
Leon dan Khansa menghilang dibalik pintu sudah ditutup oleh pramugari khusus yang bertugas di pesawat pribadi tersebut. Seketika tangis nenek dan Emily pun pecah. Pipi mereka dibanjiri aliran deras cairan bening yang berhasil membobol sepasang sudut matanya.
Simon dengan sigap menangkup bahu sang nenek, lalu memeluknya. "Mereka nggak akan lama, Nek!" ucap Simon.
"Sudahlah, jangan ditangisi terus. Mereka pasti cepat kembali." Hansen meremas bahu Emily.
"Kaki aku!" pekik Emily menunjuk ke bawah.
Semua mata tertuju pada kaki Emily yang tanpa sengaja terinjak kaki besar Hansen. Pria itu membelalak lebar, buru-buru Hansen mengangkat kakinya lalu berjongkok.
Kedua tangannya mengusap lembut kaki putih dan mulus milik artis ternama itu yang nampak memerah. "Maaf!" ujar Hansen mengangkat pandangan.
"Sakit!" rintih Emily menyeka air matanya.
"Hansen! Gimana sih kamu ini? Bisa-bisanya nggak kerasa menginjak kaki Emily!" sentak nenek menepuk bahunya sangat keras.
"Nggak sengaja, Nek!" elak Hansen menangkis pukulan-pukulan nenek.
Hansen lalu kembali menunduk, meniup-niup sembari menggerakkan dua ibu jarinya perlahan pada kaki Emily yang hanya terbalut flat shoes bening dan menampakkan jari-jarinya indahnya.
"Udah, udah! Bangun Hansen," elak Emily merasa malu sekaligus tidak enak. Untung saja mereka tidak berada di keramaian, sehingga tidak menjadi pusat perhatian.
Rombongan itu segera kembali ke mobil. Hansen membungkuk, mengulurkan lengannya di hadapan Emily. Saling menatap sejenak, lalu menyambut uluran tangan lebar pria yang selalu membuat debaran jantungnya tidak aman sejak pertama kali bertemu.
Namun tanpa di duga, setelah Emily berdiri tegap, Hansen meraup tubuh gadis cantik itu ke dalam gendongannya. "Hansen!" Emily berteriak karena terkejut. Tangannya melingkar di leher sang kekasih, manik matanya saling menatap lekat, menyelami kedalaman masing-masing.
"Hei, kalian apa masih mau di sini?" teriak nenek membuka jendela dan melongokkan kepala pada pasangan yang masih sama-sama terpaku itu.
Seketika lamunan keduanya buyar dan kembali menarik kesadarannya ke dunia nyata. Hansen berdehem sembari menelan salivanya, pandangannya beralih ke sembarang arah mengikis rasa malu. Sudah tak terbayang seberapa merahnya muka dua sejoli itu. Emily menyembunyikan wajahnya pada belahan dada bidang Hansen. Hingga hidung kecilnya bisa menghirup aroma maskulin dari kekasihnya itu. Gelombang dada mereka saling berkejaran.
Hansen mendudukkan Emily di sebelah nenek. Ia masuk paling akhir, duduk di samping Emily. Namun keduanya tampak canggung. Bahkan Emily justru menoleh pada pemandangan luar di samping nenek. Sengaja tidak ditutup, karena wanita tua itu masih ingin menatap jernihnya langit biru dihiasi awan putih yang menggulung indah. Mobil melaju dengan perlahan keluar dari bandara. Tidak ada yang bersuara, kesunyian melanda seisi mobil mewah itu.
"Emily! Kamu akan kembali ke Bali?" tanya sang nenek setelah beberapa saat.
"Iya, Nek. Kemungkinan lusa," sahut Emily singkat. Hansen hanya meliriknya sekilas dengan ekor matanya. Tubuhnya duduk dengan tegap dan ekspresi dingin.
Simon mendesah kasar, jemarinya asyik berselancar di dunia kerja melalui tablet di genggamannya. Tidak mau ikut campur dengan asmara saudaranya itu.
__ADS_1
"Oh, cepat sekali. Kau sudah mengenalkan Emily pada orang tuamu Hansen?" Kini pertanyaan nenek terlempar untuk pria tampan di ujung kursi.
"Belum, Nek. Mereka masih di luar negeri." Hansen membalas singkat. Sedangkan Emily meremas ujung gaunnya, mengingat tadi ia berucap hanya akan menikah setelah Khansa kembali ke Indonesia.
Ciiiiiiitt!!!
Tiba-tiba Paman Indra menginjak pedal rem kuat-kuat hingga terdengar decitan yang sangat keras. Semua penumpang tubuhnya terhuyung ke depan. Seatbelt yang membelit, cukup kuat menahan badan mereka dari benturan.
"Indra! Hati-hati!" teriak sang nenek sempat menahan napasnya sesaat.
"Apa-apaan ini Paman Indra!" teriak Simon emosi yang duduk di kursi belakang. Tabletnya sampai terjatuh.
"Maaf Nyonya, Tuan. Ada mobil ugal-ugalan lalu berhenti mendadak di depan lalu menghalangi jalan kita," sahut Paman Indra dengan gemetar ketakutan. Bagaimana tidak? Ia harus bertanggung jawab dengan semua nyawa penumpangnya jika sesuatu hal buruk terjadi.
