
Reyhan yang baru sampai di ruangannya langsung menghubungi tuan Deril.
Reyhan meminta tuan Deril untuk menyuruh Embun mengantarkan berkas dari bagian keuangan.
Reyhan menyuruh Embun datang keruangannya agar Embun bisa melihatnya saat dia sedang menjadi CEO, itu dia pakukan agar Embun semakin percaya bahwa dia benar-benar atasannya.
Dan di sinilah Embun di depan pintu Ruangan CEO, dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
Embun yang sudah merasa siap bertemu dengan atasannya langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok tok tok
"Masuk" ucap Reyhan
"Suaranya sama dengan Reyhan, sepertinya Reyhan benar-benar seorang CEO" ucap Embun, lalu dia masuk dengan hati berdebar lalu dia berkata "Selamat siang tuan".
"Siang" jawab Reyhan tanpa melihat Embun karena dia masih memeriksa berkas yang lain.
"Mendekatlah" ucap Reyhan lagi
Embun melangkah dengan sangat hati-hati.
"Sejak kapan kamu berjalan seperti siput" ucap Reyhan sambil melihat Embun.
Walau Embun sudah yakin jika CEO-nya adalah Reyhan tapi tetap saja dia terkejut saat melihat Reyhan apalagi dengan wajah putihnya.
Reyhan yang tau jika Embun kaget saat melihatnya berkata "kenapa kamu masih saja kaget saat melihat saya".
__ADS_1
"Maaf Wajah anda tuan" ucap Embun
"Oh karena ini, saya pikir karena apa, ini memang warna asli kulit wajah saya" ucap Reyhan
Lalu Embun berkata dalam hati "Pantas saja Mentari pernah bilang jika dia pernah melihat wajah Reyhan yang berwarna putih, ternyata Mentari tidak salah melihatnya".
Karena embun hanya diam Reyhan-pun berbicara lagi "Kenapa kamu jadi pendiam seperti ini?' Tanya Reyhan
Embun hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Reyhan.
Mungkin karena tegang Embun merasa pasokan udara di ruangan Reyhan semakin sedikit jadi dia langsung memberikan berkas yang dia bawa agar dia cepat keluar dari ruangan Reyhan.
Reyhan menerima berkas tersebut dan dia berkata "Terima kasih".
"sama-sama, kalau begitu saya permisi tuan?". ucap Embun
Embun yang tadinya merasa senang karena akan keluar dari ruangan tersebut kini merasa kesal karena Reyhan menahannya untuk keluar.
"baik tuan" ucap Embun lesu
"Sebenarnya kamu kenapa,?". tanya Reyhan
"Saya tidak apa-apa tuan" ucap Embun berbohong
"Kalau begitu tolong kamu rapihkan berkas yang ada di meja itu". ucap Reyhan sambil menunjukan berkas yang berserakan.
"Baik tuan" ucap Embun lalu dia berkata dalam hati "Aneh aku pikir dia orang yang sangat rapih tapi lihat berkas-berkas yang berserakan itu sungguh bohong orang-orang yang mengatakan jika Reyhan adalah orang yang rapih".
__ADS_1
Setelah selesai Embun berkata "Tuan apa ada lagi yang bisa saya bantu?".
"Sepertinya ada" ucap Reyhan
Embun membulatkan matanya saat mendengar ucapan Reyhan, karena dia tidak percaya jika Reyhan akan menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang bukan pekerjaannya lagi.
Reyhan tersenyum dan berkata "Kembalilah keruangan mu dan maaf karena saya sudah mengerjai mu, Entah mengapa setelah saya kembali ke negri ini saya menjadi orang yang berbeda".
"Maksud tuan apa?".
"Kamu pasti pernah mendengar jika saya sedingin es bukan, nah julukan itu memang benar karena saat saya tinggal di luar negri saya tidak pernah tersenyum dan saya berkata hanya seperlunya saja". ucap Reyhan.
"Kenapa dia bisa tau apa yang aku ingin tau" ucap Embun dalam hati lalu dia berkata "Maaf tuan saya pikir jika rumor tesebut hanyalah sebuah kebohongan".
Reyhan hanya tersenyum setelah mendengar ucapan Embun.
"Baiklah kalau begitu saya pamit". ucap Embun.
"Silahkan" ucap Reyhan
Setelah keluar dan menutup pintu Embun menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu dia berkata "Aku heran kenapa aku jadi gugup saat bertemu Reyhan sekarang, padahal sebelumnya aku merasa biasa-biasa saja, apa mungkin karena jabatannya yang membuatku gugup".
Embun menyudahi lamunannya karena sudah sampai di depan ruang kerjanya.
Embun masuk ruangannya dan dia langsung di sambut oleh Suci dengan sebuah pertanyaan.
"Bun Apa wajahnya tampan, apa suaranya bagus".
__ADS_1
"Suci apa kamu tidak bisa menungguku duduk terlebih dahulu" ucap Embun