Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 37. Seperti Heroin


__ADS_3

Simon menyengir, memamerkan deretan giginya. Ia menggaruk belakang kepala kemudian duduk di sebelah Gerry yang merasa tak terganggu.


“Tidak denger apa-apa, Kak. Hehe,” celetuk Simon membuat Hansen berdecak.


“Ck! Dasar!”


“Aku rasa Kak Leon nggak pulang deh, kita pulang aja.” Simon berpendapat sembari menatap sepupunya itu.


“Hemm … ya, aku juga berpikir begitu.” Hansen menatap jam di pergelangan tangannya. “Kita tunggu sepuluh menit lagi,” anjur Hansen yang diangguki oleh Simon.


“Kamu nggak pulang, Ger?” Kini Hansen beralih pada pria berkacamata, yang menjadi asisten Leon itu.


Gerry menggeleng pelan, “Saya akan menemani Tuan Leon. Takutnya, beliau membutuhkan sesuatu,” jawab Gerry dengan tenang.


Hansen dan Simon hanya mengangguk mendengar penuturan pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa menoleh saat Leon hendak membuka cadarnya. Ia menghindar, Leon jadi canggung, tapi tidak memaksa Khansa, tangannya kembali turun. “Apa Hendra pernah melihat wajahmu?”


Khansa menggeleng, “Tidak pernah,” sahut Khansa pelan.


Nampak kerutan di kening pria itu semakin dalam. Sorot matanya memancar tak percaya.


“Aku selalu pakai cadar sejak dulu,” sambung Khansa lagi.


“Kamu berbohong!” ujar Leon tegas.


Khansa menggeleng, “Aku nggak bohong,” sanggah Khansa.


“Tapi pertemuan pertama kita kamu tidak memakai cadarmu!” tegas Leon mengingatkan.


Khansa kembali membuka ingatannya sewaktu perjalanannya pulang dari desa. Ia melepas cadarnya.


“Itu, karena … waktu itu hujan deras, cadarku basah jadi aku melepasnya. Belum sempat memakai yang baru, kamu tiba-tiba masuk mengejutkanku.” Alasan yang cukup logis. Lagi pula waktu itu semua pria yang melihatnya sudah mati.


Leon merasa euforia dalam hatinya, senyumnya tertahan, ia memaksakan diri untuk puas, cadar ini membuat Khansa semakin misterius dan orang lain sangat ingin melepaskan cadar itu dari wajah Khansa. Leon menunduk, menyibak kain penghalang itu lalu mencium bibir Khansa, mereguk manisnya bibir indah itu.


Ya, semua yang melekat di tubuh Khansa memang sangat indah. Leon tidak bisa memungkiri itu. Bahkan bibir Khansa, kini sudah seperti heroin yang membuatnya candu dan ketagihan.

__ADS_1


Tangan lebar pria itu menahan tengkuk Khansa, agar gadis itu tidak dapat mengelak, menerima semua serangannya. Penyatuan bibir yang benar-benar memabukkan, kerinduan yang membuncah seketika terbayar lunas.


Leon masih menikmati pagutannya. Khansa membeku dengan jantung yang sudah meletup-letup di dalam sana. Tangannya meremas ujung kaos yang ia kenakan saat ini. Kedua manik matanya melebar. Ia dapat melihat dengan jelas betapa tampannya pria di depannya ini, mata elang tajam yang ditumbuhi bulu mata lentik kini berubah sayu, juga hidung mancung yang kini beradu dengan hidungnya.


Napasnya tertahan, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Meski ia tidak tahu bagaimana cara membalas ciuman itu, Khansa menikmatinya, dengan dada yang sudah berdenyut kencang.


“Mmmpphh!” Setelah beberapa lama, Khansa tersadar. Kedua tangan kecilnya mendorong dada Leon hingga pagutan bibirnya terlepas. Napas keduanya tersengal-sengal. Leon menyatukan kening mereka, keduanya berlomba-lomba berebut oksigen.


“Ada apa?” Suara Leon terdengar lebih berat dari biasanya.


“Nanti … ada yang masuk,” jawab Khansa terbata-bata masih menahan dada bidang pria itu.


Senyum tipis tersungging di bibir Leon. Ia dapat menyimpulkan kalau Khansa sangat menikmati ciuman itu. Tanpa berucap lagi, Leon kembali menyatukan bibir mereka. Membuat Khansa kelimpungan, tangannya refleks menahan dinding di belakangnya. Tubuhnya terhimpit oleh badan kekar Leon.


Khansa tidak menduga Leon masih ingin melanjutkan, Leon mengabaikan tangan Khansa yang kembali memukul dadanya untuk menghentikan aksinya. Leon terus lanjut, sampai terdengar suara pintu terbuka.


“Kak Leon! Oopps!” Simon menutup kedua matanya saat kepalanya menyembul masuk dan melihat ciuman panas mereka. “Maaf,” lanjutnya lalu kembali menarik pintu hingga tertutup rapat.


