Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 191. Interogasi


__ADS_3

Keduanya saling menatap kuat, Khansa mencoba meredam debaran jantungnya. Napasnya pun mulai berembus perlahan, meski tangannya masih gemetar disergap kekhawatiran.


"Hei, ada apa, Sayang?" tanya Leon dalam keremangan cahaya, menangkup sebelah pipi Khansa yang masih basah. Manik mata indahnya masih berkilau dengan lapisan cairan bening yang siap meluncur.


"Kamu dari mana? Kamu baik-baik saja 'kan? Kenapa kamu selalu saja membuatku khawatir Leon!" cecar Khansa memeluk pria itu dengan erat, menyandarkan kepala di dada bidang sang suami.


Tak berapa lama, muncul Simon dan Hansen yang mendekat ke arah mereka berdua. Memandang lekat pasangan suami istri itu tanpa ingin mengganggunya. Leon hanya terdiam, membalas erat pelukan sang istri mengecup puncak kepalanya sembari membelai rambut panjangnya.


"Kita masuk, udara malam tidak baik untuk kesehatanmu." Leon melepas rengkuhannya merapikan rambut di kedua sisi wajah Khansa tanpa menjawab pertanyaan istrinya itu.


"Kakak ipar, jangan khawatir." Simon membuka suara.


Khansa melongokkan kepala, karena tubuh mungilnya tertutup oleh badan tinggi sang suami. Keningnya mengernyit heran. "Simon, Hansen?" gumamnya pelan lalu kembali memandang suaminya.


"Kami sedang ada pekerjaan, kakak ipar," sambut Hansen yang menangkap raut bingung dari wajah Khansa.


"Oh, kalian menginap di sini juga?" balas perempuan itu.


"Tidak, kami menginap di sebelah. Ayo Simon! Selamat istirahat kakak ipar," ujar Hansen sedikit menunduk lalu menarik lengan Simon yang melambaikan tangan dengan senyum lebar. Ia takut salah bicara jika Khansa mencecarnya. Karenanya, segera melarikan diri.


Leon segera membawa Khansa masuk dan kembali ke kamar dengan hati-hati. Tangannya saling bertautan, saat masuk ke kamar Khansa hendak menyalakan saklar lampu. Namun buru-buru disergah oleh Leon.


"Jangan dinyalakan, kepalaku pusing kalau terlalu terang!" kilahnya. "Aku mandi dulu ya," lanjut Leon melenggang ke kamar mandi. Ia ingin segera menghapus jejak luka yang menempel pada tubuhnya.


Khansa terpaku, alisnya saling bertaut memandang punggung lebar suaminya yang semakin menjauh. "Kenapa dia seperti menghindar? Terus kenapa dia jalannya seperti itu?" Khansa bertanya pada diri sendiri, merasa ada kejanggalan pada lelakinya itu.


Ia beralih menyiapkan pakaian tidur untuk Leon, meski rasa penasaran masih membumbung tinggi. Gejolak batinnya semakin menyeruak. Namun setidaknya, ia sedikit lega dengan kehadiran Leon saat ini.


Khansa duduk di tepi ranjang, jemarinya menepuk-nepuk paha. Sudah beberapa kali ia menoleh pada pintu kamar mandi. Sesekali beranjak, lalu kembali duduk lagi. Helaan napas panjang ia embuskan berkali-kali.


"Ceklek!"


Akhirnya setelah 30 menit lamanya Leon keluar dengan balutan handuk putih yang melingkar di pinggangnya, sedikit mengusak rambut dengan handuk kecil lalu segera melemparnya ke dalam keranjang kotor.


Khansa tak berkedip menatapnya. Ia segera memeraih baju ganti Leon dan menyerahkannya. Leon menyambutnya sekaligus memberi kecupan di kening istrinya. "Makasih, Sayang!" ungkapnya lalu memakai pakaian di hadapan Khansa.


Mata bulat wanita itu semakin melebar lalu refleks memutar tubuhnya untuk membelakangi Leon. Sedangkan Leon hanya tersenyum menyeringai melihat istrinya yang malu-malu seperti itu.


"Padahal udah sering lihat, ngapain harus berbalik?" bisik Leon melingkarkan lengan kokohnya pada perut Khansa yang sudah mulai sedikit menonjol. Aroma khas sang suami menguar sampai ke hidung wanita itu, mampu membuat sekujur tubuhnya meremang.


"Iissh!" geram Khansa menepuk lengan pria itu.


Leon tertawa, "Kita makan malam dulu ya. Pasti laper 'kan?" ucap Leon beralih berdiri di sebelahnya. Lengannya masih merengkuh pinggang wanita itu.

