Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 49. Leon VS Khansa


__ADS_3

Khansa menepis tangan pria itu lalu berkata, “Aku sudah bilang aku bukan gadis yang menemani kalian minum-minum, tapi baiklah kalau kalian ingin aku melakukannya, ayo kita bertaruh dengan sebuah permainan.” Ekor mata Khansa melirik Leon yang masih abai.


Khansa lalu mengedarkan pendangannya yang menangkap papan catur dan setumpuk kartu di meja. Khansa mengangguk-anggukkan kepalanya saat menemukan sebuah permainan yang akan mereka jadikan taruhan.


“Kita bermain catur. Biarkan aku pergi kalau aku menang, kalau aku kalah, sesuai dengan taruhan kita,” tantang Khansa dengan mantap dan percaya diri.


“Hahaha! Baiklah-baiklah, deal!” ucap pria tua itu mengulurkan tangan, hendak menjabat Khansa. Namun Khansa mengabaikannya dan segera duduk mempersiapkan diri. Seseorang mematikan dentum musik yang memekakkan telinga. Juga mengganti lampu dengan yang lebih terang.


Khansa dan bos tua itu sudah duduk berhadapan. Masing-masing di hadapannya sudah tertata rapi bidak di papan catur. Sebuah permainan yang menguras otak, konsentrasi dan butuh strategi untuk bisa memenangkannya.


Khansa langsung membuat para pria itu menjadi penasaran. Khansa memilih duduk di sisi Leon, Leon sama sekali tidak bicara dari tadi. Leon hanya merokok dengan elegan. Tapi, Leon adalah raja di dalam ruangan ini.


“Biar aku saja yang main! Kamu ….” Leon menunjuk pria tua itu dan mengibaskan tangannya.


“Baik, Tuan.” Bos tua itu pun mengerti dan langsung menurut. Ia beranjak berdiri membiarkan Khansa berhadapan dengan Leon dalam taruhan ini.


Khansa menoleh pada Leon, tidak menyangka pria itu akan mengambil alih permainan. Dadanya tiba-tiba berdegub, ia takut jika Leon tidak membiarkannya  menang. Sebaliknya, Leon masih menunjukkan wajah datarnya.


“Baiklah, aku akan melempar koin ini. Jika menunjukkan angka, bidak catur putih menjadi milikmu Nona Cantik. Dan kamu bisa memulai permainan,” ucap bos tua itu.


“Baik,” jawab Khansa mengangguk.


Koin pun di lempar ke atas dan dibiarkan terjatuh di atas meja sampai berhenti bergerak. Khansa dipersilahkan memulai permainan, karena koin itu terhenti dan menunjukkan angka.


“Wow angka. Silahkan cantik jalankan bidak caturmu. Semoga beruntung melawan raja kami,” ucap Khansa membuatnya sedikit bergidik.


Dari ucapannya, Leon merupakan penguasa di ruangan ini. Khansa melirik ke arah Leon sejenak, meski ekspresinya masih sama saja. Dingin, penuh seringai. Ia lalu kembali fokus pada meja. Memperhatikan setiap bidak yang berdiri tegak di depannya.


Khansa mulai menjalankan sebuah pion, diikuti gerakan Leon yang cukup cepat. Khansa menumpukan kedua lengannya di atas meja. Mengamati jalannya permainan, menatap serius bidak-bidak hitam dan putih itu. Leon tetap merapatkan bibirnya, sesekali mengangkat pandangan ke pada Khansa yang sangat serius.

__ADS_1


Saat tatapannya beradu, Leon menampakkan seringai tajam. Iris hitam milik pria itu seakan siap merobek apa pun di depannya. Khansa berdegub kencang, kedua jemarinya saling meremas, menyalurkan kegugupannya. Ia menelan saliva berkali-kali. Khansa mulai oleng dan hampir kehilangan konsentrasi, namun sebisa mungkin kembali menarik kesadarannya dan kembali berkonsentrasi.


‘Fokus, Sasa! Fokus!’ gerutunya dalam hati menghela napas panjang dan membuangnya kasar.


Simon menarik sebuah kursi mendekat, lalu duduk dengan posisi kursi terbalik. Kedua kakinya melangkah, mendaratkan bokong di kursi dan menopangkan dagu di atas sandaran kursi itu.


Ia sangat penasaran dengan pertarungan sengit antara kakak dan kakak iparnya itu. Pion-pion di atas papan catur semakin habis tersingkirkan oleh masing-masing kubu. Keduanya sama-sama kuat.


