Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 43. Menghindar


__ADS_3

“Bugh!”


Dentuman terdengar begitu keras dari tinju Leon, namun Khansa tidak merasakan apa-apa. Khansa mengerjapkan mata perlahan.


Sesaat pandangannya beradu dengan mata tajam Leon, pria itu masih menggertakkan giginya. Mata Khansa beralih pada tangan Leon yang ternyata memukul tembok tepat di sebelahnya.


“Ka ... kamu berdarah,” seru Khansa terkejut menutup mulutnya saat melihat darah yang mengalir dengan deras dari punggung tangan Leon.


Kedua tangan Khansa mengulur, hendak meraih jemari Leon yang sudah dipenuhi darah itu. Namun Leon segera menepisnya.


“Enggak usah sok peduli!” ucap Leon menggertak disertai deru napas yang memburu.


Leon melepaskan Khansa, dan pergi keluar menghempaskan pintu, tanpa berucap satu patah kata pun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Leon sudah bersiap pagi-pagi sekali, satu hal yang pasti, ia sedang tidak ingin bertemu dan bertegur sapa dengan Khansa. Langkahnya terburu-buru, wajahnya terlihat suram bahkan menyeramkan.


Pagi ini, pria itu mengenakan kemeja hitam yang mencetak tubuh kekarnya. Dasi berwarna abu-abu menggantung asal dan tidak rapi di lehernya. Jas yang disampirkan di lengan kiri bersamaan dengan tas kerja yang dijinjing.


“Leon.” Panggilan itu seketika menghentikan langkahnya. Dalam hati menggeram, saat ini ia sedang tidak mau bertemu siapa pun.


“Kamu tidak sarapan dulu? Mana Khansa?” tanya sang nenek.


“Leon buru-buru, Nek. Oiya, Leon mungkin tidak pulang, ada pekerjaan di luar lagi selama beberapa hari ke depan,” jawabnya tanpa menoleh.


“Lalu mana Khansa?” Sang nenek mengulangi pertanyaannya karena belum mendapat jawaban.


Leon menelan ludahnya, hatinya seperti diremas tangan tak terlihat, “Masih tidur.” Ia kembali melanjutkan langkahnya.


“Eeeh tunggu, Leon! Tunggu sebentar.” Nenek Sebastian berjalan cepat ke arah dapur. Tak lama kemudian kembali lagi dengan sebuah paper bag.


Leon mengernyitkan dahinya, “Apa ini, Nek?” tanyanya.


“Itu red velvet buatan Khansa. Nenek yakin kamu pasti belum sempet mencobanya ‘kan kemarin? Nenek jamin rasanya pasti enak.”


Nenek masih menyodorkannya, Leon hanya menatapnya jengah. Mau tidak mau Leon menerimanya lalu berpamitan segera pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua jam kemudian, Khansa sudah turun dari kamar dengan rapi. Ia bersiap pergi ke rumah sakit untuk menjaga Bibi Fida.


“Khansa? Kamu sudah bangun, Nak?” tanya sang nenek yang tengah membantu menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Khansa mencoba menarik kedua sudut bibirnya, “Selamat pagi, Nek,” sapanya.


“Pagi, Sayang. Ayo sarapan,” ajak nenek.


Khansa mengangguk lalu segera duduk di samping neneknya. Seorang pelayanan dengan sigap melayaninya.


Khansa tidak melihat keberadaan Leon. Memang ia sempat tertidur ketika menjelang pagi. Jadi, sama sekali tidak bertatap muka dengan Leon lagi sejak semalam. Namun ia tidak berani menanyakan pada sang nenek.


Gadis itu tak banyak bicara. Hanya bersuara ketika nenek bertanya. Usai sarapan, ia segera bergegas ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Khansa termenung. Hatinya berkecamuk, pikirannya bercabang. Bayang-bayang Leon terus bergelayut di otak dan hatinya.


Sesampainya di rumah sakit, Khansa langsung memeriksan kondisi Bibi Fida. Ia menghela napas berat saat belum ada perkembangan. Tapi Khansa tidak menyerah, ia tetap melakukan yang terbaik untuk Bibi Fida. Kembali menusukkan beberapa jarum perak pada bagian dadanya dan beberapa titik akupuntur lainnya untuk memperlancar peredaran darah dan menyeimbangkan aliran energi. 


Sudah beberapa hari Khansa bolak-balik ke rumah sakit untuk menjaga dan membantu pengobatan Bibi Fida.


