
Jennifer lalu menyerang kakaknya, memukul-mukul Hansen dengan kepalan tangan kecilnya sambil berteriak. Leon yang masih belum mengerti titik perkara kini beranjak berdiri. Ia menyekal lengan kurus Jennifer dan menatapnya tajam.
"Berhenti, Jen! Biarkan Hansen menjelaskan dulu!" tegasnya membuat Jennifer mengangguk dan menurut. Leon memapah gadis itu duduk di kursi tunggu.
Leon beralih menatap Hansen dengan tatapan serius dan menuntut. Pria itu diam saja dipukuli dan dimarahi oleh adiknya. Karena memang merasa ia bersalah.
"Apa yang mau kamu jelaskan, Han?" tanya Leon dengan tatapan menyelidik.
"Malam ini, aku memang berencana mengajaknya bertemu ayah dan ibu. Tapi, tadi siang tiba-tiba mendapat kabar ada kecelakaan kerja di luar kota. Lima karyawan meninggal dunia. Aku terpaksa harus berangkat siang itu juga. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab. Tanpa disangka, ternyata sampai menjelang malam! Harus mengecek lokasi juga, memastikan tidak akan terjadi kecelakaan lagi." Hansen memejamkan matanya. Lengannya menyilang pada salah satu pillar yang menjulang di hadapannya.
"Sudah terlambat pulang, ternyata terjebak macet. Karena memang bertepatan jam pulang kerja. Aku terpaksa meminta Emily berangkat lebih dulu, maksudku biar tidak terlalu larut malam. Ternyata dia sampai di rumah lebih dulu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah," jelas Hansen menelan salivanya.
Jennifer kini kembali berdiri. Dengan lantang dan tegas ia menceritakan detail kejadian ketika di rumah. Bagaimana sang ibu menghina dan mengolok-olok Emily, mengungkit tentang karir Alexa dan membandingkan dua perempuan itu. Yang terakhir, Jen menceritakan bahwa ibunya menghina Emily yang hanya anak angkat dan tidak jelas asal usulnya.
"Kurang ajar!" desis Hansen mengepalkan tangannya dengan gigi bergemeletuk. Ia tidak terima dengan perlakuan wanita paruh baya itu. Napas Hansen menderu kasar. Matanya kini menatap nyalang. Jika saja, tidak sedang menunggu kabar Emily, ia sudah langsung kembali ke rumah dan memberi pelajaran pada ibunya.
Air matanya menetes, rasa bersalah semakin menyeruak dalam hati. Tubuhnya bersandar pada pillar, kepala mendongak dihiasi lelehan buliran bening mengalir dari sudut matanya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.
Leon menepuk bahu Hansen, "Selesaikan dengan gentlemen," titahnya.
Sementara itu di dalam ruang IGD, Emily masih terus menangis dengan seluruh tubuh yang kaku. Tim medis segera memasang infus dan selang oksigen, karena napas yang tidak teratur. Begitupun Bara yang tengah ditangani dokter jaga.
"Emily, Sayang. Kamu bisa dengar suaraku? Buka matamu jika kamu mendengarku. Tenang, rileks, tidak akan terjadi apa pun. Ada aku di sampingmu," bisik Khansa menggenggam jemari Emily. Satu tangannya membelai kening Emily yang basah karena keringat dingin.
Khansa terus memberikan sugesti, berusaha membuat Emily sadar tanpa harus diberikan obat penenang.
Beberapa waktu berlalu, Emily berhasil membuka matanya. Ia kembali pada kesadarannya. Dan pandangan pertama kali yang ditangkap netranya adalah senyum hangat dan tulus dari sahabatnya.
"Sasa? A ... aku di mana?" tanyanya dengan suara lemah.
"Tenang ya, kamu di rumah sakitku sekarang," jawab Khansa masih membelai puncak kepala Emily.
__ADS_1
Hantaman mobil yang ia kendarai kembali terbayang dan membuat air matanya kembali menyeruak. Dadanya mengembang dan mengempis dengan kuat. Matanya kembali terpejam.
Teringat dengan sang asisten, Emily lekas membuka mata. "Bara! Di mana Bara, Sa? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Emily khawatir.
"Sedang ditangani dokter lain. Apa yang kamu rasakan? Ada yang sakit di tubuhmu?" Khansa bertanya balik.
"Sesak sekali dadaku, Sa. A ... aku melihat kecelakaan beruntun di lampu merah. Dan itu mengingatkan aku waktu kecil dulu. Dari depan dan belakang saling berhantaman beberapa mobil. Aku melihat darah banyak sekali di wajah dua orang pria dan wanita di depanku. Mereka terhimpit badan mobil. Aku ... aku takut, Sa!" cerocos Emily yang meningkatkan detak jantung Emily.
