Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 115


__ADS_3

"Kamu jangan menekan diri seperti itu Tir. Sedih juga sih dihari bahagia seperti ini yang hanya bisa dilakukan dalam waktu yang tepat dan waktu luang, kita malah berada dirumah sakit seperti ini. Tapi kita harus tetap mensyukuri apapun yang terjadi. Mudah-mudahan ada hal baik dibalik ini yang kita tidak ketahui," kata Sandi.


"Iya mas, mudah-mudahan saja," kata Tiara.


Malam semakin larut, mereka pun memutuskan untuk tidur.


Matahari pagi kembali bersinar terang. Sandi dan Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Seperti biasa, Sandi akan memandikan Tiara jika Tiara memintanya.


Seusai memandikan Tiara, Sandi menyuapi Tiara yang sudah waktunya untuk sarapan pagi.


Sandi kemudian memberikan obat kepada Tiara setelah ia menyelesaikan sarapan paginya.


Ponsel Sandi nampak berdering, menandakan ada panggilan masuk dari seseorang. Ternyata panggilan itu datang dari Lisa. Sandi pun mengangkatnya. Ia mengatakan kepada Tiara dia ingin keluar sebentar. Tiara pun mengangkatnya.


"Halo sayang," kata Lisa.


"Iya sayang, kenapa?," tanya Sandi.


"Kamu kok jawabnya singkat begitu?," tanya Lisa.


"Tidak apa-apa sayang, aku harus jawab panggilan kamu gimana lagi," kata Sandi yang sepertinya sedang malas berbasa-basi.

__ADS_1


"Oh iya sayang, aku membatalkan keberangkatanku tadi malam, aku memutuskan untuk terbang pagi ini," kata Lisa.


"Oh begitu, lalu kenapa kamu menghubungkan aku?," tanya Sandi.


"Kamu kok nanyanya begitu sih? Aku ingin kamu mengantarkan aku ke bandara sayang," kata Lisa.


"Astaga, aku tidak bisa melakukannya sayang. Saat ini istriku sedang sakit, kenapa kamu meminta aku mengantarkan kamu ke bandara?," kata Sandi.


"Ya ampun, sakit apa sih istri kamu itu? kenapa dia harus dijaga?," kata Lisa.


"Dia itu sakit karena ulahku. Dia kelelahan dan lemas. Sedangkan dia kemarin butuh obat tapi tidak ada yang bisa memberikan obat itu untuknya karena aku menghabiskan waktu seharian kemarin bersama kamu," kata Sandi.


"Jadi kamu tidak bisa mengantarkan aku ke bandara?," tanya Lisa.


Sandi mematikan sambungan teleponnya dengan Lisa. Dia kemudian menggunakan mode pesawat untuk beberapa saat agar saat ia berdekatan dengan Tiara, Lisa tidak sibuk menghubungi dirinya terus.


Sandi kembali masuk ke kamar. Tiara tidak bertanya apa-apa dan Sandi menyukai hal itu.


"Mas, kira-kira pukul berapa nanti aku bisa meninggalkan klinik ini ya?," tanya Tiara.


"Nanti dokternya akan datang memeriksa kamu lagi," kata Sandi.

__ADS_1


"Begitu ya mas," kata Tiara.


"Iya, sebaiknya kita sabar menunggu kedatangan dokter Risma nanti," kata Sandi.


"Baik mas," kata Tiara.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang?," tanya Sandi.


"Aku sudah semakin merasa baikan mas. Apalagi tadi pagi setelah mandi air hangat dan tadi malam mandi air hangat juga, aku merasa tubuhku lebih segar," kata Tiara.


"Benarkah? syukurlah kalau kamu sudah merasa lebih baikan dan lebih segar," kata Sandi.


"Iya mas," kata Tiara.


Selama seharian penuh, kemarin Tiara sama sekali tidak memegang ponsel. Ia meminta kepada Sandi untuk mengambilkan ponselnya. Ia ingin memainkan ponselnya sejenak untuk mengusir rasa bosan dan jenuh yang membelenggu.


"Mas, ponselku ada dimana?," tanya Tiara.


"Ini ada didalam tas kamu," kata Sandi.


"Ambilkan ponselku donk mas, tolong! aku ingin memainkannya sebentar," kata Tiara.

__ADS_1


"Baiklah, tapi janji ya main ponselnya jangan lama-lama. Nanti mas marah sama kamu," kata Sandi mengancam.


__ADS_2