
Suara teriakan yang menggelegar membuat Cheryl dan Leon membuka kedua matanya serentak. Bahkan dua orang itu kompak beranjak bangun karena terkejut.
Anak dan pamannya itu saling melempar pandang dengan ekspresi terkejut. Khansa tampak tak terganggu. Kelelahan yang menderanya membuat wanita hamil itu masih pulas dalam tidurnya.
"Om Papa, siapa yang teriak?" tanya Cheryl.
Leon meletakkan jari telunjuk di bibirnya, "Ssstt! Kita cek ya. Jangan berisik, takut aunty mama kebangun!" ucapnya lirih menurunkan kedua kaki jenjangnya ke lantai.
Cheryl menutup mulut mungilnya dengan kedua tangan kecilnya sembari mengangguk. Anak cantik itu mudah sekali terbangun, apalagi mendengar teriakan begitu keras.
"Woaaaaaa! Aaaaaa!" teriakan demi teriakan terdengar lagi. Buru-buru Leon meraih tubuh Cheryl dan melenggang keluar kamar dengan cepat.
Emily dan Hansen juga membuka mata dengan cepat. Mata mereka saling bertaut tampak sedikit terkejut namun bangun dengan cepat, mereka segera berlarian menuju sumber suara. Bahkan langkah mereka sedikit sempoyongan, karena baru tidur sekitar dua jam yang lalu.
"Hei! Ada apa?!" pekik Leon menendang pintu dengan kasar. Ia berdiri di ambang pintu, napasnya berembus kuat. Mata elangnya menatap nyalang dua pria yang masih mengumpulkan kesadarannya.
Bara memundurkan punggung hingga bersandar di kepala ranjang. Menarik selimut untuk menutupi tubuh hingga dadanya. Simon sendiri berada di ujung ranjang, menepis-nepis lengannya yang memeluk Bara tadi.
"Jangan teriak lagi atau aku sumpal mulut kalian!" ancam Leon masih dengan tatapan tajam.
"Om Papa," panggil Cheryl pelan mengeratkan pelukannya.
"Eh, Sayang. Maaf, kamu terkejut ya," gumam Leon pelan mencium pipi keponakannya itu.
Setelah memberi peringatan, Leon berbalik mencari bibi untuk memandikan gadis cilik itu. Ia sendiri segera mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air shower.
"Kalian ngapain sih? Aku baru tidur dua jam tahu nggak?" Kini giliran Hansen berkacak pinggang di ambang pintu.
"Aiihh lu mah enak, tidur ngekepin bini. Lah gua, malah manusia setengah kek dia. Hiii!" cebik Simon bergidik membayangkan apa yang ia lakukan ketika tidak sadar semalam.
"Heh! Lu kira gue seneng dipegang-pegang ama elu? Sial! Gue jadi ternoda oleh tangan cassanova!" ketus Bara menatap dengan tajam.
"Mulutmu!" sentak Simon mengayunkan kaki panjangnya mengarah pada Bara. Namun meleset karena Bara buru-buru menghindar.
Emily yang tadi kebingungan kini tertawa terbahak-bahak. Semua perhatian kini mengarah pada wanita itu. Ia sampai membungkuk karena perutnya kram menertawakan Kakaknya bersama Simon.
"Ssstt! Pelan-pelan. Nanti dimarahi calon ayah kamu!" Hansen segera membekap mulut istrinya.
Emily mengangguk dengan bola mata memutar tepat pada wajah tampan suaminya. "Buruan mandi lah. Terus pulang setelah sarapan!" ucap Hansen merangkul bahu Emily.
__ADS_1
"Baby! Itu koper kamu. Lengkap baju ganti, perlengkapan mandi, make up, sepatu. Tapi nggak banyak!" ucap Bara menunjuk sebuah koper berwarna pink di atas nakas.
"Yaampun! Abangku, Sayang. Makin cinta deh!" pekik Emily kegirangan.
Pria itu memang tidak pernah berubah. Selalu memanjakannya dan sigap mempersiapkan segala hal sekecil apa pun.
Hendak berlari memeluk kakaknya, keduluan Hansen yang menarik kimono tidurnya hingga langkahnya terhenti. Melihat tatapan tak bersahabat dari suaminya, Emily tersenyum kaku. Lengannya menjulur meraih koper itu dan segera pergi.
"Abang, makasih!" teriak Emily sebelum menghilang dari kamar tersebut.