__ADS_1


Khansa mengangguk, perutnya memang meronta sejak ia terbangun tadi. Keduanya segera melenggang menuju ruang makan. Khansa terpaku, di sana sudah tersaji berbagai jenis makanan dengan beberapa lilin yang menyala. Di tengah meja yang luas itu terdapat rangkaian bunga lily putih yang masih segar.


"Wah! Aku pikir harus masak dulu. Ternyata tinggal makan," celetuk Khansa berbinar ketika semakin mendekat. Keterkejutannya kian bertambah ketika melihat seorang violin yang membungkuk setengah badan menyambut kedatangan pasangan tersebut, dengan biola beserta bow di tangannya.


"Mana mungkin aku membiarkanmu repot dan kelelahan, Sayang!" balas Leon menarik kursi untuk mempersilakan Khansa duduk.


"Aaaa ... sejak kapan Tuan Muda jadi seromantis ini!" ledek Khansa tertawa.


Leon tak menghiraukan cibiran istrinya. Ia hanya mendengkus lalu duduk di seberang istrinya. Mereka pun memulai makan malam itu diiringi gesekan biola yang mengalun indah di telinga.


Khansa memilih spagetti bolognaise yang tampak menggugah selera. Hingga beberapa suap, Leon bahkan masih belum menyentuh makanannya. Pria itu menatap lekat sang istri yang makan dengan lahap. Khansa mengangkat pandangan ketika tidak melihat pergerakan dari Leon.


"Kok kamu nggak makan?" tanya Khansa mengernyit heran.


"Enggak, rasanya mual. Lagian masih kenyang kok," elak Leon melebarkan senyumnya.


"Cobain deh, ini enak banget," lanjut Khansa mendekatkan sumpit pada bibir Leon. "Ayo makan, Sayang!" rayunya masih menggantungkan lengannya di udara.


Leon meneguk ludahnya. Ia sama sekali tidak selera makan apa pun. Tapi demi menghargai sang istri, ia mulai membuka mulutnya. Khansa tersenyum puas, sedangkan Leon seakan tersiksa dengan makanan yang mulai dikunyahnya itu.


Tak berapa lama ia beranjak dengan tergesa menuju wastafel tak jauh dari sana, memuntahkan makanan yang seolah ditolak oleh tenggorokannya. Khansa terkejut, ia hendak menyusul, namun Leon sudah berbalik dengan cepat.


"Kamu nggak suka ya?" tanya Khansa khawatir.


"Mau buah? Atau nasi ayam paprika? Udang crispy?" tawar Khansa bersiap mengambilkannya.


Leon menggeleng, "Enggak usah. Habiskan dulu makanmu. Setelah itu kita dansa," ucapnya menaik turunkan kedua alisnya.


"Hah? Apasih!" Khansa tersipu menggelengkan kepala, namun tak urung bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Beberapa saat berlalu, Leon berjongkok di hadapan Khansa, dengan lengan terulur ke depan, tatapannya mengarah pada wanita cantik di hadapannya. Khansa terpaku, namun kemudian menyambut uluran tangan Leon dengan senyum lembut. Keduanya beranjak berdiri, bergerak mencari tempat yang nyaman.


Leon memberi kode pada sang viollin agar mengganti lagu romantis. Satu tangannya menarik pinggang Khansa, merapatkan tubuh mereka. Sedangkan tangan Khansa diletakkan di bahu Leon, tangan lainnya saling terpaut satu sama lain.


Gesekan indah dari violin profesional mulai menggema di ruangan itu. Sebuah lagu berjudul love yang dipopulerkan oleh lyn ft. Hanhae sangat cocok menggambarkan perasaan pasangan muda itu.


Kaki mereka bergerak serentak, senyum selalu menghias bibir keduanya. Mata jernih nan bercahaya milik Khansa, saling beradu tatap dengan manik teduh Leon. Dua mata itu saling menyelami kedalaman masing-masing, merasakan cinta yang selalu tumbuh dan semakin kuat setiap harinya.


"Sasa! Terima kasih sudah menjadi pelangi dalam hidupku," ucap Leon pelan masih tak melepas pandangan dari wanita cantik itu. Tatapannya begitu dalam, sampai mampu menyentuh sanubari terdalam.


"Sebelumnya pasti datar dan nggak berwarna ya," kelakar Khansa terkekeh.


Khansa meregangkan tangannya namun masih menyatu dengan tangan Leon. Ia berputar lalu didekap oleh Leon. Posisinya berubah membelakangi pria itu, ia mendongak dengan mata terpejam kala Leon mengecupi bahunya. Kaki mereka bergerak seirama dengan perlahan.