“Pertarungan yang sangat menarik,” kagum Simon menatap kedua kakaknya bergantian.


Beberapa bos lainnya di dalam ruangan penasaran, mereka mengelilingi Khansa dan Leon, mereka melihat juga berkomentar tentang Khansa.


“Wow, gadis ini keren banget. Bahkan bisa bermain imbang dengan Tuan Leon,” bisik seorang pria yang berdiri di belakang Khansa.


“Ah iya, mantul! Bener-bener cerdas!” sahut pria satunya.


“Nggak nyangka gadis misterius itu sangat cerdik!”


“Iya, dia sangat teliti dan penuh strategi setiap melangkah,” gumaman heran dan kagum hampir semua orang di sana.


Khansa terlahir pintar dan permainan ini perlu teknik. Khansa belajar dengan cepat, tapi Leon adalah pemain handal dan Khansa tidak berkesempatan menang. Khansa hanya bisa menang jika Leon mengizinkan Khansa menang.


Seseorang menyenggol lengan pria tua yang mengajak Khansa taruhan tadi, “Coba kalau lawan mainnya kamu. Pasti udah kalah telak sama gadis itu, nggak nyampe satu jam. Yakin aku tuh!” bisik pria di sebelahnya.


Pria tua tadi menoleh dan melirik tajam, namun detik berikutnya menyengir memamerkan deretan gigi putihnya. Tangannya menampol kepala pria yang menyindirnya, “Kamu kalau ngomong suka bener!” sahutnya terkekeh. Lalu kembali fokus memperhatikan permainan Khansa dan Leon yang semakin sengit itu.


Khansa mengepalkan kedua tangannya yang diletakkan di kedua sisi papan catur, fokus mengamati bidaknya, sembari mengatur strategi. Sesekali mengetukkan kepalan tangannya di meja, menyalurkan kegelisahanya saat bidak catur putih miliknya hanya tersisa raja setelah hampir 3 jam permainan berlangsung.


Sedangkan bidak catur milik Leon, tersisa dua pion dan raja. Tatapan Leon masih sama, dingin, tajam, tanpa ekspresi. Namun terlihat lebih santai.

__ADS_1


Khansa perlahan menggerakkan rajanya untuk menyingkirkan pion-pion Leon. Namun Leon melakukan strategi segitiga yang terbentuk antara kedua pion miliknya dengan raja milik Khansa.


Ketegangan semakin terasa di ruangan itu. Sudah tidak ada lagi bisik-bisik di antara mereka. Hanya fokus memperhatikan setiap gerakan Khansa dan Leon dengan debaran jantung yang tak beraturan. Padahal mereka hanya penonton. Tapi mereka yang merasa panas dingin.


Tak terkecuali Simon, matanya sampai melotot bahkan enggan untuk berkedip, karena takut melewatkan sesuatu yang sangat seru dan mendebarkan itu. Kedua lengannya memeluk erat sandaran kursi kayu yang sedari tadi ia duduki.


Khansa pantang menyerah, ia mampu menyingkirkan satu dari dua pion milik Leon. Tersisalah satu pion dan raja milik Leon, Khansa bertahan dengan rajanya.


Semua orang bahkan hampir menahan napas melihatnya, saat detik-detik menuju pertandingan akhir.


Pergerakan Khansa melambat, karena posisinya tidak memungkinkan untuk menyingkirkan pion Leon. Pion tersebut semakin menyerang hingga akhirnya melakukan promosi. Dan akhirnya, Khansa dinyatakan kalah.


“Yeeeaaaahhh!!”


“Woooaaaa!!”


“Yuhuuu!”


“Tuan Leon memang hebat!”


Sorak-soraki para pria itu dengan histeris. Mereka bahkan sampai melompat, bertepuk tangan dengan keras juga bersiul karena kemenangan Leon. Akhirnya mereka bisa mengembuskan napas lega.


“Kakak! Aku sampai hampir kehabisan napas,” celetuk Simon berbisik di telinga Leon.


Khansa sudah memucat, telapak tangannya terasa dingin. Matanya memerah dan memberanikan diri menatap Leon dengan jantung yang bertalu kuat. Sedangkan Leon hanya membalas tatapan itu dengan dingin, bibirnya juga tidak berucap satu patah kata pun.


“Hahaha! Kamu telah kalah cantik. Buka cadarmu sekarang juga dan temani kami minum. Haha!” gelak tawa pria tua itu menggelegar. Ia senang sekali dan ingin melepaskan cadar di wajah Khansa.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2