
Laki-laki berwajah tampan itu bernama Farhan. Dia adalah sahabat Tiara. Sahabat karib Tiara sejak mereka dibangku SMA. Farhan adalah anak seorang pengusaha retail ternama dikota tempat mereka tinggal. Ayah Farhan bernama pak Faris.
Pak Faris mempercayakan salah satu cabang usahanya yaitu Franchise Coffee Shop kepada putranya Farhan. Ketika Farhan memiliki jam kosong saat kuliah, maka mengelola coffee shop itu adalah kesibukan utamanya.
"Tiara!," kata Farhan. Tiara menorehkan kepala. Tiara menorehkan kepala.
"Farhan," kata Tiara.
"Aku sudah sejak lama menunggu," kata Farhan.
"Sudah berapa hari?," tanya Tiara bersenda gurau.
"Ah kamu ini," kata Farhan tertawa.
"Katanya kamu sudah lama menunggu," kata Tiara.
"Ya gak sampai berhari-hari juga, baru 55 menitan," kata Farhan tersenyum.
"Haduh, itu masih sebentar, kenapa tadi bilang sejak lama?, haduh," kata Tiara heran.
"Hehehe," Farhan tertawa.
"Memangnya kenapa kamu tunggu aku?," tanya Tiara.
"Aku mau pinjam buka akuntansi kamu," kata Farhan.
"Oh cuma karena itu, ini bukunya," kata Tiara mengambil buku yang diminta Farhan dari tas.
"Terima kasih ya Tiara," kata Farhan.
"Iya Han, memang buku akuntansi kamu kemana?," tanya Tiara.
"Sudah aku kembalikan ke perpustakaan," kata Farhan.
"Oh, lalu kenapa kamu pinjam ke aku?, gak pinjam ke perpustakaan lagi?," tanya Tiara.
"Sudah gak sempat, tugasnya mau dikumpulin dijam kedua?, kata Farhan.
"Hah?, dikumpulin di jam kedua?, tugas dari siapa sih Han?," tanya Tiara.
"Tugas dari bu dosen Tiara, bu Lastri," kata Farhan.
"Memangnya ada ya Han?," tanya Tiara kebingungan.
"Ada donk, makanya aku panik gini," kata Farhan.
"Oh iya, aku baru ingat," kata Tiara.
"Tuh, ada kan," kata Farhan.
"Ya sudah, Ayo kita kerjain bareng-bareng saja ditaman nanti!," kata Tiara mengajak.
"Ya sudah, sekarang kita ke kelas, jam pertama mau dimulai," kata Farhan. Farhan dan Tiara berjalan ke arah kelas.
Ah, kenapa papah pakai bahas soal pre-wedding sih. Kurang kerjaan saja. Bagaimana kalau foto pre-wedding itu tersebar, Bahkan nanti sampai terlihat oleh Lisa?, bisa bahaya. Tapi aku bisa apa?. Sudahlah, kalau Lisa nanti tahu, aku akan menjelaskannya. Gumam Sandi dalam batin. Sandi melanjutkan kerjanya.
__ADS_1
Dikelas Farhan dan Tiara sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh ibu dosennya. Mereka tampak kompak mengerjakannya.
Setelah selesai mengerjakan tugas, Farhan mengajak Tiara ke kantin. Mereka mengisi tenaga kembali yang telah terkuras akibat tugas bu Lastri.
"Enak tidak makanannya Tiara?," tanya Farhan.
"Enak kok Han," kata Tiara.
"Kalau kamu mau tambah, bilang saja," kata Farhan.
"Iya Han," kata Tiara tersenyum.
"Tir, hari sabtu kan libur kuliah nih, hangout bareng yuk!," ajak Farhan.
"Hangout bareng?," tanya Tiara kaget.
"Iya Tir, udah lama kita gak hangout bareng," kata Farhan.
"Maaf Han, aku tidak bisa," kata Tiara.
"Kenapa tidak bisa tir,?" tanya Farhan kecewa.
Bagaimana aku menjawab Farhan?, aku tidak mau dia tahu kalau aku akan menikah. Haduh, gimana ini?. Gumam Tiara bertanya-tanya.
Melihat Tiara diam terus, Farhan bingung.
"Tiara," kata Farhan membangunkan Tiara dari lamunannya.
"Oh iya Han," kata Tiara tersadar.
