
"Apa" kaget Deni.
Deni tidak menyangka jika Mentari mencintainya selama ini, dia pikir jika Mentari dekat dengannya murni karena persahabatan.
"Tari aku pikir kita murni bersahabat dengan ku".
Mentri mengangkat kepalanya lagi dan dia berkata
" tidak ada yang namanya persahabatan yang murni antara seorang wanita dan laki-laki Den, mungkin jika ada satu dari seratus persahabatan itu menurut ku".
"Kau benar, tapi maaf Tari aku tidak bisa menerima cinta mu".
"Tenanglah kawan aku hanya mengungkapkan isi hatiku tidak berharap kamu membalasnya, karena aku tau kamu tidak memiliki rasa yang sama dengan ku".
"Lantas untuk apa kamu mengungkapkan isi hati mu jika kamu tau aku tidak mencintai mu?".
Mentari tersenyum dan berkata "Aku hanya ingin menyakinkan hati ku dengan mendengar dari mulut mu jika kamu tidak mencintai aku, agar aku tidak terus berharap pada mu Den, karena selama ini aku tau kamu tidak mencintai ku tapi aku terus saja berharap pada mu, mudah-mudahan dengan aku mengungkapkan rasa cinta ku, aku bisa membuka lembaran yang baru dengan orang lain".
"Aamiin" ucap Deni
"Den apa boleh aku memeluk mu untuk yang terakhir kali".
__ADS_1
Deni menganggukkan kepalanya dan Mentari pun langsung memeluk Deni. Setelah puas Mentari melepaskannya dan berkata
"Aku pamit semoga kita bisa berjumpa kembali" ucap Mentari.
Mentari pun pergi meninggalkan Deni yang termenung.
"Jadi aku sekarang sendiri tidak ada yang menemani, malang nya nasib ku". Deni pun menyusul Mentari meninggalkan Rumah Reyhan.
Karena Deni melamun saat membawa motor dia hampir saja menabrak seorang gadis yang sedang menyebrang.
Deni turun dari motornya lalu membantu sang gadis untuk berjalan ke pinggir setelah sampai di pinggir dia berkata
" apa kamu baik-baik saja Mila?".
"syukurlah kalau kamu baik-baik saja, kamu tunggu di sini dulu aku mau memindahkan motor ku dulu".
"Iya". jawab Mila
Deni memindahkan motornya agar tidak menghalangi pengguna jalan yang lain, setelah motornya di pindahkan ke tempat yang lebih aman, Deni pun menghampiri Mila yang sedang duduk di pinggir jalan di bawah pohon yang rindang.
"Mil kamu yakin tidak apa-apa?".
__ADS_1
"Aku yakin Deni aku cuman kaget doang".
"Apa ada yang sakit?"
"nah kalau kamu nanya apa ada yang sakit baru jawabannya iya ada yang sakit".
"Apa yang sakit tangan mu kaki mu atau apa?".
"Hati ku yang sakit karena baru di putusin eh tapi bohong, nih pantat ku sakit karena baru saja mencium jalan".
"apa perlu aku tiup".
"heh apa kamu sudah gila".
"Maaf saking paniknya tanpa sadar keluar kata itu" ucap Deni sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Begini saja jika kamu masih merasa bersalah kamu teraktir aku makan bakso saja, perut ku sudah lapar dari siang belum di isi".
"Baiklah ayo" ajak Deni pada Mila, dan merekapun pergi untuk membeli bakso".
*
__ADS_1
Selama dalam perjalanan Reyhan terus melamun, dia melamunkan banyak hal dari cita-citanya yang sudah di pastikan tidak akan terwujud, memikirkan Deni dan Mentari, memikirkan kedua orangtuanya, memikirkan kakeknya, dan memikirkan perusahaan ayahnya yang dalam hitungan jam akan beralih padanya walaupun masih di bantu sang kakek.
Reyhan sampai di negara tempat kakeknya tinggal dan terlihat sang kakek sudah menunggu mereka dengan beberapa orang yang Reyhan yakini mereka adalah tenaga medis yang akan merawat orangtuanya nanti.