Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 152. Kolaborasi


__ADS_3

"Enggak lucu," celetuk Khansa enggan melepas pelukannya. Namun ketegangannya sedikit berkurang. Ia lega karena ternyata hanya mimpi belaka. Mimpi yang sangat menyeramkan baginya, pertumpahan darah di mana-mana dan hanya menyisakan dirinya seorang.


Khansa memejamkan matanya, mencoba mengusir segala pikiran buruk yang menghampirinya. Tangan Leon bergerak naik turun di punggung Khansa, terasa sekali getaran di tubuh wanita itu.


"Semua baik-baik saja," gumamnya mencium kening Khansa, meskipun dadanya pun berdebar pula.


Khansa mengangguk, menghela napas panjang berulang kali sampai debaran jantungnya kembali normal lagi. "Leon," panggil wanita itu mendongak.


"Hmm?" balas Leon menundukkan pandangannya.


"Aku kangen sama nenek," ucap Khansa dengan tatapan memohon.


Leon membelai rambut panjang Khansa, "Oke, nanti aku antar ke sana."


"Maunya sekarang," kekeuh Khansa memaksa.


Leon menghela napas panjang, melepas rengkuhannya, dan menatap bola mata indah milik Khansa, "Iya, Sayang. Mau langsung berangkat? Ayo aja!" tantang Leon menyibak selimut mereka.


"Ya nggak gitu juga, mandi dulu!" Khansa bergegas turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.


Leon mendesah lega, karena kemungkinan hari ini ia akan menghabiskan waktu seharian di rumah ini bersama tim medis pilihannya yang bergabung dengan kimiawan dari perusahaan Hansen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sa, mau ponsel baru apa yang lama aja?" tawar Leon saat mereka sudah dalam perjalanan.


"Mmm ... kalau mau dua-duanya?" Khansa balik bertanya. "Walaupun jadul tapi banyak kenangan sama ibu di sana," lanjutnya menatap lurus ke depan.


Leon menggenggam tangan Khansa, "Iya nanti aku ambilin. Selama aku belum jemput kamu, jangan pergi kemana pun. Tetap di villa sama nenek ya," pesan Leon yang diangguki oleh Khansa.


Tak lama kemudian, mobil Leon memasuki pelataran Villa Anggrek. Nenek yang tengah memberi makan ikan di kolam depan Villa segera melempar makanan itu dan berlari menghampiri cucunya.


"Khansa!" teriak nenek sebastian berkaca-kaca.


Khansa menjajakkan kedua kakinya di halaman, ia tersenyum lebar di balik cadarnya. Buru-buru ia berlari juga takut nenek terpeleset. Khansa menyambut pelukan hangat sang nenek.


"Gimana kabarmu, Sayang? Nenek kangen banget!" Nenek mulai menangis.


Leon juga turun dari mobilnya, ia berjalan tenang hingga depan mobil, menyandarkan bokongnya di sana sambil melipat kedua lengannya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis melihat kedekatan nenek dan istrinya.


"Sasa baik, Nek. Nenek sehat? Maaf baru sempat datang ke sini," balas Khansa mengusap lembut punggung sang nenek.


"Leon tidak menyakitimu lagi 'kan, Sa?" Nenek menangkup kedua pipi Khansa.

__ADS_1


Wanita itu menggeleng sambil tersenyum, Leon melangkah pelan menghampiri dua wanita kesayangannya itu. "Aku tinggal ya, jangan pergi ke mana-mana sebelum aku pulang," pamit Leon menepuk puncak kepalanya.


"Iya hati-hati," sahut Khansa mengangguk.


Baru berbalik dan hendak melangkah, nenek mencengkeram kerah Leon. "Leon! Kamu ini ya, nggak kangen apa sama nenek? Main pergi gitu aja!" berang nenek sebastian.


