
Pagi telah tiba Mentari terbangun dengan wajah yang berantakan, "Dasar pengawal menyebalkan gara-gara dia aku menangis semalaman". ucap Mentari sambil merapihkan rambutnya yang masih berantakan
Setelah mengumpati pengawalnya Mentari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi dan memakai baju Mentari duduk di meja riasnya dan melihat matanya yang bengkak gara-gara menangisi Reyhan.
"Bagai mana menghilangkan bengkaknya masa iya aku ke kantor dengan mata yang seperti ini", ucap Mentari sambil terus menatap matanya yang membengkak.
Mentari memutuskan untuk membiarkan matanya seperti itu agar bisa di lihat Reyhan. Dia berharap Reyhan mau mempertimbangkan sarannya setelah dia melihat matanya yang membengkak akibat terlalu lama menangis karena dirinya.
Mentari berpamitan pada sang kakek dengan wajah yang masih murung.
Kakek yang tau masalah Mentari membiarkannya agar Mentari bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Mentari telah keluar dan kakek mendapat sebuah panggilan telepon dari orang suruhannya.
"Hao, Tuan".
"Iya ada apa?"
"Maaf tuan karena saya baru menghubungi tuan, maaf saya baru mendapatkan info tentang Reyhan buru tadi pagi karena untuk mendapatkan informasi tentang Reyhan sangat sulit karena identitasnya sengaja di sembunyikan".
"Jika seperti itu berarti dugaan ku benar jika Reyhan bukan orang sembarangan".
__ADS_1
"Anda benar tuan dia bernama Reyhan aditia nugraha dia adalah cucu dari Tuan Elang nugraha dan ayahnya bernama Burhan nugraha lalu ibunya bernama Sintia, dia memiliki satu orang kakak dan satu orang paman dari ayahnya.
"Apa benar mereka sudah Meninggal?" tanya kakak Guntur.
"Benar tuan bahkan dari informasi yang saya dapat bahwa mereka meninggal karena sebuah kecelakaan yang di sengaja oleh musuh mereka".
"Oh baiklah, jika seperti itu", ucap sang kakek yang ingin menutup telponnya namun suara orang di sebrang sana berkata "Maaf tuan apa anda tidak ingin tau Reyhan itu siapa?".
"Tidak perlu karena aku sudah tau dia siapa hanya dari namanya saja" ucap sang kakek dan dia berkata dalam hati "pantas saja dia sangat pintar ternyata keturunan Elang,
Setelah kakek Guntur menutup telponnya dia berkata dalam hati "Sepertinya aku harus mendekatkan mereka, apa lagi aku sekarang sudah tau identitasnya".
kakek Guntur tidak menyelidiki identitas Reyhan sejak awal karena percaya dengan Reyhan apalagi dia sahabat Mentari, tapi karena cerita Reyhan yang mengatakan bahwa dia mempunyai musuh jadi kakek Guntur menyuruh orang untuk menyelidiki Reyhan dia ingin memastikan jika yang dikatakan Reyhan itu benar atau bohong, dan ternyata Reyhan tidak berbohong dan kakek Guntur menemukan sebuah pakta bahwa Reyhan adalah cucu teman lamanya yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.
"Halo tuan ada apa ?'. tanya sang sopir.
"Tolong kamu suruh Reyhan untuk menggantikan mu mengantar mentari".
"Baik tuan" ucap sang sopir
Sang sopir menepikan mobil yang di kendarai olehnya, Reyhan dan Mentari bertanya bersamaan pada sopir tersebut mereka berkata
" paman" mereka langsung berhenti berkata dan saling menatap lalu mereka berkata lagi
__ADS_1
"kenapa berhenti", ucap mereka bersama lagi.
lalu sang supir berkata "kalian kompak sekali".
Mentari menatap mata Reyhan dengan tajam karena Reyhan menatapnya juga.
Lalu Reyhan bertanya lagi sambil menatap Mentari "paman ada apa? kenapa berhenti disini?".
"Maaf Rey sepertinya kamu harus menggantikan saya untuk mengantar nona Mentari ke kantor karena saya di perintahkan tuan besar untuk tidak mengantar nona lagi".
"Oh baiklah paman" ucap Reyhan
"Maaf nona saya harus pergi" ucap sang sopir.
Mentari tidak menjawab karena dia sedang tidak ingin bicara terlalu banyak.
"Jadi nona bisa kita berangkat sekarang". tanya Reyhan yang sudah berada di belakang kemudi.
Mentari tidak menjawab pertanyaan Reyhan dan terus menatap ponselnya.
Reyhan langsung menjalankan mobilnya, dengan sangat kencang dan itu membuat Mentari bersuara "apa kau ingin membunuh ku, pelankan mobilnya sekarang".
Reyhan memelankan laju mobil tersebut dengan sangat pelan dan itu juga membuat Mentari berkata "Sebenarnya kau kenapa Rey, kau ingin apa?".
__ADS_1