Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 27. Negosiasi


__ADS_3

Pekikan Khansa membuat Hendra menjauhkan ponselnya segera. Suaranya melengking menelusup pendengaran Hendra.


“Hei, kamu hampir merusak gendang telingaku, Sa,” ucap Hendra dengan santai.


Khansa bukan tipe orang yang berbasa-basi. “Apa maumu?” tanya Khansa dengan ketus.


“Tentu saja kamu pasti paham maksudku. Kita bisa bermain-main, setelah lama tidak berjumpa. Yah, anggap saja ini temu kangen,” sambung Hendra lagi.


“Ck! Brengsek! Aku enggak akan pernah sudi menemuimu!” tegas Khansa penuh penekanan.


“Nggak usah sok suci kamu, Sa! Orang lain saja bisa menikmati tubuhmu dan bermain denganmu. Tentu saja aku juga boleh! Tenang saja, aku akan membayarmu dengan harga yang sangat tinggi!” sindir Hendra dengan nada sarkasme.


Khansa menggeram marah di balik telepon. “Jaga mulut busukmu itu! Jika kamu hanya ingin membicarakan ini aku tutup teleponnya dan akan black list nomor kamu!” ancam Khansa tidak main-main hampir menjauhkan ponselnya.


Buru-buru Hendra segera berucap, “Eits, tunggu! Bukankah kamu terus menyelidiki penyebab kematian ibumu?”


Khansa terdiam, ia berpikir sebentar, kepulangannya kali ini dengan 2 alasan, menyembuhkan kakeknya dan mencari penyebab kematian sang ibu.


Saat itu Khansa diberitahu kalau ibunya meninggal karena sakit, tapi ibunya sehat-sehat saja dan kenapa bisa tiba-tiba sakit dan mati? Khansa curiga ada orang yang mencelakai ibunya.


Tapi, penyelidikan Khansa tidak membuahkan hasil, semua data tentang ibunya semasa hidup tidak ada jejak sama sekali. Semuanya bersih tanpa ada kejanggalan yang membenarkan dugaannya.


Khansa selalu merasa ada konspirasi besar di balik semua ini, 10 tahun yang lalu ibunya meninggal, kakeknya koma. Dalam semalam, semua orang yang Khansa cintai seperti mau mencelakai dirinya, mereka semua sudah berubah.


Khansa masih terdiam mengingat masa kelamnya itu. Ponselnya masih menempel di daun telinganya. Keduanya tak bersuara untuk beberapa saat.  Kemudian suara berat Hendra membuyarkan lamunannya.


“Apa kamu mencari Bibi Fida?” tanya Hendra yang ia yakini bisa memancing kedatangan Khansa.


“Di mana Bibi Fida?” tanya Khansa segera.


Bibi Fida adalah pelayan ibunya sejak Khansa kecil, bibi Fida bukan anggota keluarga Isvara, tapi pembantu yang ikut dengan ibunya sejak dulu.


Bibi Fida menghilang sejak kematian ibu Khansa dan Khansa tidak bisa menemukannya. Ia seolah hilang ditelan bumi. Hal itu semakin membuat Khansa penasaran. Khansa ingin sekali mendengar penjelasan dari pembantunya itu.


“Hahaha! Kamu masih tertarik rupanya. Dia ada di tanganku, Khansa. Datanglah ke kamar hotel nomor 8206 besok malam, aku tunggu.” Hendra langsung menutup telepon setelah berucap demikian.


Tawa Hendra yang menggelegar, membangunkan Jihan dari tidur lelapnya. Wanita itu masih belum mengenakan pakaiannya. Tubuh polosnya hanya terbalut selimut tebal.


Ia beranjak duduk tanpa membenahi selimutnya, mengekspose dua bukit kembar yang mencuat tanpa pelindung.

__ADS_1


“Kak, kamu habis berbincang dengan siapa? Kok kedengarannya bahagia sekali,” tanya Jihan meregangkan kedua tangan ke atas sambil menguap.


Hendra menoleh, matanya menangkap pemandangan yang indah. Seketika adik kecilnya kembali menegang setelah melihat aset berharga Jihan juga menegang.


“Hmm! Bukan urusanmu!” jawab Hendra dingin dan ketus.


Namun ia segera mematikan sumbu rokok yang masih menyala itu. Mengusaknya pada asbak hingga benar-benar mati. Lalu kembali menghampiri Jihan.


Meskipun Hendra tidak bersikap baik padanya, Jihan tak pernah menyerah, terus mendekat pada Hendra. Tak peduli bagaimana perlakuan Hendra padanya.


“Layani aku lagi,” bisik Hendra yang sudah berlutut di atas paha Jihan.