Leon menghentikan langkahnya, berbalik lalu memeluk wanita baya itu dengan sangat erat. "Bagaimana aku tidak merindukan nenek? Setiap waktu selalu kepikiran nenek, tapi nenek sendiri yang mengusirku waktu itu," sanggah Leon tidak mau disalahkan.


"Dasar kamu aja yang enggak peka! Nenek menyuruhmu pergi untuk membawa Khansa pulang, bodoh!" gerutu nenek menjewer telinga Leon.


Leon meringis, kepalanya sampai bergerak menyamping mengikuti gerakan tangan nenek. "Maaf ya, Nek. Leon harus kerja dulu! Titip Sasa ya, Nek!" teriaknya mencium pipi nenek sebastian lalu dilanjutkan mencium pipi Khansa. Telinganya memerah setelah sang nenek melepaskannya.


Pria itu segera berlari menuju mobilnya sebelum nenek kembali menghajarnya. Khansa hanya tersenyum melihat Leon yang begitu patuh pada neneknya. Terlihat sekali dia sangat menghormati dan menyayangi wanita tua itu. 'Apakah, dia juga seperti itu dengan orang tuanya? Kenapa aku tidak pernah melihat foto keluarga di villa ini,' gumam Khansa dalam hati.


"Ayo, Sa. Kita masuk ke dalam!" ajak nenek Sebastian menggandeng tangannya.


"Iya, Nek," sahut Khansa mengekori langkah sang nenek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leon memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:15, dia sudah terlambat. Untung saja jalanan tidak terlalu macet, mudah baginya untuk menyalip dari segala penjuru.


Tak butuh waktu lama, Leon sudah sampai di kediaman Khansa. Ia melangkah lebar, tatapannya berubah serius. Benar saja, semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Melihat kedatangan Leon, mereka beranjak berdiri.


"Maaf, saya terlambat," ucap Leon menyalaminya satu per satu.


"Baik, mari!" tegas Leon memimpin jalan menuju lantai dua.


Hansen dan beberapa anak buahnya juga turut naik ke atas. Mereka sama sekali tak bersuara lagi, hanya derap langkah para pria itu menggema di sebuah lorong hingga memenuhi kamar kakek.


"Gerry, pastikan ada dua penjaga di depan kamar. Jangan sampai ada yang masuk selama kita di sini!" pinta Leon dengan tegas.


"Baik, Tuan!" Gerry membungkuk, mundur beberapa langkah. Satu lengannya terangkat menyentuh earpiece yang ada di telinganya lalu memberi pesan suara yang langsung terhubung pada para pengawal di lantai bawah.


Petugas medis sudah mulai mengenakan perlengkapannya. Hansen dan para kimiawan yang lain berdiri mengitari ranjang kakek Khansa. Mata mereka mengawasi detail pemeriksaan yang dilakukan oleh Dokter Benny.


Hampir satu jam dokter itu berkutat dengan para perawatnya hingga mendapatkan beberapa sampel cairan yang berhasil mereka ambil dengan sangat hati-hati.


Suasana kamar ini begitu menegangkan. Tatapan Leon juga teramat tajam sedari tadi. Bibirnya terkatup rapat, hanya terdengar langkah kaki mondar-mandir dari petugas medis itu.


Dokter Benny menghampiri Leon dengan membawa tiga botol kecil di atas nampan. "Tuan, menurut perkiraan saya, beliau baru meninggal dua bulan yang lalu. Tubuh bagian bawahnya terdapat bercak, suhunya tubuhnya juga semakin turun, saya berhasil mengambil sampel darahnya walaupun sangat sedikit."


"Kenapa monitor detak jantungnya masih bekerja? Bahkan denyut nadinya juga masih ada walaupun sangat lemah," sanggah Leon menyandarkan punggungnya di sofa. Tatapannya berubah dingin.

