Pengawalku CEO Ku

Pengawalku CEO Ku
Bukan nenek mu


__ADS_3

Mentari menghentikan motornya karena sudah sampai di halaman Rumahnya. Nenek mentari langsung turun dari motor Mentari lalu dia membuka pintu untuk mentari yang akan memasukan motornya ke dalam rumah.


"capeknya hari ini", ucap Mentari sambil duduk di atas sopa yang sudah usang


Mentari mengingat jika tadi Reyhan dan Deni pergi sebelum acara selesai "Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka kenapa mereka pergi tanpa berpamitan pada ku terlebih dahulu, tapi ya sudahlah mungkin mereka ada keperluan mendadak".


Tok tok tok


"Tumben sekali ada yang bertamu ke rumah ku" ucap Mentari sambil melangkah menuju pintu.


Mentari membuka pintu rumahnya dan alangkah terkejutnya dia saat mengetahui bahwa orang yang bertamu adalah orang yang mengikutinya dari tadi.


Mentari mulai merasa takut, dia takut jika orang yang mengikutinya ingin berbuat jahat padanya dan juga neneknya.


Mentari mengumpulkan semua keberaniannya untuk bertanya pada orang tersebut.


"Maaf paman ada keperluan apa paman datang kemari, karena setau saya nenek atau saya tidak pernah berurusan dengan anda sebelumnya".


"Nona Mentari apa boleh jika saya masuk terlebih dahulu sebelum saya menjawab pertanyaan anda".


"Maaf pak sepertinya tidak bisa, karena saya tidak mengenal anda, walau anda tau nama saya".


"Masuk lah" ucap nenek yang baru datang dan membawa minuman.

__ADS_1


"Terimakasih nek" ucap orang yang berseragam hitam tersebut.


"Nenek mengenal orang ini".


"Ya nenek mengenalnya dan sebaiknya kamu juga ikut duduk, karena ada yang ingin kami bicarakan pada mu".


Mentari merasa heran karena baru kali ini dia melihat orang tersebut tapi sang nenek mengenalnya.


Mentari duduk di samping sang nenek dan dia berkata " apa yang ingin nenek sampaikan pada ku"


"Baiklah nak, perkenalkan ini adalah orang suruhan kakek mu dari pihak ayah mu".


"Jadi aku masih punya kakek?"


"tunggu kenapa dia mau menjemput ku".


"Karena dia merasa jika sekarang kamu sudah dewasa dan bisa memikul beban yang akan dia berikan pada mu".


Mentari tertawa dengan sangat keras lalu dia berkata


"Tidak ada angin tidak ada hujan, dia mau menjemput ku, apa-apaan aku tidak mau nek aku mau bersama nenek di sini".


"Nak maafkan nenek tapi kamu harus ikut bersama dia untuk tinggal bersama keluarga asli mu"

__ADS_1


"Maksud nenek apa? Mentari tidak mengerti ucapan nenek".


"Maaf nak sebenarnya nenek bukan nenek kandung mu, nenek adalah pengasuh ayah mu dulu saat dia masih kecil dan saat kamu lahir nenek juga di perintahkan untuk merawat mu sampai kamu lulus SMA".


Mentari tidak percaya begitu saja dengan perkataan sang nenek "Nenek pasti bohong bukan, mana mungkin nenek bukan nenek ku".


"Percayalah nak ini memang sebuah kenyataan yang harus kamu terima, kamu ingat dulu kamu pernah bertanya pada nenek dari mana nenek mendapatkan uang untuk biyaya hidup kita sehari-hari".


"Iya aku ingat dan nenek bilang jika semua itu dari uang tabungan nenek dan uang tabungan ayah dan ibu ku".


"kamu benar nenek memang dulu berkata seperti itu, tapi sebenarnya uang yang kita pakai adalah uang pemberian kakek mu, dia selalu mengirim uang pada nenek setiap satu tahun sekali, itulah kenapa kita hidup sangat sederhana karena nenek harus pintar mengatur uang pemberian darinya".


"Tapi kenapa dia mengasingkan ku seperti ini?".


"untuk hal itu kamu bisa menanyakan nya langsung pada kakek mu nanti".


"Apa nenek akan ikut bersama ku ke sana?".


"Tidak nak nenek akan tinggal disini menghabiskan masa tua nenek di tempat ini".


"Oh, jika seperti itu aku juga tidak akan mau ikut bersama orang ini, aku akan ikut jika nenek ikut dengan ku".


"Maaf nek jika saya lancang ikut berbicara tapi tuan menyuruh saya untuk membawa nenek juga" ucap orang suruhan kakek Mentari

__ADS_1


"Jika seperti itu aku mau ikut bersama mu paman, lagi pula percuma juga aku melawan bukan kalian tetap akan membawaku".


__ADS_2