Pengawalku CEO Ku

Pengawalku CEO Ku
Kakek Mentari


__ADS_3

Mentari sudah sampai di kota S, dan dia sudah berada di halaman rumah kakeknya.


Rumahnya kakeknya hampir sama seperti rumah Reyhan namun lebih besar dan mewah rumah Reyhan, Mentari di ajak masuk oleh orang suruhan sang kakek.


orang tersebut merasa heran karena Mentari tidak menunjukan rasa kagum sedikitpun pada rumah sang kakek tapi dia tidak menanyakannya pada Mentari.


Nenek Mentari juga merasakan hal yang sama dengan orang yang membawa mereka lalu dia bertanya "Nak kenapa kamu tidak merasa kaget atau kagum atau bahkan senang karena bisa menginjakkan kaki mu di Rumah sebesar ini?"


"karena tari tidak perduli dengan rumah kakek" ucap Mentari dan dia berkata lagi " mungkin karena tari juga pernah menginjakan kaki tari di rumah yang lebih mewah dari ini".


"Kapan kamu ke sana?" tanya nenek mentari


"Tadi saat menemui Deni dan kebetulan dia sedang berada di rumah mewah milik Reyhan".


"Oh pantas saja jika seperti itu".


Mereka pun masuk kedalam Rumah dan mentari melihat kesemua arah bukan karena mengagumi isi Rumah tersebut tapi dia sedang mencari sosok sang kakek yang sudah membuangnya.


Silahkan duduk dulu nona, nek!". Ucap pelayan.


Meraka duduk dan mentari langsung berkata dalam hati


"Sumpah aku tidak menyangka jika dia tega mengasingkan ku dengan kondisi hidup yang sederhana sementara dia enak-enakan tinggal di sini.

__ADS_1


Kakek mentari datang dengan gagahnya di usianya yang sudah 60 tahun, mungkin karena dia orang kaya jadi rupanya tidak seperti kakek kakek yang berusia 60 tahun.


Mereka semua memberi hormat pada sang kakek kecuali Mentari yang tidak mau.


Kakek mentari Sudah duduk di hadapan Mentari dan dia berkata "apa kabar kalian?".


"Kabar kami baik tuan" jawab sang nenek


Sementara Mentari hanya diam karena dia sedang merutuki sang kakek dalam hatinya.


"Apa ini cucu ku?"


"Iya tuan dia cucu anda" ucap sang nenek.


"Terima kasih, aku juga tau itu, karena nenek sering mengatakannya".


"Lalu sifatnya dan cara bicaranya seperti ibunya" ucap kakek Guntur dalam hati.


"Apa kalian lapar atau kalian ingi langsung beristirahat?" tanya kakek Guntur lagi.


"kami langsung istirahat saja Tuan karena kami sangat lelah iyakan Mentari?"


Mentari hanya menganggukkan kepalanya tanda jika dia setuju.

__ADS_1


Mereka di arahkan menuju kamar mereka masing-masing.


Mentari melihat kamarnya biasa saja karena dia pernah melihat kamar seperti ini di televisi.


Mentari yang sudah lelah langsung merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah, dia pikir tidur di kasur yang bagus berwarna merah muda akan membuatnya nyaman ternyata dia salah, dia sudah mencoba untuk tidur tapi tidak bisa dia sudah menggunakan berbagai macam cara agar bisa tidur tapi tetap tidak bisa dan dia menyerah untuk tidur.


Mentari yang tidak bisa tidur akhirnya membuka ponselnya dan melihat foto dirinya dan dua sahabatnya sampai tidak terasa dia menutup mata.


*


Pagi sudah datang seperti biasa Mentari memulai kegiatan hariannya dengan mandi lalu memakai pakayannya setelah mandi, dan Mentari langsung duduk di kursi meja rias yang ada di kamarnya.


Mentari melihat banyak perlengkapan makeup di meja riasnya, Mentari melihat semua benda yang ada di meja Riasnya.


Tok tok tok


Mentari tersenyum saat mendengar pintu kamarnya yang di ketuk, dia sudah tau siapa yang sudah mengetuk pintu kamarnya., dan benar saja saat Mentari membuka pintu kamarnya ada sang nenek


Nenek langsung masuk setelah Mentari membuka pintu kamarnya,


"Nak ayo kita sarapan kakek mu sudah menunggu di bawah". ucap sang nenek.


"Ini masih terlalu pagi nek lihat ini baru jam 6, tunggu nek perasaan tadi aku bangun jam 4.30 pagi kenapa sekarang sudah pukul 6 saja".

__ADS_1


Mentari berkata dalam hati "Apa mungkin jika aku mandi sampai satu jam lebih karena merasakan betapa nyamannya mandi sambil berendam air hangat dan jangan lupakan aroma sabun yang menenangkan jiwa, sepertinya memang seperti itu".


__ADS_2