__ADS_1


"Di sini saya mengambil cairan infusnya." Dokter menunjukkan satu botol kecil lainnya. "Ini membutuhkan analisis di laboratorium Tuan Hansen untuk lebih detailnya, menurut saya dalam cairan ini dicampur obat pengawet juga senyawa yang bisa memicu denyut nadi dan jantung agar tampak seperti masih hidup. Padahal sebenarnya sudah tidak berfungsi," papar dokter tersebut.


Leon beralih menatap Hansen, pria berkacamata itu mengangguk lalu memberi perintah pada bawahannya yang paling dia percaya.


Dua orang anak buah Hansen segera mengambil botol-botol tersebut dan membawanya ke laboratorium raksasa untuk segera melakukan penelitian.


"Saya tunggu hasilnya, secepatnya! Lakukan dengan teliti, jangan sampai ada kesalahan, atau kalian akan kehilangan pekerjaan!" tegas Hansen.


"Baik, Tuan. Permisi!" sahut dua orang itu membungkuk berpamitan pergi.


"Apa ada yang bisa kami bantu lagi, Tuan?" tawar Dokter Benny.


"Sementara cukup. Terima kasih banyak, Dok!" sahut Leon mengusap wajahnya dengan kasar.


Dokter dan beberapa petugas medis itu bergegas pamit dari kediaman Khansa. Leon kembali mengutak-atik laptopnya. Kedua tangannya bergerak dengan lincah meneruskan pekerjaannya semalam.


Hansen turut mendaratkan tubuhnya di sebelah Leon. Ia pun tengah membuka laptop, mengawasi kinerja para bawahannya dengan memutar CCTV dan juga membuka program hasil pengetesan.


Dua pria itu seperti saling bermusuhan. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir mereka. Pikiran Leon terpecah memikirkan bagaimana cara menyampaikannya pada Khansa di sisi lain mengatur strategi untuk menenggelamkan Keluarga Ugraha.


Begitu pun dengan Gerry, dia juga turut membantu Leon menyelesaikan pekerjaan semalam yang tinggal sedikit lagi. Ahli IT di perusahaan Leon, bukan kaleng-kaleng. Dia menerjunkan puluhan karyawan terbaiknya untuk berkolaborasi dengan Gerry dan juga dirinya.


Denting jam terus berbunyi. Tiga pria itu masih terlihat serius dan tegang. Bahkan mereka melewatkan makan siang, karena hari sudah berganti malam. Langit kini mulai menggelap tanpa taburan bulan dan bintang, karena awan hitam tengah menutupnya dengan sempurna. Gemuruh dan petir pun menyambar-nyambar, memekakkan telinga.


"Sasa!" Tiba-tiba Leon tersadar sesuatu.


"Gerry! Belikan ponsel baru untuk Sasa. Lalu ambilkan ponsel lamanya di ruangan Fauzan. Aku kirim ke rekening kamu! Nanti langsung kirim ke Villa Anggrek!" perintah Leon sambil membuka Mbanking di ponselnya.


Gerry terdiam sejenak untuk berpikir, "Eee ... baik, Tuan!" sahutnya kemudian. Ia melihat notifikasi uang senilai 35 juta rupiah masuk ke rekeningnya. Buru-buru dia bergegas melaksanakan tugas mendadak yang diberikan bossnya itu.


"Kalau baru dua bulan yang lalu, apakah Hendra yang melakukannya?" tanya Hansen setelah mereka tinggal berdua saja di ruangan itu.


"Bisa jadi," sahut Leon dengan nada dingin.


"Apa rencana kakak selanjutnya?" tanya Hansen membenarkan kacamatanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa mondar mandir di kamar sedari tadi. Suara petir yang memekakkan telinga, dan langit yang gelap gulita membuatnya khawatir dengan keadaan suaminya.


Dia tidak berani mengganggu nenek. Sudah tak terhitung Khansa melihat jam dinding lalu membuka tirai jendelanya untuk melihat mobil suaminya. Namun nihil, padahal malam sudah semakin larut.


Bersambung~

__ADS_1



🥱 Muleh, Mas... muleeh...


__ADS_2