Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 71. Aku Menyukaimu!


__ADS_3

Saat Leon dan Paman Indra sampai di sana, semua pelayan bungkam dan menundukkan kepala. Tak ada yang berani mengeluarkan suara bahkan untuk bernapas saja mereka lakukan dengan hati-hati agar tak terdengar menderu.


Kedatangan mereka, tepat saat Susan sudah kembali berdiri menatap penuh amarah pada Khansa. Wajahnya memerah sembari mengerutkan bibir. Kedua matanya menatap nyalang. Ia tidak terima dikalahkan oleh orang yang ia anggap pelayan.


Susan tak menyadari keberadaan Leon dan Paman Indra tepat di belakangnya. Ia pun segera melangkah panjang dan mendorong kedua bahu Khansa dengan kuat. Khansa mengikuti alur, ia tak melawan karena sudah tahu kedatangan dua pria itu.


“Tidak tahu diri! Pelayan tidak berpendidikan! Kamu akan tahu akibatnya! Aku akan membuat kamu terhempas dari sini secepatnya! Camkan kata-kataku. Leon akan segera mengusirmu dari sini, pelayan sialan!” sentak Susan hampir menerjang Khansa lagi. Namun buru-buru Paman Indra menghalaunya. Tubuh kekar dan tingginya berdiri tepat di hadapan Khansa untuk menghalangi Susan.  


“Nona! Apa yang Anda lakukan?” bentak Paman Indra dengan tegas.


“Anda tidak usah membelanya. Dia duluan yang tadi menyerang saya! Kalau tidak diberi hukuman, lama-lama pasti akan melunjak! Anda kepala pelayan ‘kan di sini? Silakan kasih sangsi yang tegas untuk bawahan Anda itu!” berang Susan menunjuk-nunjuk Khansa.


Khansa hanya menahan tawa mendengarnya. Ia keluar dari persembunyiannya di balik tubuh tegap Paman Indra.


“Nah, berani keluar juga kamu!” pekik Susan melotot tajam.  


“Ehm!” Sebuah deheman Leon menyadarkan Susan. Ia tersentak dan segera memutar tubuhnya.


“Tuan Leon!” pekik Susan berlari kecil menghampirinya. Bahkan tangannya dengan lancang hampir menyentuh lengan kekar milik Leon, yang tengah terlipat di depan dada.


Namun, buru-buru Leon mengangkat kedua tangannya sembari memicingkan mata. “Jangan mendekat! Ada apa ini ribut-ribut?” tanya pria itu dengan tegas. Iris hitamnya menatap tajam, kepalanya mengendik mengisyaratkan Susan untuk menjauh darinya.


Susan pun mundur beberapa langkah. Ia menyelipkan rambutnya yang berantakan, juga membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya.


“Tuan Leon, pelayan ini tiba-tiba menyerangku. Aku nggak tahu apa salahku! Tapi dia memukul bahkan menendangku juga,” papar Susan dengan sedih yang dibuat-buat untuk menarik simpati Leon padanya.


Leon menaikkan sebelah alisnya. Ia beralih memandang Khansa, “Benar seperti itu? Apa masalahnya?” Leon menginterogasi.


Khansa menggeleng dengan polosnya meskipun saat ini ingin sekali menjambak dan menghancurkan muka wanita di depannya itu. “Enggak. Bukan seperti itu, ini bukan salahku,” elak Khansa memicingkan mata menyulut api pertengkaran dengan Susan.


Melihat mata polos Khansa, membuat Leon semakin gemas. Tatapannya bahkan berubah mendamba. Sedangkan Susan justru semakin kesal karena Khansa mengelaknya.

__ADS_1


“Heh! Nggak mau ngaku lo?” jerit Susan melotot pada Khansa. “Tuan Leon, banyak saksinya kok. Anda bisa menanyakannya pada para pelayan di sini. Iya ‘kan? Kalian melihat sendiri tadi kalau perempuan itu tiba-tiba menggebrak pintu kamar dan menyerangku?” Kini ia menatap satu persatu pelayan Leon yang berkumpul di sana.


Namun mereka hanya bungkam, bahkan saling berpegangan tangan. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Apalagi hanya untuk sekedar membela yang bukan siapa-siapa di rumah itu.


“Eh nggak kayak gitu konsepnya, Markonah!” celetuk Khansa masih mengelak. “Kamu pinter banget main drama,” sindirnya yang sebenarnya justru untuk dirinya sendiri. Dalam hati ia terkekeh melihat kepanikan Susan yang sedang ditatap Leon dengan tatapan membunuh.


“Sembarangan kamu! Udah nyerang kayak orang gila, beraninya ganti nama orang!” berang Susan tidak terima.


