Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 25 : Han, Sadarlah!


__ADS_3

Sebuah suara bariton kini menyita perhatian mereka semua. Hansen memutar tubuh untuk melihat asal suara, ia melihat pria paruh baya yang masih gagah dan tampan berdiri tegap di hadapannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tuan Mahendra setelah melihat serpihan kaca yang berhamburan di mana-mana. Ia juga sempat mendengar teriakan putranya itu.


Jennifer juga bergegas masuk ketika ia mendengar teriakan Hansen setelah menelepon sang ayah. Gadis itu menangis tersedu-sedu ketika mendengar penuturan sang kakak.


Ia tidak menyangka bahwa mereka berdua hanya saudara tiri. Tubuh gadis itu terhuyung dengan tangisan yang hebat. Dadanya terasa sesak, ia berpegangan pada dinding lalu tubuhnya luruh ke lantai. Ia meringkuk memeluk kedua lututnya.


"Ayah! Aku sangat takut. Lihatlah Hansen jadi berubah menyeramkan. Aku yakin pasti dipengaruhi gadis itu," gumamnya segera melangkah pada suaminya dan memeluk erat lengan Tuan Mahendra.


"Diam!" teriak Hansen dan kali ini ia melesatkan kepalan tangannya pada figura besar yang ada di dinding.


"Hansen! Tenangkan dirimu!" sentak Tuan Mahendra.


Hancur sudah foto keluarga mereka sepuluh tahun yang lalu. Emily terkejut sembari menutup mulutnya, kedua manik matanya melebar. Ia tidak pernah melihat Hansen semarah itu.

__ADS_1


Agnes semakin merapatkan tubuhnya pada sang suami. Ia menyembunyikan wajah pada lengan kekar sang suami. Sedangkan Alexa menjauh dari mereka semua. Ia memilih untuk mencari jalan aman. Sungguh, kejadian ini benar-benar membuatnya syok sekaligus takut pada Hansen.


Semua orang yang ada di ruangan itu bergeming dengan jantung yang berdegub tidak karuan.


"Bicara sekali lagi menjelekkan Emily, akan kurobek mulut sampahmu itu!" pekik Hansen menunjuk Agnes dengan mata menyalang.


Emily segera melepas tangan Bara, meraih lengan Hansen dan menurunkannya. Sedang tangan satunya, ia lingkarkan pada pinggang Hansen, memeluk pria itu, berharap bisa meredam amarahnya.


"Hansen tenanglah," bisik Emily menatapnya nanar. Tangannya gemetar menutup punggung tangan Hansen yang mulai mengalirkan darah segar.


"Aku tidak akan tenang selama wanita itu belum sadar diri!" tegasnya tak mengalihkan tatapan elangnya pada ibu sambungnya itu.


Pria itu mencium kening Emily di depan semua orang. Sedangkan Emily memejamkan mata, masih memeluk pria itu dengan erat. Menyandarkan kepala pada dada bidang Hansen.


Alexa memalingkan mukanya, tidak sanggup melihat kemesraan pasangan itu. Tangannya sibuk meremas dadanya yang terasa sesak, lalu menyeka air matanya dengan kasar.

__ADS_1


Hansen menurut, Dia mengajak Emily ke kamarnya. Lalu mengambil kotak P3K yang tersimpan rapi di laci nakas menyerahkannya pada Emily.


Ia duduk di tepi ranjang. Napasnya masih menderu dengan kasar. Kedua tangan Emily gemetar, tenggorokannya serasa kering kerontang. Salivanya seolah sudah habis dilahap kepanikan, hingga tidak bisa membasahi tenggorokannya.


"Jangan nangis," ucap Hansen menepuk puncak kepala Emily.


"Kenapa kamu membahayakan diri sendiri? Lihatlah, darahmu tidak berhenti keluar," ucapnya dengan suara bergetar. Dengan telaten Emily mengobatinya, sesekali meniupnya.


"Kamu memintaku tenang, tapi kamu sendiri nggak bisa tenang," sanggah Hansen menyeka air mata Emily dengan satu tangannya.


"Karena aku khawatir sama kamu. Aku tidak mau keluarga kamu terpecah belah hanya karena aku. Jika tahu kejadiannya seperti ini, lebih baik aku pulang saja!"


Ucapan Emily seperti mematik api dalam hati Hansen. Pria itu langsung mendorong tubuh Emily dan menindihnya. Kapas dan obat merah yang ada di tangan Emily bahkan terlepas hingga tumpah di ranjang besar Hansen.


Kedua mata Emily membulat dengan sempurna. Dadanya berdegub tidak karuan saat Hansen menangkup pergelangan tangan Emily dan menaikkannya ke atas kepala.

__ADS_1


"Han ... sadarlah!" gumam Emily ketakutan.


Bersambung~


__ADS_2