
Dan di sinilah mereka di ruangan sang nenek.
Suci sudah siap membawa tas besar dan sang nenek akan di dorong oleh ayahnya sementara ibu juga membawa beberapa barang yang pernah mereka bawa kerumah sakit.
Mereka pun keluar ruangan tersebut dan saat mereka akan sampai di halaman Rumah sakit tiba-tiba Embun bertanya "Ci mana dokter yang kamu katakan tadi dokter yang memeriksa nenek".
Mentari yang belum tau tujuan Embun mengajaknya kerumah sakit merasa heran karena Embun menanyakan dokter yang memeriksa sang nenek.
"Bun kenapa kamu menanyakan dokter yang memeriksa nenek?".
Embun berhenti berjalan dan Mentari pun berhenti karena melihat Embun berhenti begitu juga Suci, tapi Suci berhenti bukan karena Embun berhenti tapi karena melihat Dokter yang ingin dilihat sahabatnya berjalan seperti ingin menghampirinya.
Embun pun berkata saat jarak mereka sudah sedikit lebih jauh dari keluarga Suci.
"maaf aku lupa meberitahumu jika aku mengajakmu kesini selain ingin menemani Suci menjemput neneknya juga ingin melihat dokter" ucap Embun terhenti karena Suci menyenggol tangan Embun
Embun yang di senggol berkata "Apa" sambil melihat Suci.
__ADS_1
Suci langsung berkata dengan nada yang sangat kecil "Diamlah orangnya menuju kemari".
Mentari yang mendengar ucapan Suci mengikuti arah tatapan Suci dan Embun pun sama.
"Wah tampan sekali". ucap kedua sahabat Suci besamaan
Suci berdecak saat mendengar ucapan dua sahabatnya dan dia berkata "ingat kalian sudah punya suami".
Mentari tersenyum Embun pun sama, dan mereka melihat Suci lalu Mentari berkata "tidak perlu di ingatkan Ci kami juga tau jika kami sudah bersuami".
"Nah terus kenapa kalian memuji peria lain ".
Dokter Andre menghampiri mereka bertiga dan lansung memberikan sebuah resep obat pada Suci. "Terimakasih Dok".
ucap Suci saat menerima resep obat dari Dokter Andre.
Sang Dokter hanya tersenyum tipis dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu katapun.
__ADS_1
Embun dan Mentari melongo saat melihat sang dokter pergi tanpa mengatakan apapun.
"Tuh mata bisa berkedip lagi tidak, aku tau sih dia memang sangat tampan dan gagah tapi ga gitu juga kali reaksinya.
Embun dan Mentari tersadar dan berkata sambil melihat Suci kami bukan kaget karena melihat wajah dan penampilsnya tapi kami bengong karena dia tidak berkata satu katapun pada mu" ucap Mentari.
"Padahal terlihat jelas jika dia melihat mu dengan tatapan berbeda dari cara dia menatap kami". ucap Embun
"Mungkin dia melihat ku berbeda karena warna kulit ku".
Mentari ingin bicara jika Dokter itu menatap Suci dengan tatapan suka bukan karena menatap warna kulitnya, tapi Embun memegang tangan Mentari dan mengedipkan sebelah matanya, dan untungnya Mentari mengerti dengan kode yang di berikan Embun, dan Mentari pun mengurungkan niatnya itu.
Embun tau apa yang akan di katakan Mentari jadi dia mencegahnya karena Suci akan marah jika mereka mengatakan ada orang yang menyukainya, dan sampai saat ini mereka tidak tau apa alasan suci marah.
"Kamu mah suka gitu Ci suka bawa warna kulit" ucap Mentari
"lah memang kulitku berbeda dengan kalian bukan" ucap suci tapi dengan sikap biasa saja karena dia sudah menerima kenyataan itu, tapi dia suka menjadikan perbedaan itu alasan saat kedua temannya akan mengatakan jika ada yang melihatnya dengan tatapan suka.
__ADS_1
" sudah ayo kita susul mereka" ucap Embun sambil berjalan menuju orangtua Suci dan sang nenek.
"Eh kalian duluan saja aku harus tebus obat ini dulu" ucap Suci sambil berjalan untuk menebus obat sang nenek.