"Baiklah, kamu istirahat dulu ya. Malam ini nginep dulu di ruang perawatan," ucap Khansa menoleh pada suster yang sudah membawakan sebuah suntikan beserta cairan yang mengandung obat penenang.
Khansa mengerti, Emily mengalami trauma berat di masa kecilnya. Kemungkinan besar adalah kecelakaan bersama kedua orang tua kandungnya. Ia segera meminta suster untuk memindahkan ke ruang perawatan.
Saat melalui pintu IGD, Hansen dan Jennifer segera menghampiri. Hansen menggenggam jemari Emily, menatap wajah cantik gadis itu yang memucat. "Sayang!" panggilnya mencium punggung tangannya.
"Aku memberinya obat penenang, dia trauma karena pernah terlibat kecelakaan besar di masa kecilnya. Besok akan dilakukan pemeriksaan CT-scan dan rognten untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Tolong hubungi Tuan dan Nyonya Frans," titah Khansa pada Hansen.
"Baik, Kak," ucap Hansen turut mengantar Emily ke ruang perawatan. Begitupun dengan Jennifer.
Leon beranjak berdiri, mencium salah satu pipinya dan mengusap pelan dengan ibu jarinya. "Semangat, Sayang!" ujar pria itu.
Khansa menarik tengkuk Leon, sedikit berjinjit lalu mencium bibirnya sekilas. "Terima kasih semangatnya, suamiku," ucapnya lalu berlari ke dalam ruangan.
Leon terkekeh, menyentuh bibirnya. "Udah bertahun-tahun masih aja malu-malu. Gemes!" gumamnya tertawa lalu kembali duduk di kursi tunggu.
Khansa melihat Bara yang sudah ditangani lukanya, dia masih tampak gelisah. Khansa menanyakan keadaannya pada dokter jaga. Setelah mendapat penjelasan, ia melakukan pemeriksaan ulang. Menyalakan senter pada bola mata Bara, juga memeriksa detak jantungnya yang terdengar antah berantah.
"Bara, kamu bisa mendengarku?" tanya Khansa pelan.
"Sakit! Tolong, kepalaku sakit. Tubuhku sakit semua! Tolong, di mana ayah ibuku. Di mana adikku. Tolong bawa aku pada mereka. Bagaimana kondisinya?" racau Bara di ambang kesadaran. Ia terus merintih kesakitan sambil mencari keluarganya.
Khansa mengangkat pandangannya, menatap dokter lainnya. "Sepertinya dia juga pernah mengalami kecelakaan besar. Silakan beri obat penenang, Dok. Lalu pindahkan ke ruang rawat berdekatan dengan ruangan Emily," titah Khansa pada dokter jaga sembari memasukkan stetoskop pada sakunya.
__ADS_1
"Baik, Dok!" balas dokter tersebut segera melakukan perintah Khansa.
Perempuan itu mengangguk, lalu melenggang keluar. Suaminya masih setia menunggunya. Leon mendongak kala mendengar pintu terbuka. Keduanya saling melempar senyum.
"Sudah? Bagaimana keadaannya?" tanya Leon beranjak dari duduknya, merengkuh bahu Khansa dari samping.
"Dia juga sepertinya pernah mengalami kecelakaan besar, Sayang. Trauma berat," jelas Khansa sembari melangkah.
"Kasihan sekali," tanggap Leon.
Sesampainya di depan ruang rawat Emily, Khansa melihat Hansen menunduk sambil sesekali menyeka sudut matanya.
"Han, kenapa di luar?" tanya Khansa duduk di sebelahnya.
Namun Leon segera mendudukkan dirinya di antara dua manusia itu. Khansa mendengkus, bahkan dengan sepupunya yang akan menikah saja masih menunjukkan sikap posesifnya. Ia pun menggeser tubuhnya ke ujung kursi.
"Aku nggak tega lihatnya, Kakak ipar. Aku tidak bisa mengampuni kelalaianku! Harusnya aku menahannya agar tidak datang! Harusnya aku meminta untuk menunggunya tidak peduli sampai tengah malam sekalipun. Ini salahku, gara-gara aku!" ucapnya terus menyalahkan diri sendiri.
"Mana putriku!" jerit Monica panik semakin mendekat bersama sang suami.
Bersambung~
Nah lo, Han? Bakal digoreng kamu sama Camer!
Ogah.... hadapi dengan gentleman dong. masa tanggung jawab ama karyawan gak mau tanggung jawab sama calon bini?
Han; Heh! Belum gw apa-apain, maemunah!
Asem kali kau, Han 😤 awas y!
__ADS_1