
Yenny hanya menatap adiknya sekilas. Sorot matanya berubah tajam, lengannya terlipat di dada dengan jemari lentik yang bergerak perlahan. Wanita itu menganggap Jihan sama sekali tidak bisa diandalkan. Anak manja yang suka gegabah dalam bertindak. Hanya menambah beban saja.
“Ini belum seberapa,” gumamnya dengan nada dingin.
Kepalanya kembali menatap sang ibu yang kini terbaring lemah di ranjang pasien. Luka di kedua kaki dan lengannya yang terinjak heels mengalami infeksi karena telat penanganan.
Jihan yang memang tidak tahu apa-apa sama sekali tidak tahu bagaimana menangani luka-luka ibunya. Apalagi, sepanjang malam tubuh ibunya dibalut selimut tebal.
Yenny mendesah kasar, menatap wajah pucat ibunya yang memejamkan mata. Jemarinya mengusap lembut puncak kepala ibunya. Wajah penuh luka lebam yang kini berubah warna biru keunguan.
“Kak, ayah mau menceraikan ibu. Mungkin itu juga yang membuatnya semakin tertekan,” gumam Jihan berjalan menghampiri kakaknya yang duduk di samping ranjang.
“Kamu tenang aja. Aku akan menangani semuanya,” ucap Yenny memegang lengan ibunya yang juga dipenuhi luka.
“Kakak memang terbaik!” puji Jihan memeluk bahu kakaknya dari belakang. Yenny sama sekali tidak berniat untuk membalasnya.
Kedua lengannya melepas tangan Jihan yang melilit di bahunya. “Jihan, kamu lanjutkan saja pendidikanmu di luar negeri.” Yenny menoleh pada gadis itu.
Jihan terkejut dengan ucapan sang kakak. “Apa? Luar negeri? Enggak Jihan nggak mau,” elak Jihan menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” tanya Yenny mengerutkan alisnya.
“Kita baru ketemu setelah bertahun-tahun, Kak. Apa jangan-jangan kakak mau membuangku? Aku nggak mau jauh dari ibu!” tandas Jihan mengerucutkan bibirnya.
Yenny menghela napas panjang. Maharani terlalu memanjakan Jihan, sehingga dia menjadi seperti itu.
“Jihan, semakin hari kamu semakin dewasa. Jangan terus berlindung di bawah ketiak ibu! Kapan majunya kalau kamu seperti itu terus?” Yenny mencoba bersabar untuk memberi arahan.
Padahal dalam hati Yenny sangat geram. Ingin rasanya mencekik leher adiknya itu agar tidak terlalu membebani hidupnya.
“Tapi, Kak ....”
“Kamu tenang saja, semua biaya pendidikanmu aku yang tanggung. Termasuk biaya hidupmu nanti. Aku akan selalu mentransfer setiap bulannya,” ucap Yenny dengan tegas menatap kedua bola mata adiknya yang mulai berbinar.
Bibir Jihan melengkung sempurna membentuk senyuman lebar. Mendengar kata uang, tentu saja membuatnya sangat senang dan tidak mau menyia-nyiakannya.
“Baiklah, Kak. Aku setuju. Kakak pilihkan saja universitas yang bagus.” Jihan mengerling masih mengembangkan senyum di bibirnya. Membayangkan hidup bebas di luar negeri dipenuhi segala biaya hidupnya oleh sang kakak, membuat Jihan bersemangat menerima tawaran Yenny.
“Bagus! Itu baru adikku!” puji Yenny mengalihkan pandangan sembari tersenyum menyeringai. Dalam hati ia mendesah lega. Tak perlu susah payah membujuk Jihan agar mau pergi dari sini.
__ADS_1
“Kamu juga bakal ketemu sama banyak pria kaya di sana. Lupakan saja si Hendra sialan itu!” tegas Yenny membuat Jihan terdiam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Fauzan tengah frustasi di kantornya. Banyak kolega yang membatalkan kerja sama dengan perusahaannya, juga menarik investasi secara besar-besaran. Usaha yang baru saja akan dirintis sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Hancur sebelum sempat berdiri. Dan kali ini, Perusahaan Isvara juga di ambang kebangkrutan.
“Ya Tuhan! Aku harus bagaimana?” gumamnya menekan kepala dengan kedua tangannya.
Ditengah kegundahan Fauzan, dering ponsel memecahkan kesunyian ruang kerjanya. Dengan malas, pria itu meraih ponselnya. Kedua bola matanya berbinar saat melihat nama Yenny Isvara terpampang di layar benda pipihnya. Ia seperti mendapat setetes air di tengah padang pasir ketika melihat putri kesayangan dan kebanggaannya itu menghubunginya. Buru-buru Fauzan mengangkat telepon itu.
“Halo, Yenny. Apa kabar, Nak?” tanya Fauzan antusias.
“Yenny sudah pulang ayah, datanglah ke rumah sakit xx sekarang juga. Yenny tunggu!” ujarnya tanpa basa basi lalu menutup sambungan telepon tersebut.
Fauzan berdebar mendengarnya. Ia yakin, putrinya itu sudah mendengar kabar gonjang-ganjing keluarga juga perusahaannya. Fauzan merasa tengah mendapat angin segar yang berembus menerpa tubuhnya. Buru-buru Fauzan bergegas ke rumah sakit yang dimaksud oleh Yenny.
Semalaman tidak pulang membuatnya tidak mengetahui kabar istri dan juga anak-anaknya. Fauzan lebih memilih menghabiskan waktu dengan selingkuhannya, berharap bisa meredakan sedikit kekalutan di hatinya. Namun ternyata sama saja. Justru semakin membuatnya pusing.