__ADS_1


Violin itu pun dengan cepat mengganti lagunya menjadi somewhere over the rainbow, alunanya menjadi lebih lambat dan menusuk. Seiring dengan gerakan keduanya yang semakin intim.


"Ya," sahut Leon singkat sambil tertawa.


"Terima kasih juga selalu menjadikan aku ratu di hidupmu Leon." Khansa mengulurkan satu tangannya, membelai pipi Leon. Pria itu memejamkan mata, menikmati desiran darah yang mengalir deras karena sentuhan lembut Khansa.


Khansa mengernyit saat merasakan tangannya basah. Tidak mungkin itu keringat, perlahan kembali menurunkan tangan dan menatapnya lekat. Ketiga jari lentiknya berwarna merah, matanya mendadak semakin terbuka lebar. Tubuhnya sedikit bergetar dengan irama jantung yang bergelombang hebat.


"Mmm ... Leon. Aku mau istirahat," ujar Khansa yang tenggorokannya tercekat. Kedua kakinya terasa melemas. Ia tidak berani menoleh ke belakang, teringat dengan mimpi buruknya tadi, ketakutan kembali menyergap sekujur tubuhnya.


"Kamu lelah?" bisik Leon menghentikan gerakannya lalu mengangkat tangan pada sang violin agar menghentikan permainan indah biolanya.


Khansa hanya mengangguk. Leon segera menggandeng pinggang Khansa, berjalan menuju kamar. Perempuan itu sedang berperang dengan batinnya.


Sesampainya di kamar, Khansa segera merebahkan badannya di ranjang membelakangi suaminya. Leon pun tidak masalah, ia merapatkan tubuh dan memeluk Khansa dari belakang.


"Selamat malam, Sayang!" ucap Leon mencium kepala belakang Khansa.


Khansa memejamkan mata, deru napasnya memburu. Ia berusaha menenangkan diri dan menghindari panik berlebih. Tak butuh waktu lama, napas Leon berembus dengan teratur. Lengan yang menindih Khansa pun terasa lebih berat.


Wanita itu bergerak menghadap suaminya. Ia memperhatikan wajah tampan itu dengan seksama dalam keremangan lampu tidur. Matanya menangkap sudut bibir yang sobek, dadanya semakin berdebar kasar. Ia lalu menatap bantal berwarna putih yang menopang kepala suaminya. Dan air matanya menyeruak saat benda empuk tersebut berubah warna menjadi merah.


Khansa menutup mulutnya dengan rapat agar isakannya tidak keluar. Ia menggeser tubuhnya agar terbebas dari belitan lengan Leon. Kemudian beralih pada ranjang kotor, memungut handuk yang digunakan untuk mengusak kepalanya.


Mata jernih itu membelalak lebar, ia juga menemukan bercak darah di sana. Kepalanha mendadak pusing, kedua kakinya terhuyung dan hampir jatuh jika saja ia tidak berpegangan pada dinding.


"Apa yang terjadi padamu Leon? Kenapa kamu susah sekali mengatakannya padaku?" jerit Khansa tertahan disertai deraian air mata.


Secepat kilat perempuan itu berlari keluar, karena sepengetahuannya ada beberapa orang kepercayaan Leon yang berada di luar villa tersebut. Kebetulan Mario sedang melakukan breefing pada anak buahnya di sudut pelataran luas villa tersebut.


Khansa bergegas menghampirinya. Langkahnya cepat dan penuh emosi. Tangannya menyeka air mata dengan kasar. Khansa meraih punggung Mario dan memutar pria itu hingga bersitatap dengannya.


Mata indah itu menelisik sangat tajam. "Jelaskan padaku sekarang juga, Apa yang terjadi pada Leon!" tegas Khansa berucap penuh intimidasi. Mario terperangah, ia bingung harus mengatakan apa. Kepala pengawal itu tidak berani mendahului tuannya.


"Katakan Mario! Apa yang terjadi pada Leon! Siapa yang menyakitinya?" teriaknya mencengkeram kerah pria tinggi dan kekar tersebut dengan kedua tangannya. Manik jernih yang biasanya teduh itu, kini begitu tajam dan berkobar penuh emosi.


Bersambung~


Berasa hutang kalo gak up 😭😭 pdhal mah kalian gpp kan yak.. 😅 Mon maap kalo ada typo atau rancu. ngetiknya sembunyi2 🤣



Mau ngapain mbak Sasa? 😳

__ADS_1


__ADS_2