Leon melepas pagutannya, dalam hatinya menggeram marah karena ada yang mengganggu kesenangannya. Sungguh, Khansa sangat malu, kedua pipinya memanas. Ingin rasanya ia tenggelam ke dalam sumur. Suasana menjadi canggung.


Leon menjauhkan tubuhnya, “Istirahatlah lebih awal,” ujarnya menyeka bibir Khansa yang basah karena ulahnya. Lalu melenggang pergi setelah mengusap puncak kepala gadis itu.   Ia berjalan keluar sembari memasukkan tangan ke dalam saku celananya.


Khansa pun beranjak setelah merasa lebih tenang. Dengan langkah gontai, Khansa akhirnya bisa mencapai ranjang tempat Bibi Fida terbaring.


Ia mengembuskan napas beratnya. Menyentuh tangan lemah wanita tua itu, meletakkannya di pipi. “Bibi, aku mohon bertahanlah,” ucap Khansa.


Rasa lelah dan kantuknya yang menyerang, membuat Khansa memilih untuk berbaring saja. Ia merapikan selimut yang menutupi tubuh sang bibi terlebih dahulu. Kemudian melenggang menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana. Tak berapa lama, Khansa sudah masuk ke alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di luar ruangan Simon berlari menuju kursi stainless, menjatuhkan pantatnya dengan keras, hingga membuat Gerry dan Hansen terkejut. Wajahnya nampak memerah.


Hansen dan Gerry mengernyitkan keningnya bingung. Baru membuka mulut hendak bertanya, Leon sudah menyusul mereka dengan langkah coolnya.


“Kak Leon,” sapa Simon menahan tawanya Ingin sekali ia meledek kakak dinginnya itu. Namun diurungkan ketika melihat Leon memicingkan matanya yang tajam.


“Aku ... eh kami mau pulang. Kakak di sini ‘kan? Iyalah pasti itu. Kan ada kakak ipar di sini. Emmm ....”


Tidak berani melanjutkan kalimatnya, Simon merapatkan kedua bibirnya. Mata Leon semakin memancarkan kemarahan. Harusnya bukan marah, lebih tepatnya malu. Namun, Leon mampu menutupinya dengan baik. Hingga Simon pun membungkam dan bola matanya bergerak-gerak tak tentu arah.

__ADS_1


“Kakak di sini?” tanya Hansen menepuk bahu Leon.


“Hmm!” jawab Leon hanya dengan deheman.


“Baiklah, kalau begitu kami pamit,” lanjut Hansen beranjak lalu merangkul bahu Simon dan melenggang pergi.


“Ger, pulanglah dan beristirahat. Besok pagi jam 6 jemput aku!” ucap Leon pada sang asisten.


Gerry pun mengangguk patuh. Ia segera membereskan barang-barangnya kemudian pergi setelah membungkukkan setengah tubuhnya. “Permisi, Tuan,” ucapnya yang hanya dibalas dengan anggukan.


Leon mengambil satu batang rokok, menyulutnya dan mulai menyesap tembakau bercampur nikotin itu. Ia bersandar pada dinding, kepalanya mendongak ke atas. Mengembuskan asap rokok hingga membumbung di atasnya.


Satu batang, dua batang bahkan hingga lima batang rokok ia sesap, barulah bisa menekan getaran panas di hatinya. Setelah meredam debaran dadanya, Leon memutuskan kembali masuk ke ruang pasien.


Ia membuka pintu dengan sangat pelan. Takut jika menggangu Khansa kalau gadis itu sudah tidur. Dan benar saja, netranya langsung menangkap tubuh indah Khansa yang meringkuk di sofa.


Leon melihat keadaan Bibi Fida sejenak, lalu beralih pada Khansa. Ia berjongkok, menatap lamat-lamat perempuan yang sangat cantik di hadapannya.


Saat tertidur seperti itu, Khansa mirip seorang bayi yang polos. Leon tersenyum, merapikan anak rambut Khansa. Gadis itu tidak merasa terganggu. Leon membenarkan posisi Khansa, meluruskan kedua kakinya dan melepas jas untuk menyelimuti gadis itu.


Leon meletakkan ponsel Khansa di meja, lalu ikut berbaring, memiringkan tubuhnya dan memeluk Khansa. Kemudian mengecup kening Khansa, tidak lama setelahnya Leon juga terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa merasa sangat nyaman, ia tengah berada di hamparan bunga yang sangat indah. Tawanya tak pernah pudar dari bibirnya. Ia tak sendiri, ada seseorang yang terus menggenggam tangannya, merengkuh tubuhnya ke dalam dekapan hangat pria itu, sesekali mencium keningnya. Nyaman, Khansa sungguh merasa nyaman bersamanya. Kebahagiaan pun membuncah. Sebuah mimpi yang sangat indah.


 


Bersambung~


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2