Fauzan melangkah dengan cepat melalui lorong rumah sakit. Matanya mengeliling mencari keberadaan putrinya. Tangannya menempelkan ponsel sedari tadi untuk menanyakannya, namun Yenny enggan menjawab. Tak berselang lama, Yenny mengirim sebuah pesan yang berisi nomor ruangan.
Pria itu semakin mempercepat langkahnya. Hingga akhirnya, ia menemukan Yenny berdiri dengan angkuh di depan sebuah ruangan VIP. Kedua lengannya terlipat, pandangannya lurus ke depan.
Yenny tersenyum miring, ia memutar tubuhnya dan menyambut pelukan pria tua itu.
“Akhirnya kamu pulang, Nak!” ucap Fauzan setelah meregangkan pelukannya.
“Hm, pendidikanku telah usai, Yah. Dan aku ingin berkarir di sini saja.”
Sebelumnya, Yenny sudah lulus dengan gelar dokter. Dia juga sudah bekerja di sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal. Namun ia tetap melanjutkan pendidikannya untuk menjadi dokter spesialis.
“Bagus! Ayah sangat bangga padamu. Kamu memang putri kebanggan ayah, Nak!” puji Fauzan menepuk-nepuk puncak kepala Yenny.
“Oh ya, Yah. Aku pikir Jihan lebih baik kuliah di luar negeri. Untuk biayanya biar aku yang menanggungnya. Lagi pula, nanti di sana dia bisa ketemu banyak laki-laki kaya. Siapa tahu Jihan bisa menjadi pacar salah satu orang kaya di sana,” papar Yenny menjelaskan rencananya.
Mendengar penuturan tersebut, Fauzan semakin berbinar. Ia juga merasa Jihan hanya bisa membuatnya malu saja. Jadi kuliah di luar negeri adalah solusi terbaik.
“Ide yang bagus. Ayah setuju itu,” ucap Fauzan menganggukkan kepala dengan senyum lebarnya.
Tak berapa lama, Fauzan kembali terdiam. Wajahnya nampak muram, senyumnya memudar. Yenny yang melihatnya menyadari gelagat sang ayah.
__ADS_1
“Ayah kenapa?” tanya Yenny memancing pembicaraan. Padahal sebenarnya, dia sudah tahu permasalahan pria itu.
Helaan berat dihembuskan oleh Fauzan. “Yenny, apa kamu sudah mendengar kabar tentang perusahaan? Saat ini perusahaan Isvara sedang diambang kehancuran. Ayah benar-benar membutuhkan suntikan dana yang sangat besar untuk menyelamatkan perusahaan,” ujar Fauzan dengan wajah melasnya.
Yenny tersenyum menyeringai. Persis sesuai dugaannya. “Aku punya solusinya. Asalkan ayah sanggup memenuhi satu syarat dariku,” pinta Yenny sembari tersenyum.
“Apa itu? Ayah pasti akan melakukannya. Kamu memang benar-benar bisa diandalkan, Sayang!” Fauzan begitu antusias mendengar ucapan Yenny.
“Jangan ceraikan ibu! Maka aku akan membantu Perusahaan Isvara agar tidak bangkrut,” ucap Yenny dengan tegas disertai tatapan tajam.
Bersambung~
Karena sudah dilepas oleh editor, insyaAllah up tiap hari ya .. tapi jangan tagih 5 bab 😭😭🥰 mungkin akan segera kutamatkan juga... mungkinn 😌
OH iyaa. ini penting banget please di bacaa
Sebelumnya di bab 1 sudah ada pengumuman. Saya gak tau deh sampe capek banget jelasinnya. dan ini secara gak lgsg bilang plagiat ya. Padahal kami cuma menjalankan tugas dari noveltoon. entah kenapa harus dua author aku sendiri gak tau, keputusan pusat seperti itu. intinya stp penulis pasti punya kelemahan dan kelebihan sendiri dalam menuangkannya. dan juga memiliki gaya bahasa sendiri. saya lelah jelasinnya. lelah dituduh2 terus!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan FYI, semua karya yang sudah dikontrak oleh pihak Noveltoon tidak bisa dipublish di manapun. Baik itu youtube atau platform manapun. Apalagi awalnya nggak ada izin tiba-tiba comot upload di youtub dan tiktok tanpa kasih keterangan nama authornya. Please Jangan kayak gitu lagi ya. Hargailah penulisnya. Sudah capek-capek merangkai kata menjadi kalimat hingga menjadi sebuah novel beribu-ribu kata itu sulit. apalagi berusaha untuk gimana menggerakkan emosi pembaca, sampe begadang, lupa makan, lupa mandi. Tapi seenaknya sendiri dicopas? Tolongggg lah tolooong... author manapun akan menangis menjerit.
And then, abis dikomplain baru kasih nama author lalu nawarin kerja sama setelah pengajuan adsense. Hello, siapa sih yang gak mau duit. Mau banget lah yaa.. Tapi ini sudah terikat kontrak dan berkekuatan hukum. Mohon maaf sekali, Tidak bisa di upload di mana pun kecuali pihak noveltoon sendiri yang up. Saya nggak bisa melanggar kontrak demi kepentingan pribadi. walau di sini gak seberapa dapetnya.
kalaupun nggak ketahuan pihak NT. Ada malaikat yang senantiasa catet tuh. Dan pertanggungjawaban di sana lebih berat. Ah merinding jadinya. wkwkwkwk.
Lain kali jangan ada yang kayak gitu lagi ya~
Dahlah kepanjangan curhatnya. males bikin pengumuman di bab sendiri 😄
__ADS_1