Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 2 : Kencan Luar Biasa


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Hansen menghentikan langkah, segera memutar tubuhnya.


Emily semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka berdua. Senyum manis melebihi madu kini berpendar dari bibirnya. Gadis itu menghambur ke pelukan Hansen, menyandarkan kepala di dada bidangnya.


"Kangen banget!" gumamnya memejamkan mata. Menikmati aroma mint menyegarkan dari tubuh kekasihnya.


Hansen menyunggingkan senyum tipis. Ia membalasnya lebih erat. Memberi kecupan pada puncak kepala gadis itu. "Ayo ikut ke kantor! Aku lagi banyak pekerjaan."


Sedikit meregangkan pelukannya, Emily mendongak agar bersitatap dengan manik tajam Hansen. "Lagi ada penelitian?"


"Iya! Sebelum pemasaran harus diuji dulu," ujar Hansen merapikan rambut Emily.


"Asyik! Bisa masuk laboratorium raksasa lagi! Bentar aku mandi dulu." Emily kegirangan sembari bertepuk tangan. Ia segera mundur lalu berlari menuju kamar mandi.


Hansen menggeleng dengan senyum yang masih mengurai di bibirnya. Hal yang sulit dilakukan di depan orang lain. Ponselnya berdering, mengalihkan fokus pria itu. Tangannya merogoh saku celana, keningnya mengernyit saat nomor yang tidak dikenal tengah melakukan panggilan.


Sejenak ia berpikir sembari menggerak-gerakkan bola mata. Mengira-ngira sang pemanggil tersebut. Pria itu menghela napas panjang, kembali memasukkan ponselnya setelah menonaktifkan benda tersebut.


Hansen menyebarkan pandangan di kamar mewah serba pink itu. Kakinya melangkah dengan perlahan, lagi-lagi senyum tercetak di bibirnya saat melihat foto-foto kebersamaan mereka berdua terpampang di atas nakas.


Beberapa saat kemudian, Emily keluar dengan bathrobe membalut tubuh rampingnya. Tangannya sibuk mengusak rambut dengan handuk kecil.


"Sayang kamu keluar dulu! Aku mau ganti baju!" seru Emily di ambang pintu kamar mandi.


"Kenapa harus keluar? Ganti aja!" godanya.


"Issh! Enggak, tunggu di luar!" ucap Emily melangkah cepat ke arah Hansen, mendorong tubuh kekar itu keluar kamar.


Pintu tertutup rapat, sudah bisa dipastikan wajah cantik itu dipenuhi rona merah. Sambil senyum-senyum dan menari-nari gadis itu menyusuri lemari pakaiannya. Pilihannya jatuh pada gaun berwarna peach yang tingginya di atas lutut, berlengan panjang.


Setelahnya sedikit memoles wajahnya dengan make up natural. Rambut panjangnya digerai indah setelah dikeringkan dengan hairdrayer. "Perfect!" ucapnya menjentikkan jari di depan cermin.


Diraihnya hand bag berwarna pink lalu keluar dari kamar setelah berputar-putar di depan cermin memastikan lagi penampilannya.


Hansen masih berdiri bersandar dinding kamarnya sembari melipat tangan dan menyilangkan kaki. Ia menoleh ketika terdengar derit pintu terbuka. Selalu terpesona dengan perempuan itu apapun yang dikenakannya tetap terlihat cantik.


"Yuk!" ajak Emily melingkarkan lengannya pada Hansen.


Hansen berhenti, menangkup tangan Emily di lengannya. "Tunggu! Pakai masker dan topi. Biar kita bebas kalau mau keluar nanti."

__ADS_1


"Emang mau ke mana? Bukannya kita ke kantor kamu? Toh bawahanmu udah pada tahu 'kan?" elak Emily mengerutkan dahinya.


"Nggak pengen makan di luar?" tawar Hansen menunduk sembari menaikkan dagu Emily agar saling bersitatap.


"Enggak usah deh, nanti kita pesen aja. Aku nggak nyaman kalau di keramaian," ujar Emily.


Pria itu pun mengangguk. Keduanya melenggang dengan santai, hingga berpapasan dengan Bara. Pria gemulai itu memang sudah nyaman tinggal di sana karena kedua orang tua Emily yang memang welcome dan sudah menganggapnya keluarga. Ia selalu mengikuti Emily kemana pun. Kecuali saat bersama Hansen.


"Baby, mau ke mana?" tanya Bara menghalangi langkah keduanya.


Hansen bergerak cepat melingkarkan lengannya dengan posesif pada pinggang Emily, menariknya hingga membuat gadis itu tersentak. "Kencan!" sahutnya dingin menatap tajam seperti biasa.


"Iih biasa aja liatinnya nanti aku tambah klepek-klepek!"


Emily segera melayangkan pukulan pada lengan kokoh Bara. "Berani sama gue, Bar?!" semburnya melotot tajam.


Bara meringis mengusap-usap lengannya, "Aduh! Nggak laki, nggak perempuan sama-sama galak! By the way nih, kencan kok pakai pakaian formal. Kaku banget," cibir Bara mencebikkan bibir menatap penampilan Hansen yang terlampau rapi.


"Kencan kita 'kan luar biasa, Bar. Di dalam laboratorium raksasa sambil diramaikan banyaknya virus dan bakteri pada penelitian unsur, zat dan senyawa yang dipadu padankan menjadi ...."


"Aiiihh! Pliss deh, Baby. Jangan bikin kepalaku makin pusing. Otak kamu bener-bener terkontaminasi sama dia. Pasangan aneh!" gumam Bara menyentil kening Emily lalu melenggang pergi.


