Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 55


__ADS_3

"Baik bu, saya akan antar kesana," kata Anwar.


"Mamah mau bawa aku ke kantor mas Sandi?," tanya Tiara.


"Iya nak, mamah ingin kamu juga tahu dimana suami kamu kerja? dan juga supaya kamu tahu perusahaan keluarga kita," kata bu Sari.


"Apa kehadiranku disana tidak membuat mas Sandi terganggu dalam bekerja?," tanya Tiara.


"Tentu tidak nak. Banyak yang belum tahu tentang pernikahan kamu dengan Sandi, mamah juga sekalian ingin memperkenalkan kamu dipublik," kata bu Sari.


"Baiklah mah, aku akan menurut apa yang terbaik menurut mamah," kata Tiara.


Bu Sari tersenyum.


"Bagaimana masakannya sayang?," tanya Lisa.


"Enak sekali sayang, sentuhan tangan koki disini tidak pernah berubah pada setiap masakannya," kata Sandi.


"Seperti masakan aku donk," kata Lisa memuji diri.


"Kalau masakan kamu tidak ada keduanya," kata Sandi.


"Benarkah?," tanya Lisa.


"Benar sayang," kata Sandi tertawa kecil.

__ADS_1


Lisa memperhatikan Sandi yang makan lahap. Dia memandang wajah lelaki yang ia cintai itu. Tanpa ia sadari, air mata tumpah dari matanya.


Kenapa aku mulai sadar atas cintamu sekarang San? selama ini aku hanya mengincar hartamu saja. Sekarang setelah aku mencintaimu, kau sudah terikat dengan wanita lain. Batin Tiara penuh penyesalan.


Sandi yang sedang asyik menyantap makanan yang ada, terhenti seketika saat melihat bulir-bulir air mata Lisa jatuh perlahan.


"Kenapa kamu menangis sayang?," tanya Sandi merasa khawatir.


"Tidak apa-apa sayang," kata Lisa.


"Tidak apa-apa apanya? buktinya air mata kamu berjatuhan," kata Sandi sembari menghapus air mata Lisa dengan jarinya.


Lisa tersenyum.


"Ayo donk sayang, kamu cerita samaku," kata Sandi.


"Barang curian? apa maksudnya sayang?," tanya Sandi.


"Hubungan kita ini berjalan secara sembunyi-sembunyi. Seperti tadi contohnya, saat ada teman istri kamu," kata Lisa.


Sandi terdiam dan terenyuh.


"Sayang, aku tidak menyalahkan kamu dan aku tidak lagi menyesali ini terjadi. Aku akan lebih suka menjalani hubungan seperti ini dari pada aku harus kehilangan kamu," kata Lisa memegang wajah Sandi dan mencoba menenangkannya.


Sandi tersenyum.

__ADS_1


"Aku tidak pernah takut jika kedepannya hubungan yang tersembunyi ini diketahui orang lain. Aku tidak pernah bersalah atas kejadian ini. Aku tidak pernah merebut kamu dari siapapun karena sedari awal kamu memanglah milikku dan itu adalah alasan kuat aku tetap duduk disini bersama kamu," kata Lisa dengan keyakinan yang kuat.


Sandi tersenyum dan kagum dengan keteguhan hati Lisa. Ia memeluk Lisa dengan erat.


Lisa membiarkannya untuk sesaat.


"Kamu jangan peluk lama-lama," kata Lisa.


"Kenapa? kamu tidak suka aku peluk ya sayang?," tanya Sandi yang masih memeluk erat tubuh Lisa.


"Bukan begitu sayang, sekarang kita sedang berada ditempat umum. Malu dilihat banyak orang," kata Lisa.


"Iya deh, aku lepaskan," kata Sandi melepas pelukannya.


Lisa tersenyum melihat Sandi berekspresi dengan wajah yang kecut.


Sandi mendapat pesan dari Nanda, sekretarisnya.


"Kira-kira Sandi dan papah kamu sudah makan siang belum ya?," kata bu Sari bertanya.


"Tidak tahu juga bu," kata Tiara yang bingung mau jawab apa.


"Lebih baik mamah telepon saja mereka, supaya makan siang bersama," kata bu Sari.


Bu Sari terlebih dahulu menelepon pak Airlangga.

__ADS_1


"Halo pah," kata bu Sari.


__ADS_2