“Tentu saja, Sayang. Semua ini milikmu,” sambung Jihan melingkarkan lengannya pada leher pria itu.


Hendra tersenyum menyeringai. Ia langsung menyambar bibir Jihan dengan rakus. Bahkan sampai wanita itu kuwalahan mengimbanginya.


Aroma tembakau yang tersisa di bibir Hendra, justru menambah gairah Jihan. Ciuman itu turun ke leher hingga dada wanita itu.


Jemarinya asyik bermain di bawah sana. Tepat di kepemilikan Jihan. Dia mengerang kenikmatan, suaranya semakin menyulut nafsu pria itu. Lalu segera menerjangnya.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aku harus bertemu dengan Bibi Fida. Dia pasti tahu sesuatu. Yah, aku harus menemuinya.” Khansa  bertekad mau bertemu bibi Fida.


“Tapi, Hendra 'kan mau berniat buruk padaku.” Seketika Khansa meragu mau pergi atau tidak.


Khansa mondar mandir di kamarnya, ia memikirkan cara bagaimana agar selamat dari Hendra namun tetap bisa bertemu dengan Bibi Fida. Sampai suara ketukan di pintu menghentikan gerakannya.


“Siapa?” tanya Khansa.


“Ini saya nyonya muda,” ucap Paman Indra di balik pintu.


Khansa bergegas membuka pintu, “Ada apa, Paman?” tanya Khansa di ambang pintu.


“Maaf sebelumnya Nyonya, jika saya lancang. Namun  saya khawatir karena tadi Nyonya berteriak. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau Nyonya membutuhkan sesuatu?” tanya kepala pelayan yang tidak sengaja melalui kamar Khansa dan sempat mendengar teriakannya.


Khansa menggigit bibir bawahnya. Ia tak mengira akan ada yang mendengarnya. Khansa menyunggingkan senyum manisnya. “Maaf, Paman jika mengejutkanmu. Eee … tapi, aku nggak apa-apa kok. Hehe.”

__ADS_1


Paman Indra menaikkan sebelah alisnya, “Oh iya? Tidak usah sungkan, Nyonya. Tuan muda sudah berpesan untuk melayani Anda dengan baik. Katakan saja jika membutuhkan sesuatu,” ujar Paman Indra dengan sopan.


“Carilah aku kalau ada sesuatu hal yang tidak bisa kamu selesaikan.” Seketika kalimat yang pernah diucapkan Leon tiba-tiba terngiang di telinganya. Ia teringat dengan Leon yang menawarkan bantuan.


“Tidak ada, Paman. Terima kasih tawarannya. Saya hanya sedang merasa lelah saja,” elak Khansa mencari alasan.


“Oh baiklah, Nyonya. Silahkan beristirahat. Kalau begitu, saya permisi,” pamit Paman Indra membungkuk hormat lalu melenggang pergi dari hadapan Khansa.


“Tunggu, Paman!” Langkah Paman Indra terhenti dan dengan sigap berbalik.


“Iya, Nyonya?”


“Tolong jangan beritahu siapa pun ya. Entah itu nenek atau pun Leon,” mohon Khansa dengan manik polosnya.


Paman Indra terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Baik, nyonya muda.”


“Terima kasih, Paman. Aku istirahat dulu ya.” Khansa segera menutup pintunya.


“Apa aku meminta bantuan pada Leon saja? Apa dia mau membantuku? Ah, bukankah dia sedang sibuk?” gumam Khansa menggaruk kepalanya. Ia menimbang-nimbang, apakah akan menghubungi Leon atau tidak.


“Aku coba dulu deh!” ucapnya meyakinkan diri sendiri. Khansa mengembuskan napas dengan kasar, jarinya mencari kontak Leon, saat sudah tepat pada nama itu, ia kembali meragu.


Beberapa saat kemudian, Khansa nekad untuk melakukan panggilan telepon itu. Setelah berperang batin tentunya.


Dadanya berdegub saat menunggu nada sambung yang lama sekali tidak ada tanda-tanda diangkat.


Saat panggilan hampir terputus, terdengar suara telepon terhubung.


“Ha … halo, Leon,” panggil Khansa dengan ragu.


“Halo. Ini siapa?”


DEG!


Terdengar suara wanita yang menyahut panggilannya. Khansa tak menjawab lagi. Jantungnya sedang bergemuruh hebat di dalam sana.


“Halo!” Sekali lagi wanita itu berucap, namun Khansa masih tak menjawab.


Wanita di seberang telepon merasa sangat aneh, “Halo, apa kamu mencari Presdir Leon? Dia sedang mandi dan tidak bisa menerima telepon….” Khansa langsung menutup telepon sebelum wanita di seberang sana menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2