
Suci terus berjalan tanpa memperdulikan sang dokter yang terus melihatnya.
Sang dokter terkejut saat merasakan sebuah tepukan di bahunya, dokter tersebut sudah tau jika yang menepuk bahunya adalah rekannya yang berada di sampingnya, lalu dia pun menatap rekannya tersebut, dengan tatapan yang seperti berkata "ada apa".
Indah yang tau arti tatapannya berkata "Dre sepertinya kamu tertarik ya sama wanita tadi, tapi sayang dia sudah punya anak tapi tenang tidak semua wanita punya anak juga punya suami".
Indah langsung tau jika rekan kerjanya sedang tertarik dengan Suci, karena dia baru kali ini melihat Andre menatap seorang wanita sangat lama.
Suci sudah sampai didepan pintu dan dia langsung masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu karena adiknya sudah masuk mendahuluinya.
"Nenek", ucap anak laki-laki itu dan langsung memeluknya.
"Nenek, cepat sembuh agar kita bisa jalan-jalan lagi nek" ucap anak itu sambil menatap wajah yang sudah tidak muda lagi.
"Iya sayang nenek juga ingin cepat sembuh nenek bosan di sini, tapi kondisi nenek mengharuskan nenek tinggal disini, kamu do'akan nenek agar cepat sembuh ya" ucap sang nenek sambil mengusap Rambut cucunya itu.
"Sayang ayo kita pulang karena ayah dan mamah akan pulang sekarang karena kami ingin membersihkan diri" ucap sang mamah
"Iya nak badan ayah sudah sangat lengket dan bau", ucap Sang ayah sambil mencium aroma tubuhnya.
"Ih bau" ucap anak laki-laki itu karena melihat sang ayah mencium ketiaknya.
__ADS_1
"Nah itu kamu tau, jadi ayo kita pulang". ajak sang ayah
Adik Suci cemberut karena dia masih ingin di rumah sakit tapi apalah daya dia hanya seorang anak SD.
Kedua orangtua Suci berpamitan pada sang nenek begitu juga adik Suci, dan sebelum mereka pergi sang mamah berkata "maaf ya sayang kamu jadi ikut repot menjaga nenek".
"Mamah ini kenapa berbicara seperti itu, aku ini anak kalian jadi sudah sepantasnya aku menggantikan kalian jika kalian sedang tidak bisa menjaga nenek".
"Terimakasih sayang, kalau begitu kami pamit, ayo Deren".
Mereka pun keluar ruangan sang nenek namun lima menit berlalu suara ketukan di pintu terdengar dan Suci menoleh ke arah pintu.
awalnya Suci mengira jika itu mamah atau ayahnya yang kembali namun setelah beberapa detik pintu itu tak kunjung terbuka jadi dia memutuskan untuk membukanya karena itu pasti bukan orang tuanya.
"Maaf, mba boleh kami masuk karena kami akan memeriksa pasien".
"Silahkan Sus, Dok" ucap Suci sopan.
Suci pun menutup pintu setelah suster dan Dokter masuk, Suci melihat sang Dokter saat memeriksa neneknya, Suci merasa jika Dokter yang memeriksa sang nenek terlihat semakin keren di matanya.
"Aduh kenapa aku memujinya, ingat Ci kamu sudah punya pacar yang harus kamu jaga hatinya". ucap Suci dalam hati yang berusaha mengusir pikiran yang tidak baik.
__ADS_1
Mereka sudah selesai dan akan keluar namun sebelum itu suster bertanya "mba mana anaknya, sepertinya tadi anda datang bersama anak anda".
Suci kaget karena suster mengira sang adik adalah anaknya, Tapi karena dia pikir tidak masalah jika Suster itu mengira adiknya adalah anaknya akhirnya dia berkata.
"Iya sus tadi dia dibawa pulang oleh orang tua saya".
"Oh pantas saja dia tidak ada, kalau begitu kami permisi, dan semoga nenek anda cepat kembali sehat".
"Aamiin" ucap Suci sambil tersenyum.
Sedangkan Dokter Andre hanya mendengarkan pembicaraan mereka saja, karena sang suster sudah mewakili rasa penasarannya akan keberadaan anak wanita yang mecuri perhatiannya itu.
Mereka keluar dan setelah pintu tertutup sang nenek berkata "Tampan bukan? usianya delapan tahun lebih tua dari mu tapi rupanya masih seperti seumuran mu bukan".
Suci merasa bingung apa maksud ucapan sang nenek yang memuji Dokter yang merawatnya tadi.
"Dia belum menikah sayang" ucap sang nenek yang membuat Suci semakin bingung.
"Terus apa hubungan nya dengan aku nek, mau dia sudah menikah atau belum aku tidak perduli nek".
Nenek tersenyum lalu sang Nenek menanyakan perkembangan hubungan Suci dengan kekasihnya yang berada di luar negri sana.
__ADS_1
Suci menjawab apa adanya, dia tidak menutupi hal apapun tentang hubungannya kepada sang nenek karena sang nenek tidak pernah berkomentar yang tidak dia sukai berbeda dengan kedua orang tuanya yang selalu berkomentar pedas jika dia jujur dengan hubungannya dengan sang kekasih.