Hansen langsung menangkupkan kelima jarinya pada bibir Emily, merangkul lehernya lalu berjalan keluar. Berpapasan dengan sang mama, keduanya sekalian berpamitan. Tentu saja dengan senang hati ia akan mengizinkan. Apalagi, melihat Hansen yang begitu tulus dan sayang dengan Emily. Sudah sepenuhnya percaya dengan pria itu.


Seperti biasa, mobil milik Hansen langsung masuk ke basement khusus. Suasana sudah sepi karena jam kerja telah dimulai. Hansen turun meraih jas dan menyampirkan di lengannya. Lalu bergerak membukakan pintu untuk Emily. Mereka berjalan saling bertautan tangan menuju lift yang mengantarkan ke ruangan presdir.


"Sayang, aku ikut ke lab ya," ucap Emily menggerakkan tautan tangan mereka.


"Iya," sahut Hansen menekan puncak kepala Emily lalu mengacaknya. Terlalu gemas dengan kekasihnya itu.


Derap langkah yang menggema di lorong lantai teratas, seketika membuat sekretaris Hansen berdiri untuk bersiap menyapanya. Sedikit terkejut karena pagi ini datang bersama tunangannya.


"Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi, Nona Emily. Senang bertemu dengan Anda lagi," sapa sekretaris itu.


"Pagi juga!" sambut Emily dengan senyum merekah sambil mengangguk dengan sopan. Bahkan sampai menoleh ke belakang. Karena Hansen terus melajukan langkahnya tanpa menoleh.


Masuk ke ruangan, Hansen segera menuju sebuah lemari APD yang ada di sudut ruangan. Ia mengambil dua pasang APD lengkap menerahkannya pada Emily.


Setelah menutup kembali lemari tersebut, ia meletakkan semua perlengkapan di meja. Satu per satu mengenakannya pada Emily. Mulai dari sarung tangan, jas lab khusus berwarna putih, masker khusus untuk keselamatan juga sepatu khusus untuk memasuki area steril nantinya.

__ADS_1


"Kamu nggak bawa ikat rambut?" tanya Hansen saat melihat rambut panjang Emily yang tergerai bebas.


"Mmm ... kayaknya di tas ada," ucapnya.


Hansen segera meraih hand bag itu mencari ikat rambut. Emily hanya berdiam diri mengayun-ayunkan kakinya. Setelah mendapatkannya, ia segera mengikat rambut Emily dan menutupnya dengan penutup kepala.


"Sayang, fotoin dulu dong. Biar keren gitu!" pintanya berdiri yang segera berpose.


Hansen menghela napas panjang, namun segera melakukan apa yang diminta oleh wanitanya itu. Berbagai gaya pun sudah diambil dalam beberapa jepret kamera ponselnya.


"Udah ya, kita harus segera masuk!" Hansen menghentikannya lalu mengenakan APD dengan cepat.


"Foto berdua belum! Jangan pakai dulu maskernya" rengeknya melepas masker.


Dan lagi-lagi Hansen hanya menurut. Kali ini mereka saling berdekatan. Emily memegang kendali kamera depan. Dan banyak sekali gambar yang ia ambil.


"Sayang, senyum!" teriak Emily mendongak.


Meski terasa kaku, Hansen pun menarik kedua sudut bibirnya. Berbagai pose intim pun berhasil didapatkan Emily. "Yess! Nah gitu 'kan ganteng," ucapnya tertawa puas.


"Udah, ayo pakai lagi maskernya!" titah Hansen. Emily mengangguk penuh semangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah melalui beberapa pintu yang hanya bisa terbuka dengan sidik jari dan scan retina, mereka sampai di ruangan utama. Di sana semua kimiawan dan beberapa staff sedang fokus dengan pekerjaannya masing-masing.


Mendengar kedatangan sang presdir, segera mereka menyapa sembari membungkuk. Emily membuka kaca mata bening lalu melambaikan tangan pada para karyawan Hansen itu disambut dengan kegirangan yang tertahan.


Selain mereka adalah para fans Emily, mereka juga turut berperan penting dalam acara proposal wedding beberapa tahun yang lalu. Karenanya Emily sangat menghargai mereka. Begitupun dengan para staff yang merasa tersanjung, artis kebanggaan mereka sama sekali tidak sombong dan begitu humble.


"Kerja yang benar!" sentak Hansen memicingkan mata. Semuanya segera kembali fokus dengan pekerjaan masing-masing. Ia lalu kembali memasang kaca mata Emily dan mengajaknya ke ruang induk.


Di sana sudah ada beberapa staff terbaik yang sudah menunggu kedatangan Hansen. Ia menyuruh Emily untuk duduk tak jauh darinya. Gadis itu menurut, ia senang sekali bisa melihat setiap proses di ruangan kedap suara dengan banyak sekali mesin, tooling, juga beberapa layar komputer raksasa.


Sementara itu, di kediaman Mahendra, Alexa tengah belajar memasak dengan Nyonya Mahendra. Gadis itu sama sekali tidak pernah bertempur di dapur sebelumnya. Ia merasa kesulitan dan sedikit jijik bergelut dengan bahan-bahan makanan.


"Nanti lama-lama juga terbiasa, ya 'kan Alexa? Kamu harus bisa mengambil hati Hansen. Siang ini antarkan ke kantornya. Dia pasti sangat terkejut nantinya," ujar Nyonya Mahendra yang menatap reaksi wajah Alexa.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2