"Aku harus pergi ke tempat saudaraku Han, ada acara keluarga besar sabtu ini tempat pamanku. Itulah Han alasan kenapa aku tidak bisa hangout bareng sama kamu," kata Tiara.
"Oh gitu ya Tir, ya sudah tidak apa-apa kok," kata Farhan.
Sebenarnya aku meragukan alasanmu Tiara, seperti ada keraguan dalam jawabanmu. Tapi tidak apa-apa, akan ada waktu lain yang lebih baik dan lebih tepat bagiku untuk mengungkapkan rasa padamu. Gumam Farhan dalam hati.
Hari demi hari berlalu, kini sabtu telah tiba. Pre-wedding Sandi dan Tiara pun akan dilakukan hari ini.
"San," kata pak Airlangga.
"Ia pah," kata Sandi.
"Karena kamu akan melaksanakan pre-wedding hari ini, sebaiknya kamu jemput Tiara ke rumahnya ya," kata pak Airlangga.
"Ia pah, nanti aku jemput Tiara dirumahnya," kata Sandi menurut.
"Baik kalau begitu San," kata pak Airlangga.
"Ia pah," kata Sandi.
Sandi dan ayahnya melanjutkan minum kopi bersama pagi ini.
"San, jadikan kamu pre-wedding hari ini?," tanya bu Sari.
"Jadi mah, kenapa memangnya mah?," tanya Sandi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, mamah cuma mau tanya itu saja," kata bu Sari.
"Oh iya mah," kata bu Sari.
Sandi melihat sudah pukul 08:00 pagi, ia berjanji kepada penyedia jasa pre-wedding bahwa ia akan datang pada pukul 10:00 pagi.
Sandi membuka ponselnya, ia bermaksud mengingatkan Tiara melalui pesan what's app supaya segera bersiap karena ia akan datang menjemput Tiara ke rumahnya.
"Assalamualaikum, ini aku Sandi," kata Sandi memulai pesannya.
"Oh iya mas Sandi," kata Tiara yang kini juga sedang duduk santai bersama orang tuanya.
"Aku mau ingatkan kamu soal pre-wedding kita hari ini, aku akan menjemputmu ke rumahmu, jadi aku minta kamu bersiap-siap ya. Soalnya aku janji sama jasa pre-weddingnya kita akan datang pada pukul 10:00 pagi," kata Sandi.
"Baik mas, aku akan bersiap-siap. Terima kasih ya mas Sandi," kata Tiara.
"Ia sama-sama, tunggu saja dirumah," kata Sandi.
"Ia mas," kata Tiara.
"Ok," kata Sandi.
Tiara tidak lagi membalas pesan itu.
"Pah, mah, aku berangkat ya ke rumah Tiara, takut terlambat," kata Sandi.
"Ia San, hati-hati ya," kata bu Sari.
"Ia mah," kata Sandi.
Sandi mencium punggung tangan ayah dan ibunya dan meninggalkan rumah. Kini Sandi sudah dalam perjalanan.
"Pak, bu, sebentar lagi mas Sandi mau kesini," kata Tiara.
"Sandi mau kesini?," kata bu Lilis kaget.
"Ia bu," kata Tiara.
"Mau apa nak?," tanya bu Lilis.
"Haduh bu, masa ibu lupa sih. Sekarang kan hari sabtu, Sandi dan putri kita Tiara akan melakukan pre-wedding," kata pak Arifin.
"Oh iya, ibu baru ingat pak. Kok bisa ibu lupa ya pak," kata bu Lilis.
"Ya karena ibu sudah semakin tua," kata pak Arifin bercanda.
"Ya sudah Tiara, tunggu apa lagi?, pergi sana ke kamar, ganti pakaianmu," kata bu Lilis.
"Iya bu," kata Tiara. Ia memasuki kamarnya.
Haduh, kenapa jantungku berdegup sih?, apa karena aku mau jalan bareng sama mas Sandi?. Gumam Tiara didepan cermin.
Ia memilih gaun warna merah dan tas warna putih. Tiara menggunakan gaun selutut saja. Ia ingin terlihat sopan dalam berpakaian. Dia hanya berias seadanya saja.
Suara deruman mobil terdengar jelas dihalaman rumah. Sudah jelas itu suara mobil Sandi. Pak Arifin pun keluar untuk menyambut Sandi.
__ADS_1