Pengawalku CEO Ku

Pengawalku CEO Ku
sebuah kertas


__ADS_3

"Eh iya kata bos, kita akan pergi ke negara xxx". ucap Suci sambil terus membantu sang pelayan menata makanan di meja karena saat Mentari dan Suci membantu hanya tinggal menyalin makanan yang sudah matang.


"Ci tunggu mas Reyhan kapan bilang jika kita akan liburan ke sana?" selidik Mentari.


"Kemarin sebelum kami pulang kantor Embun juga sudah tau" ucap Suci santai.


"Oh jadi Reyhan hanya bercanda saat bilang dia tidak akan menjalankan rencananya jika aku tidak mengabulkan permintaannya, awas kamu mas" ucap Mentari dalam hati


dan tiba-tiba Reyhan datang dan memeluk Mentari dari belakang dan replek Mentari yang kaget berkata "Mas kamu kebiasaan kalau meluk gak bilang dulu" ucapnya sambil memukul tangan Reyhan agar Reyhan mau melepaskan tangannya karena dia malu di lihat Suci dan sebentar lagi pasti kakeknya datang.


"Cie pak bos kayanya udah bucin akut nih meluk gak lihat sekitar".


"Eh ternyata sudah ada kamu Ci, saya jadi malu" dan Reyhan langsung melepaskan pelukannya dan itu membuat Mentari merasa lega.


"Sayang" ucap Reyhan dan Mentari replek menengok dan hap Reyhan langsung mencium Mentari, Mentari yang merasa malu langsung menggigit bibir Reyhan, Reyhan yang merasakan sedikit sakit membiarkannya dan terus menyesapnya sampai Kakek Guntur berkata


"Kalian ini apa tidak ada tempat lain sampai harus melakukan hal semacam itu di sini."

__ADS_1


"Maaf kek" ucap Reyhan tersenyum malu pada sang kakek dan Reyhanpun duduk di tempat biasa dia duduk.


"Parah kalau kalian ingin mengulang ya mending balik ke kamar jangan mempertontonkan kemesraan kalian di hadapanku yang mempunyai kekasih yang jauh ini" ucap Suci lesu.


"Kamu itu berbicara seperti orang yang tertindas saja Ci" ucap Mentari


"Eh iya kata pak bos kemarin, kami kesana harus mengikuti semua keinginanmu" tanya Suci sambil melihat bosnya dan kembali melihat Mentari.


"Iya sebentar aku ambil lis tempat yang akan kita datangi".


Mentari mengambil sebuah kertas dari kamarnya dan kembali ke meja makan lalu memberikan kertas tersebut, dan dia berkata untuk biyaya trasportasi suami ku yang nanggung makan aku yang nanggung tapi untuk biyaya yang lain tanggung sendiri itu berlaku jika kita bersama terus tapi sepertinya kamu akan terpisah dari kami di hari ketiga".


****


Hari yang sangat di nantikan Suci telah tiba, Suci sudah mengemas semua keperluan yang akan dia bawa, Begitupun Mentari dan Embun.


Mentari mengajak Embun untuk berangkat ke bandara lebih awal karena ada hal yang harus di sampaikan Mentari terlebih dahulu pada Embun.

__ADS_1


"Mentari" ucap Embun yang sudah berada di sebelah Mentari.


Mentari menoleh dan melihat Embun "Kamu sudah datang Bun".


"iya, Jadi apa yang ingin kamu sampaikan".


Mentari pun menjelaskan semua rencananya pada Embun dan terakhir dia berkata "jika di hari pertama kita langsung memergoki pacar Suci mungkin kita akan langsung pulang".


"Iya tidak masalah tapi Aku tidak menyangka jika leo akan setega itu pada Suci".


"Iya aku juga tidak menyangka" ucap Mentari lesu dan dia langsung kembali memasang wajah cerianya saat mendengar suara Suci yang memanggilnya dan juga memanggil Embun.


"Maaf ya aku telat tadi aku terjebak macet'. ucap Suci setelah sampai dan duduk.


"Tidak apa-apa kami juga baru datang" ucap Embun berbohong.


"Iya" ucap Mentari juga membenarkan ucapan Embun.

__ADS_1


Merekapun menunggu sambil bercerita tentang kehidupan mereka saat di rumah, dan ada yang menarik perhatian Mentari dan Embun dari cerita Suci dan mereka saling memberikan kode saat Suci bercerita.


Suci bercerita dengan raut wajah biasa saja tapi kedua sahabatnya sangat antusias mana kala Suci bercerita tentang Dokter yang merawat nenek Suci.


__ADS_2