
Masih mengenakan piyama tidur dan sandal rumahan, Asisten Gerry datang membawa permintaan dadakan Leon yang mengganggu waktu tidurnya. Ia memang tinggal di area perkotaan.
Ada beberapa minimarket yang buka 24 jam, sehingga tidak terlalu sulit menemukannya. Namun tak dapat dipungkiri wajahnya tampak kusut dan sangat berantakan.
Dengan malas Gerry berdiri di depan pintu, menekan bell berkali-kali sambil berpaling dari pintu tersebut. Ia menyandarkan punggung sembari memeluk dua ember eskrim masing-masing seberat 1 kg dengan rasa berbeda.
"Hei! Kau terlalu berisik!" sembur Leon ketika membuka pintu.
Semua ARTnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Leon yang tahu kedatangan sang asisten segera turun dan membuka pintu. Apalagi Gerry menekannya berulang-ulang dan terasa tak sabar.
Segera pria berkacamata itu berdiri tegap dan membungkuk ketika berhadapan dengan Leon. "Maafkan saya, Tuan!" serunya dengan suara kencang, ia terkejut. Gerry segera mengulurkan eskrimnya, "Ini pesanan Anda, Tuan!" lanjutnya menurunkan nada bicara.
"Terima kasih. Mungkin saya akan terlambat ke kantor pagi ini. Kamu tangani saja dulu!" perintah Leon menutup pintu tanpa menunggu jawaban dari Gerry.
Pria itu mematung tak bisa berkata-kata. Hanya tercengang dengan mulut terbuka. Selang beberapa detik, Gerry mengusap wajahnya kasar sembari mendengkus kesal.
"Boss memang selalu benar dengan segala perintahnya," gumamnya berbalik berjalan menuju mobilnya. Sesekali masih menguap.
Leon meletakkan es krim pada freezer, ia kembali ke kamar. Namun istrinya masih tak nampak juga. Sudah satu jam lamanya Khansa tidak keluar dari kamar mandi. Leon pun merasa khawatir.
"Sayang!" panggil Leon sembari mengetuk pintu. "Sasa! Kamu kenapa nggak keluar-keluar?" serunya lagi.
Leon terus menggedor pintu hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka dari dalam. Khansa muncul dengan balutan bathrobe dan handuk yang melilit rambutnya. Senyum tersungging dari bibirnya.
Leon mengembuskan napas berat, menangkup pipi Khansa, "Kamu bikin aku khawatir," seru Leon lalu merengkuh bahu Khansa.
"Lagi berendam, panas banget," balas Khansa beralih duduk di depan meja rias. Tentu saja diekori Leon dan segera membantu mengeringkan rambut istrinya.
"Kamu itu aneh, masih sepagi ini kok bilang panas. Ohya, es krimnya udah dapat."
__ADS_1
Khansa berbinar dan terlihat menelan salivanya. "Mana! Mana?" serunya tidak sabar.
"Di kulkas, ganti baju dulu!" titah Leon segera diangguki oleh Khansa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di meja makan, Khansa sudah berhadapan dengan dua eskrim seperti keinginannya. Ia juga sudah mengambil sendok dan gelas berukuran sedang. Dengan semangat, ia mulai melahap dua varian yang jelas-jelas tidak pernah disukainya itu.
Mata indah perempuan itu sampai terpejam, "Mmmmm!" gumamnya mengepalkan tangan sembari memukulkannya di meja.
"Leon, cobain deh ini seger banget!" seru Khansa memberikan suapan eskrim durian dan strawberry itu pada bibir Leon.
"Kamu aja deh, habisin biar kenyang," elak Leon pelan.
"Iihh kamu juga harus coba! Nggak boleh nolak!" tegasnya menatap tajam.
Mau tidak mau, Leon pun membuka mulutnya dan dengan terpaksa menelan sensasi dingin di pagi hari itu. Bahkan Khansa lebih banyak menyuapinya daripada makan sendiri.
"Sasa ni, Nek. Dingin-dingin minta eskrim mana Leon yang dipaksa ngabisin!" gerutu Leon namun tetap saja menelan setiap suapan Khansa.
"Makan nasi dulu, Sayang!" ucap Nenek membelai puncak kepala Khansa.
Khansa menoleh dan hanya melempar senyum pada nenek. "Nek, boleh minta tolong buatin empek-empek? Sasa kangen banget empek-empek buatan nenek."
Leon mengernyitkan dahinya. "Apalagi ini, Sayang?" keluh Leon.
"Mmm ... maaf kalau ngrepotin, Nek. Tapi memang lagi pengen banget," gumam Khansa menunduk tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih.
"Tentu saja, Sayang. Nenek akan membuatkannya spesial untuk kamu!" sahut Nenek menepuk bahu Khansa, berharap wanita itu selalu bahagia. Rasa sayang nenek tidak pernah berubah sejak pertama kali datang ke rumah itu.
__ADS_1
Khansa menegakkan duduknya, senyum di bibirnya semakin melebar dan tampak binar di kedua manik matanya. "Asyik! Tapi Sasa maunya Leon yang buat, Nek. Jadi nenek cuma kasih instruksi aja. Sasa nggak mau nenek kecapean," seru Khansa menyentuh lengan sang nenek.
Sedangkan Leon melebarkan kedua matanya dan hampir melayangkan protes. Namun ucapan nenek dan Khansa adalah perintah baginya.
"Apa-apaan ini? Aku nggak bisa, Sayang! Lebih baik kamu suruh aku cari berlian dari pada bikin apa itu? Empek!" cebiknya dengan raut wajah kesal.
"Berlian 'kan gampang nyarinya di toko!" sanggah Khansa beralih menatap suaminya.
"Yaudah, kita pesen online aja ya, sayangku, cintaku, muuah!" gemas Leon mencium kening Khansa.
Sedangkan nenek hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat kedua cucunya itu. "Leon, Sasa maunya 'kan bikinan kamu. Bukan beli!" tambah nenek semakin membuat Leon frustasi.
'Kalian berdua, sengaja mengerjaiku ya!' geram Leon dalam hati.
"Aku maunya bikinan tangan kamu, Leon!" ucap Khansa dengan mata berkaca-kaca.
"Ahh! Ya Tuhan! Iya, iya! Kita bikin, okay. Ayo, Nek, ajarin Leon sampai bisa!" tandasnya mengacak rambutnya sendiri lalu beranjak berdiri.
"Kok nggak ikhlas gitu," protes Khansa dengan suara pelan.
"Enggak, Sayang. Aku ikhlas, rela, serius deh. Ayo, Cinta!" ucapnya menahan nada bicaranya agar tidak mengumpat atau terlihat kesal. Ia membangunkan sang istri dari duduknya lalu mencium kening wanita itu. "Apasih yang enggak untuk Nyonya Sebastian!"
"Makasih, Sayang. Maaf ya aku ngrepotin," ucap Khansa memeluk pinggang suaminya.
Keduanya segera menyusul nenek yang sudah melenggang ke dapur terlebih dahulu, berjalan bersisian tanpa melepas pelukannya.
"Enggak apa-apa, Sayang!" sahut Leon menghela napas panjang.
Bersambung~
__ADS_1
Sabar ya mas Le... Kamu kalo sabar disayang semua emak2 di sini loh. 😊