Pengawalku CEO Ku

Pengawalku CEO Ku
Hanya dalam mimpi


__ADS_3

Mentari menghampiri Suci dan dia berkata setelah dia duduk di hadapan Suci


"maaf kamu menunggu lama".


"Tidak apa-apa aku seharusnya yang meminta maaf padamu karena menggangumu di jam seperti ini dan sepertinya kamu baru selesai mandi".


Mentari merasa malu karena Suci pasti mengetahui kenapa dia mandi di jam seperti ini dan untuk mencegah pertanyaan Suci lebih jauh Mentari pun berkata


"sudah jangan bahas tentang aku, sekarang aku tanya sama kamu ada perlu apa sampai kamu bertamu di jam seperti ini".


Suci tersenyum pada Mentari dan dia berkata


"aku mau numpang tidur di rumah mu, soalnya aku tidak bisa pulang jika hujannya sederas ini".


"Memangnya hujan?"


tanya Mentari sambil melihat kearah jendela yang sudah tertutup tirai dan tak mungkin terlihat jika dia tidak mendekati jendela dan membuka tirainya.


"Parah hujan sebesar itu kamu tidak tau, wah berarti nikmat dunia yang satu itu bisa menulikan pendengaran ternyata, padahal tadi hujannya di sertai kilat dan suara yang membuat jantung berdebar seperti saat di cium si dia hahaha".


"Kamu ini seperti pernah saja berciuman?".

__ADS_1


"Pernah dong, emang cuman kalian saja yang udah berciuman".


Mentari kaget pasalnya temannya yang satu ini tidak pernah bercerita jika dia pernah berciuman dan sekarang dia bilang pernah.


"Jangan bohong Ci aku tau kamu cuman hapal teorinya sajakan".


"Aku beneran sudah pernah Tari tapi hanya dalam mimpi" ha ha ha Suci tertawa lepas karena sepertinya sahabatnya sedikit percaya padanya.


"Sudah kamu membuat ku kesal, sana pergi jangan nginep di rumah aku" ucap Mentari sambil mengalihkan pandangannya ke arah samping.


"Ayolah Jangan ngambek aku cuman bercanda, apa kamu tidak kasian pada ku yang masih gadis ini, pulang di tengah malam dalam keadaan hujan yang sangat deras" mohon Suci agar mentari tidak merajuk


"habis dari rumah calon mertua".


"ngapain kamu kesana kerajinan amat pacar kamunya juga tidak ada?".


"Jangan marah aku bercanda, aku tadi habis dari rumah orang tua Dokter Andre, nganterin dia pulang eh pas aku balik malah terjebak hujan dan beberapa kali berhenti dan hasilnya aku belum sampai di rumah malah mau nginep di sini".


"Oh, tapi aku aamiinkan ucapan kamu yang mengatakan orang tua Dokter ganteng itu menjadi mertua kamu".


Suci ingin protes karena ucapan Mentari tapi niatnya itu dia urungkan karena suami Mentari keburu datang dan memasang wajah yang kurang ramah.

__ADS_1


"Sayang siapa yang ganteng?". ucap Reyhan dari belakang Mentari


"Itu Dokter yang mengobati nenek Suci".


Reyhan membolakan matanya saat Mentari dengan lancarnya memuji ketampanan laki-laki lain.


"Sayang coba katakan sekali lagi".


Deg


jantung Mentari terasa berhenti sesaat saat dia sadar jika yang bertanya suaminya, Mentari menatap Suci dan bibirnya seperti berkata "kenapa kamu gak bilang ada suami ku".


"Aku sudah memberi kode pada mu tadi tapi kamu malah tidak mengerti, ya jangan salahkan aku jika pak bos marah" ucap Suci sambil berdiri dan dia berkata lagi "bu bos aku pamit ke kamar tamunya, selamat menikmati hukuman, malam pak bos".


"Hem" hanya itu yang keluar dari mulut Reyhan


"Eh mas Rey, sejak kapan di sini" ucap Mentari berpura-pura tidak tahu.


Bukan menjawab pertanyaan sang istri Reyhan malah mengangkat tubuh Mentari dan membawanya ke lantai atas menuju kamar mereka.


Mentari sedikit kaget karena tiba-tiba Reyhan mengangkat tubuhnya dan sudah di pastikan dia marah karena tidak mengeluarkan suara, dan dia juga sudah tau apa yang akan di lakukan suaminya jika dia sedang marah karena cemburu.

__ADS_1


__ADS_2