Menjelang malam, Khansa pulang ke Villa Anggrek. Kondisi Khansa  saat ini sangat menyedihkan, dia kelelahan karena menjaga Bibi Fida yang masih belum tersadar. Sejak hari itu, Leon tidak pernah pulang lagi.


“Sa, kamu sudah pulang?” tanya nenek melihat Khansa berjalan gontai memasuki rumah.


“Eh, nenek.” Khansa menghampiri di lorong menuju dan mencium punggung tangannya.


Nenek mengajaknya ke dapur sebentar, lalu memberikan secangkit minuman herbal, "Ini minumlah, kamu sangat lelah sekali kelihatannya. Nenek meraciknya sendiri. Ramuan ini biasa nenek minum kalau lagi kecapekan,” terangnya penuh perhatian.


“Istirahatlah. Apa kamu merindukan Leon?” goda sang nenek. “Leon bilang sedang dinas pekerjaan lagi. Anak itu bener-bener pekerja keras. Sampai melupakan istrinya. Awas aja sampai di rumah akan nenek hukum!” gerutu Nenek Sebastian.


Khansa tahu itu hanya alasan Leon untuk membohongi Nenek Sebastian. “Eeemm … Khansa nggak apa-apa kok, Nek. Jangan dihukum, ‘kan Leon kerja bukan main-main, Nek,” sahut Khansa terkekeh, meski dalam hatinya sendu.


“Yasudah kamu istirahat dulu saja. Kamu tampak lelah sekali,” ucap nenek kemudian.


“Iya, Nek, Khansa ke atas dulu ya. Terima kasih minuman herbalnya, Nek,” jawabnya melenggang pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, ponsel Khansa berdering, ia masih berada di rumah sakit. Saat melihat sang penelepon yang ternyata saudara tirinya, Khansa mengembuskan napas kasar.


“Mau bikin rencana apa lagi dia?” desahnya lalu mengangkat panggilan itu.


“Halo,” ucap Khansa setelah menggeser slide hijau di ponselnya.


“Khansa, lelet banget sih. Ditelepon dari tadi juga!” keluh Jihan di seberang.


“Nggak usah basa basi. Mau apa?” tanya Khansa to the point.

__ADS_1


“Iih sabar dong. Aku tuh mau ajak kamu ketemuan di bar 1949. Entar malem aku tunggu kedatanganmu jam delapan!” tandas Jihan.


Khansa tidak ingin tenggelam dalam suasana hati ini karena Khansa tidak akan melupakan tujuan awalnya kembali, Khansa masih punya banyak urusan yang harus diselesaikan. “Baik, aku akan datang tepat waktu malam ini,” balas Khansa setelah beberapa saat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bar 1949


Khansa tidak pulang dulu ke villa, langsung berangkat dari rumah sakit. Ia sudah mengabari sang nenek, akan pulang terlambat malam ini.


Khansa masuk ke dalam ruangan yang sudah dipesan oleh Jihan sebelumnya. Jihan sudah datang dan ternyata ia tidak sendiri. Ada Jane juga di sana.


“Hai Khansa kamu sudah datang? Sini-sini!” ujar Jihan melambaikan tangan, menyuruhnya duduk di sebelahnya.


Khansa pun menurut, ia duduk di sofa yang ditepuk oleh Jihan sebelumnya.


“Lihat deh, aku dibeliin satu set perhiasan sama Kak Hendra. Tuh liat, kalung, gelang dan cincin motifnya sama semua. Kak Hendra bilang, ini khusus dipesan untukku loh!” pamer Jihan menunjukkan perhiasan yang melekat di tubuhnya. Tangannya bahkan menjulur tepat di depan muka Khansa. Wajahnya sombong dan angkuh.


“Ck! Aku tidak tertarik sama sekali!” jawab Khansa dingin menepis lengan Jihan.


“Heh! Ini tuh perhiasan mahal tau! Jangan sentuh sembarangan! Kamu pasti iri ‘kan karena nggak ada yang kasih ke kamu?” cibir Jihan melotot tajam, menempelkan lengannya di dada dan menutup dengan tangan satunya. Seolah akan ada yang mengambilnya.


“Iya, Sa. Ngaku aja kamu pasti iri, cemburu ‘kan karena nggak bisa dapetin apa-apa seperti Jihan?” tambah Jane mengompori menatap remeh pada Khansa.


“Buat apa? Aku nggak butuh barang rongsokan kayak gitu,” ucap Khansa sadis.


Ponsel Khansa bergetar. Ia segera meraihnya, terlihat sebuah pesan masuk pada benda itu.


“Datanglah ke Bar 1949, ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu.” –Hendra.


Kebetulan sekali.


 


Bersambung~


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2