanya yang tegang, menampilkan senyum terbaiknya.


Belakangan ini Maharani dan Fauzan tidak harmonis dan Maharani pusing memikirkannya, tapi putrinya bertunangan dengan Hendra dan mengharumkan reputasinya sendiri maka hari ini Maharani juga merasa bangga.


Kini wanita paru baya itu berdiri di samping Jihan. Maharani mengenakan gaun yang sama dengan Jihan. Hanya saja, modelnya berbeda. Gaun yang ia kenakan sangat ketat, berlengan hingga siku dan panjangnya sedikit di atas lutut. Sama glamournya dengan yang dikenakan Jihan, dan memang mencetak bentuk tubuhnya yang masih tampak bagus meski sudah tak muda lagi.


“Eh, Khansa sudah datang ya? Sendirian aja? Ke mana sugar daddy kamu itu? Apa mungkin sudah bosan terus cari yang lain,” sindir Maharani diiringi tawa. Jihan juga turut menertawakannya. Khansa masih biasa saja, dia memutar bola matanya malas.


Semua orang pun menjauh dari Khansa. Mereka tidak mau  terjadi sesuatu dengan pasangan mereka jika berdekatan dengan gadis bercadar itu. Khansa dikucilkan oleh semua orang. Maharani dan Jihan tersenyum puas sembari saling bertepuk tangan di balik punggung mereka.


Tak berapa lama, seorang pria dengan mengenakan jas dan celana berwarna lylac tengah mendekat. Ada bunga mawar putih tersemat di saku jasnya. Pria itu berjalan dengan gagah.


“Ji, calon suamimu tuh,” bisik Maharani menunjuk dengan dagunya.


Jihan menoleh, matanya berbinar menatap Hendra yang terlihat sangat tampan di matanya. Ia segera menggandeng lengan Hendra, "Kak Hendra, Khansa sudah datang untuk mendoakan kita,” ucap Jihan dengan manja bergelayut mesra di lengan kekar Hendra.


Bersambung~


Done yah~ sumbang like dan komen yaa ... kopi ato bunganya juga boleh 😂

__ADS_1


sampai jumpaa di next episode...


oiyaa lope sekebon cabenya lupa buat kalian yang selalu ada... eciyee..😘😘🌶🌶🤭


__ADS_2