Satu jam kemudian, seluruh keluarga besar berkumpul di meja makan. Sarapan pagi ini masih memesan catering yang sama dengan acara resepsi mereka. Sehingga tidak ada yang sibuk di tengah kelelahan yang mendera.
"Mumpung sudah berkumpul semuanya, saya sekalian mau pamit. Harus segera kembali ke Australia, karena sudah terlalu lama meninggalkannya," ucap Tuan Mahendra membuka percakapan.
"Kok cepet banget sih, Yah," sahut Emily.
"Kalau dihitung sudah satu bulan lebih, Nak. Saya sudah memesan tiket jauh-jauh hari. Sore nanti akan segera berangkat."
Emily pun hanya mengangguk lemah, "Hati-hati, Yah."
"Emily, Maafkan sikap ibu tempo lalu ya." Kini Agnes menimpali, wajahnya tampak tulus.
"Titip Hansen, Emily. Kalau dia nyakitin kamu segera telepon ayah!" tegas Tuan Mahendra.
Hansen melirik sekilas dan hanya berdehem ketika namanya disebut. Frans dan istrinya tampak menghela napas lega ketika melihat tidak ada aura permusuhan antara Emily dan ibu mertuanya.
Jennifer sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya. Tampak sama sekali tak berselera. Bara hanya melirik saja tanpa berucap apa pun.
"Jen, ikut balik ke sana?" Khansa mewakilkan pertanyaan yang sedari tadi dipendam oleh Bara. Wanita itu sangat sibuk pagi ini, menyuapi Cheryl bergantian dengan bayi besarnya. Siapa lagi kalau bukan sang suami?
"Enggak, Kak!" sahut Jennifer.
"Lho, Jen? Kamu belum wisuda, Sayang!" sela Agnes.
"Masih lama, Bu. Jen masih mau di sini, sekalian cari-cari perguruan tinggi yang cocok. Nanti aku bisa balik sendiri. Jen udah gede juga. Jangan dianggap anak kecil teruslah," sahut Jennifer, sesekali menatap ke arah Bara. Pria itu segera mengalihkan pandangan ketika mata mereka saling bertumbukan.
"Yaudah terserah kamu. Yang penting bisa jaga diri," Tuan Mahendra menyahut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Setelah sarapan bersama, semua orang kembali ke rumah masin-masing. Kecuali pengantin baru yang justru mengambil arah berbeda. Mengendarai mobil hadiah dari Khansa dan Leon.
"Kita pulang ke mana, Sayang?" tanya Emily ketika melihat jalanan yang tidak menuju rumahnya.
"Honeymoon lah!" cetus Hansen.
"Hah? Kemana?" tanya Emily.
"Lihat aja nanti!" sahut pria itu tersenyum misterius.
"Jangan aneh-aneh ya!" ucapnya dengan jantung berdegub mendengar kata honeymoon. Pikirannya sudah traveling ke mana-mana. Mendadak perempuan itu menjadi gugup.
Sementara itu, Khansa tiba-tiba sangat menginginkan strawberry pagi itu. Harus yang segar, baru memetik dari pohonnya. Tidak mau yang sudah dipacking.
Leon lalu mengajaknya jalan-jalan bersama Cheryl ke kebun strawberry untuk memetik buah itu sepuasnya. Pengantin lama itu masih mengambil cuti.
Dua perempuan itu tampak sangat kompak saling berpegangan tangan, berjalan menyusuri setiap jalan setapak dan memetik buah strawberry.
Khansa sangat puas, langsung memakannya saat itu juga. Bahkan tidak terlihat asam sama sekali. Memakannya dengan begitu lahap. Leon justru menelan salivanya, merasa ngilu di mulutnya, padahal ia hanya melihat saja.
"Sayang, jangan banyak-banyak!" ucap Leon memperingatkan.
Khansa hanya mengangkat jempolnya saja, mulutnya penuh dengan buah strawberry. Cheryl ikut memakannya namun hanya sedikit karena tidak kuat asamnya. Tapi dia sangat menikmati proses mengambil buah itu.
Setelahnya, Leon dan Khansa mengajak Cheryl berkeliling ke playground, taman hiburan, mall, makan sepuasnya apapun keinginan Cheryl.
Bersambung~
uuuwwuuhh ci gemoyy...
Bumil syantiikk...
calon daddy yang ketce badaii semlohayy...
__ADS_1