
"Jadi kapan kita akan berangkat, oh iya hampir saja aku lupa kita akan pergi kemana?". tanya Mentari
"kita akan berangkat nanti malam, ke kota s".
Mentari terdiam dan berpikir jika dia pergi malam ini maka dia tidak akan bertemu Deni lagi dan dia pun bertanya
"Paman apa tidak bisa besok atau lusa saja kita berangkatnya karena aku harus berpamitan pada teman-temanku dulu" ucap mentari
"Saya rasa masih ada waktu nona, jika anda berpamitan sekarang" ucap paman tersebut dengan melihat jamnya
"Kalau sekarang aku masih cape paman"
"Jika seperti itu maka jangan nona".
"Baiklah kalau begitu" ucap mentari pastah sambil mengirim pesan pada Deni yang isinya " Deni apa kamu sedang ada di rumah?".
Deni membalas " maaf Tari aku sedang berada di rumah Reyhan".
Lalu Mentari membalas pesan dari Deni "Oh..kalau begitu kapan kamu akan pulang?"
"Tidak tau Tari soalnya aku sedang menunggu Reyhan pulang".
"kalau begitu apa aku bisa meminta alamat rumah Reyhan aku akan ke menyusul mu ke sana".
Mentari menunggu pesan dari Deni yang isinya alamat Reyhan
"Kenapa lama sekali dia membalas pesan ku" tring pesan masuk " nah ini dia alamatnya".
"Nek aku berangkat dulu".
"iya hati-hati di jalan" ucap sang nenek.
Mentari berangkat menuju alamat yang di berikan Deni padanya, dan tidak berselang lama Mentari sampai di rumah Reyhan.
"Apa ini benar rumah Reyhan, jika benar kenapa Reyhan mau berteman dengan Deni yang biasa-biasa saja". Mentari merasa ragu untuk bertanya pada satpam yang berjaga alhasil dia mondar-mandir di depan gerbang Rumah Reyhan sampai Pintu gerbang di buka dan keluarlah Deni dari sana
__ADS_1
"ayo masuk" ajak Deni
Mentari masuk dan menyimpan motornya di dekat gerbang,
"Ini beneran rumah Reyhan Den".
"iya Tari ini Rumah Reyhan, besar bukan".
"Iya besar sekali ini pertama kalinya aku menginjakan kaki ku di Rumah sebesar dan semewah ini, aku tidak menyangka jika dia sekaya ini". ucap Mentari karena mereka sudah berada di teras rumah Reyhan
" kenapa tidak percaya?" tanya Deni penasaran.
" ya kamu pikir saja mana ada orang sekaya ini mau berteman dengan kita yang hidupnya pas-pasan"
"kamu benar Tari, kadang aku juga tidak mengerti kenapa dia betah berteman dengan ku yang tidak memberikan manfaat bagi dia".
lalu mereka duduk di teras rumah Reyhan dan terus berbicara.
*
Reyhan masih merenungi nasibnya yang malang,
"Bunda Aku mohon bangunlah aku akan lebih banyak meluangkan waktu ku untuk menemani mu kemanapun bunda ingin pergi, tapi ku mohon bangunlah".
Paman Deril menepuk pundak Reyhan karena dari tadi dia terus menunduk dan dia berkata "Tuan"
"Ya ada apa?" ucap Reyhan sambil mengangkat wajahnya dan melihat Deril.
"Semuanya sudah siap tuan tinggal membawa orangtua anda saja".
"Baiklah cepat selesaikan".
"Baik tuan, tuan apa anda tidak akan menghubungi teman tuan karena mereka sedang menunggu tuan pulang di kediaman tuan".
"Aku lupa paman, terimakasih sudah mengingatkan ku". ucap Reyhan lalu dia menghubungi Deni.
__ADS_1
*
Ponsel Deni berbunyi tanda ada panggilan masuk, Deni melihat dari siapa panggilan tersebut dan dia langsung mengangkat telponnya setelah melihat nama Reyhan yang muncul di layar ponselnya.
"Halo Reyhan kamu kemana saja? pergi tidak bilang? aku sangat khawatir pada mu, jadi cepat pulang aku sedang di rumah mu". ucap Deni nyericos
Reyhan pun menjawab pertanyaan Deni dengan tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi padanya
"Aku baik-baik saja Den, tapi kedua orangtua ku'' ucapan Reyhan terhenti
"Orang tua mu kenapa" tanya Deni panik
" orangtua ku kecelakaan Den dan mereka belum sadar sampai saat ini"
"Apa, jadi itu alasan mu meninggalkan acara sekolah tanpa berpamitan"
"Iya, maafkan aku" ucap Reyhan merasa bersalah
"Sekarang kamu di rumah sakit mana? aku akan kesana".
"Tidak perlu Den karena kami akan berangkat ke luar negri sekarang ke tempat kakek ku tinggal karena aku tidak mungkin mengurus mereka dan perusahaan ayah sendirian".
"Jadi kamu menelpon ku untuk berpamitan". ucap Deni kesal
"Iya maaf aku tidak sempat menemui mu dulu, karena kakek menyuruh ku berangkat sekarang".
"Apa kita akan bertemu lagi Rey" ucap Deni lesu
"Tentu saja kita akan bertemu lagi karena kita masih berada di dunia yang sama".
"Kau harus kembali kemari".
"Aku berjanji jika nanti sudah waktunya aku kembali aku akan kembali dan menemui mu sobat oh iya apa kamu mau mengabulkan satu permintaan ku?".
"Tentu saja apa itu?".
__ADS_1
"Aku ingin kamu mewujudkan cita-cita mu",
tanpa menunggu jawaban Deni Reyhan berkata lagi "ya sudah aku tutup telponnya karena mereka sudah menunggu ku ''.