Semua mata menatap lurus ke depan. Tampak sebuah mobil sport mewah melintang, hingga badan mobil itu menutup akses jalan searah. Tak berapa lama, dua pria berbeda usia turun dari mobil. Aura kebencian masih menguar dari nenek Sebastian beserta cucu-cucunya.
"Kurang ajar! Apa mau mereka!" berang Simon mengepalkan kedua tangannya. Ia hendak turun namun ditahan oleh Hansen. "Tenanglah! Jangan terbawa emosi," ujarnya menoleh ke belakang dan menekan dada Simon.
"Biar Hansen yang turun, Nek." Hansen menggeser pintu mobil, namun nenek tidak bisa diam saja. Ia pun ikut turun dibantu Emily.
"Apa mau kamu, Tiger? Mau membunuh kami?" tanya Hansen bernada dingin dengan mata setajam elang.
"Maaf!" sahut Tiger singkat.
Milano yang melihat ibunya turun dari mobil segera menghampiri. Ia meraih tangan wanita itu, menggenggam keduanya. Tatapannya berubah sendu. "Ibu, aku dengar Leon pindah keluar negeri. Bisakah aku bertemu dengannya? Tolong kali ini saja," ucapnya menahan tenggorokan yang tercekat.
"Mau apa lagi? Sudah cukup kamu menyiksa Leon selama ini! Biarkan dia hidup tenang dan bahagia sekarang. Jangan pernah mengganggu mereka!" tandas Nenek Sebastian menatapnya tajam.
"Bu, aku cuma mau meminta maaf sama Leon. Aku tidak tahu jika ternyata selama ini aku salah. Sejak dulu, Leon tidak pernah mengeluh, bahkan selalu terlihat baik-baik saja. Maaf, Bu!"
Milano menunduk dalam dengan mata mulai berkaca-kaca. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya imbas dari semua tekanan yang ia lakukan dulu. Karena Leon selalu diam, tidak pernah berkeluh kesah ataupun menunjukkan rasa sakitnya.
"Kau ini ayah macam apa? Tidak tahu dengan kondisi anaknya sendiri!" cibir nenek.
"Iya aku salah. Aku mau minta maaf, Bu."
"Terlambat! Leon sudah terbang bersama istrinya. Aku harap kamu tidak mengganggu mereka dulu. Biarkan mereka menyembuhkan luka yang menganga setelah kehilangan calon anaknya! Suatu saat nanti, akan ada saatnya untuk kalian bertemu. Setelah semua sudah dalam keadaan baik!" papar nenek dengan tegas.
__ADS_1
Tubuh Milano membeku, dadanya teramat sesak karena harus menyimpan rasa bersalah dalam dada, yang setiap detik selalu menghantuinya.
"Singkirkan mobilmu!" perintah nenek mengibaskan tangan sambil menatap tajam Tiger yang tidak berani mendekat. Tiger masih diam mematung, ia bingung harus bagaimana bersikap.
"Hei! Selain kejam dan tidak punya hati! Kau juga bermasalah dengan pendengaranmu, hah?" sentak nenek yang masih dirundung kemarahan.
"Ma ... maaf, Nek!" nyali Tiger menciut setelah melihat berangnya sang nenek.
Ia segera kembali ke mobil dan memposisikannya di bahu jalan. Nenek dan yang lainnya pun melengos pergi meninggalkan kedua orang itu.
Dengan berjalan gontai, Milano kembali ke mobil tanpa mengeluarkan suara. Tiger merasa bersalah karena terlambat menemui Leon. Mesin mobil masih menyala, namun belum berniat menjalakannya. Kedua tangan Tiger mencengkeram kuat benda bulat di depannya itu.
Milano menyandarkan kepala sembari memejamkan matanya. Berkali kali ia menghela napas panjang dan membuangnya kasar.
"Maaf, Yah. Aku terlambat. Aku janji akan berusaha menemukan keberadaannya," ucap Tiger dengan yakin.
"Tidak usah! Benar kata ibu, kita beri dia waktu untuk menenangkan diri. Semoga ayah masih berumur panjang dan bisa bertemu dengannya," ucapnya membuka mata dan menatap kosong ke depan.
Tiger kembali mengatupkan bibirnya. Dalam diamnya, ia tengah mengumpulkan keberanian. Dadanya berdebar hebat sampai terasa nyeri. Ia sudah siap dengan semua konsekuensinya.
"Ayah!" panggilnya menelan saliva dengan berat. Suaranya bergelombang.
Keduanya menoleh serentak, matanya saling menatap kuat. Milano diam menunggu ucapan Tiger selanjutnya.
"Tiger, minta izin untuk menikah," katanya dengan lirih dan ragu-ragu.
Nampak sekali Milano terkejut dengan menautkan kedua alisnya. "Menikah?" ulangnya.
"Iya, Yah. Maaf, Tiger khilaf hingga membuat seorang perempuan hamil," akunya menundukkan kepala.
Milano membelalakkan kedua matanya. "Apa?!" sentak pria itu.
Bersambung~
Lama yaa.. 😁😁 maaf. Lagi ada acara. Sebulan ini memang bnyak acara tak terduga dan beruntun. terus ada waktu sedikit kepake buat ngejar target anu 😅
__ADS_1