“Oh, situ orang? Kupikir kunti ... Oops!” Khansa segera menepuk bibirnya.


“Cukup! Kamu ikut aku sekarang!” sentak Leon menunjuk Khansa.


“Aku?” Khansa menunjuk hidung mancungnya yang tertutup cadar.


Leon berbalik setelah berdehem. Ia menggiring Khansa ke ruang baca. Sedangkan Susan tertawa puas. “Mampus lo! Macem-macem sih sama gue!” ucap Susan dengan bangga.


Semua pelayan membubarkan diri dengan cepat. Mereka tidak mau terlibat masalah tuan dan nyonya mudanya itu.


Leon memasuki ruang baca dan langsung duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Khansa berdiri tak jauh darinya.


“Barusan Susan itu memintaku membeli sekotak k*nd*m, aku ingin tanya padamu, kamu pakai k*nd*m size berapa?” sindir Khansa melirik tajam.


Leon mengeryitkan alis lalu menarik pinggang Khansa yang ramping sampai terduduk di atas meja kerja Leon. Kedua lengannya melingkar di pinggang itu. Tubuhnya yang tinggi, membuat jarak wajah mereka tidak terlalu jauh.


“Apa kamu ingin mencobanya?” goda Leon mengerjai Khansa.


Khansa mendecih, memalingkan mukanya yang memerah. Kedua matanya sudah berkaca-kaca.


“Liat sini dong. Diajak bicara juga,” ucap Leon mencubit dagu Khansa dan mengarahkan ke wajahnya. “Hei, kok nangis sih?” Tangan Leon dengan sigap menyeka bulir bening yang membobol kedua manik Khansa.


Padahal sebisa mungkin gadis itu menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Leon. Namun apa daya, hatinya yang terlanjur sakit tak kuasa membendung air mata.

__ADS_1


“Aku mau pergi aja dari sini. Kamu sama sekali tidak bertanggung jawab. Masih aja cari-cari wanita di luaran sana. Biar kamu puas.” Suaranya mulai serak dan bergetar.


“Jangan pernah mencoba untuk keluar dari Villa ini!” Pandangannya berubah tajam seketika. Dan itu membuat Khansa menunduk.


Leon menangkup kedua pipi Khansa. Kedua bola mata mereka saling beradu. “Sasa, tidak terjadi apapun antara aku dan Susan saat dinas hari itu,” jelas Leon dengan lembut.


“Bohong!” elak Khansa tanpa mengalihkan pandangannya. Khansa sulit percaya.


“Aku nggak bohong, Sa. Kamu bisa tanya sama asisten Gerry kalau tidak percaya. Mau aku telepon sekarang?” Leon meraih ponselnya, menekan panggilan suara.


Tak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung. “Halo, Bos. Ada yang bisa dibantu?” tanya Gerry di seberang.


Leon menyalakan loudspeaker agar Khansa mendengarnya, “Gerry, jelaskan kronologi waktu Susan dengan lancang berani menyentuh ponselku!” tegas Leon.


Gerry mengernyit bingung, ia tidak tahu kenapa tuannya tiba-tiba menananyakan hal itu lagi. Tak mau berlama-lama, Gerry pun menceritakan semuanya.


Setelah lima belas menit, Leon langsung mematikan sambungan ponselnya. Khansa menjadi gugup. Apalagi saai ini Leon semakin merapatkan kursinya, kedua tangannya semakin menarik pinggang Khansa.


“Bagaimana Nyonya Sebastian? Apa kamu masih tidak percaya?” tanya Leon dengan senyum menawan di bibirnya.


Khansa refleks meletakkan tangannya di bahu Leon. “Emm ... Akuu....”


“Sasa, aku menyukaimu. Tidak ada wanita manapun yang bisa menggantikanmu. Dimanapun aku berada, cuma kamu yang ada di pikiranku, Sa!” aku Leon membuat Khansa tersentak. Namun tak urung juga bahagia.


Leon meraih jemari Khansa, meletakkan di dadanya yang berdegub sangat kuat. “Sa, debaran seperti ini hanya bisa aku rasakan setiap bersamamu saja,” tambahnya.


Bersambung~


 😁😁😁 lama ya? maap... baru semalem dapet outline. penantian kalian akan terbayar dengan yang manis manis kok 😌


semoga kalian wahai silent riders, terketuk pintu hati dan jarinya untuk menekan tombol like.. syukur syukur komen juga. biar semangatnya makin membara. biar berasa dihargai. semoga dapet hidayah ya 😚

__ADS_1


Buat kalian yang selalu like dan komen Lope you poull sekebon cabe 😘🌶🌶



__ADS_2