Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 26


__ADS_3

Usai meminum kopi, Sandi membersihkan diri ke kamar mandi sedangkan Tiara sibuk menyiapkan pakaian untuk digunakan suaminya itu pergi bekerja ke kantor. Tiara juga sibuk menyiapkan keperluan untuk kuliahnya hari ini.


Sandi sudah selesai membersihkan dirinya. Dia keluar dengan balutan handuk seperti sebelumnya. Namun Tiara nampaknya sudah mulai terbiasa. Dia tidak lagi bersikap malu-malu.


"Ini mas pakaiannya!," kata Tiara.


"Iya Tir," kata Sandi. Sandi pergi ke ruang ganti. Kamar Sandi memang memiliki ruang ganti.


Kini gantian Tiara yang memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Selama beberapa menit kemudian, Tiara keluar dengan kimono handuk seperti sebelumnya. Dia tidak berani keluar hanya dengan balutan handuk saja.


Sandi sudah keluar dari ruang ganti. Tiara kemudian memasuki ruang ganti.


Sandi sudah selesai merias diri. Dia terlihat tampan. Tiara tersenyum manis melihat ketampanan Sandi. Namun Sandi tidak memperhatikan senyuman itu. Tiara juga tidak mau kalah, dia juga merias diri dengan tampilan riasan yang sederhana seperti biasanya. Dia menggunakan pakaian kuliahan yang sopan seperti pada umumnya.


Mereka berdua keluar dari kamar untuk turun ke bawah. Mereka berjalan bersama menuju meja makan untuk sarapan pagi. Disana pak Airlangga dan bu Sari sudah menunggu.


"Untung kalian sudah datang. Mamah sudah lapar," kata bu Sari bergurau. Semuanya tertawa karena celetukan itu.


Mereka duduk bersama untuk menyantap sarapan pagi.


"Kamu sepertinya akan keluar juga ya Tir?," tanya pak Airlangga.


"Iya pah, hari ini jadwal kuliah Tiara," kata Tiara.


"Hm. Kamu akan pergi dengan siapa ke kampus?," tanya pak Airlangga.


"Sendiri pah, mungkin nanti naik grab atau ojek online yang lain," kata Tiara.


"Kenapa kamu naik ojek online? kan ada Sandi. Biar nanti Sandi yang akan mengantarkan kamu," kata pak Airlangga. Tiara diam dalam kebingungan.


"San, nanti saat kamu akan pergi ke kantor, sempatkan juga mengantarkan Tiara ke kampusnya," kata pak Airlangga.


"Iya pah, Sandi akan mengantarkan Tiara nanti," kata Sandi. Bu Sari tersenyum.


"Kamu nanti berangkatnya dengan aku saja Tir!," kata Sandi.


"Iya mas," kata Tiara


Usai sarapan pagi itu, semuanya beranjak pergi meninggalkan rumah. Hanya bu Sari yang tinggal seorang diri.


Sandi mempersilahkan Tiara memasuki mobilnya. Tiara menurut. Pak Airlangga sudah berangkat terlebih dahulu bersama supir pribadinya. Sandi pun menancapkan gasnya. Dia melaju dengan kecepatan sedang. Sedangkan Tiara hanya menikmati pemandangan disekitar. Sandi memperhatikan Tiara.


"Tir," kata Sandi.


"Iya mas, ada apa?," tanya Tiara.


"Kenapa kamu terlihat bengong?," tanya Sandi.


"Tidak apa-apa kok mas," kata Tiara.


"Yang benar?," kata Sandi.


"Iya mas, aku tidak bohong," kata Tiara.

__ADS_1


"Hm, ya sudah deh," kata Sandi. Tiara tersenyum.


Perjalanan mereka berdua sudah dekat dari kampus Tiara. Tiara meminta Sandi hanya untuk mengantarkannya sampai gerbang saja.


"Mas, antar aku sampai gerbang saja ya," kata Tiara meminta.


"Kenapa begitu Tir? apa kamu malu aku antar sampai dalam?," kata Sandi.


"Bukan begitu mas maksudnya," kata Tiara.


"Jadi, kenapa kamu menolak aku antar sampai dalam," kata Sandi.


Tiara tidak mau mengatakan bahwa dia tidak mau Farhan mengetahuinya.


"Baiklah, tidak apa-apa kalau mas mau antarkan aku ke dalam," kata Sandi.


"Nah gitu donk," kata Sandi. Sandi mengantarkan Tiara sampai dalam.


"Mas, mau ngapain?," tanya Tiara kepada Sandi.


"Mau membukakan pintu untuk kamu," kata Sandi.


"Tidak usah mas, aku bukan seorang putri," kata Tiara menolak.


"Baiklah kalau begitu," kata Sandi.


"Makasih mas sudah mengantarkan Tiara sampai ke kampus," kata Tiara.


"Ia, sama-sama," kata Sandi.


"Aku duluan ya mas," kata Tiara meninggalkan mobil Sandi. Sandi kemudian menancapkan kembali gas mobilnya menuju kantor.


Saat Tiara sedang berjalan menuju kelasnya tiba-tiba ada seorang laki-laki menepuk pundaknya. Tiara reflek. Ia segera menoreh ke arah belakang. Ternyata seseorang yang menepuk pundaknya barusan adalah Farhan, sahabatnya.


"Astaga, kamu ini Han, mengagetkan aku saja," kata Tiara.


"Kenapa? kamu jadi jantungan?," tanya Farhan bergurau.


"Iya hampir saja. Kalau misalnya aku tadi beneran jantungan, kamu mau bertanggung jawab?," tanya Tiara.


"Ya gak donk. Aku akan biarkan kamu tergeletak disini sampai orang lain yang akan menolong kamu," kata Farhan.


"Jahat sekali kamu," kata Tiara mencubit Farhan. Farhan tertawa. Tiara pun ikut tertawa.


Mereka berjalan bersama menuju kelas.


Fira sudah terlebih dahulu sampai dikelas. Fira yang melihat Tiara dan Farhan berjalan bersama merasa kesal. Hal itu wajar terjadi, Fira memang sudah lama menyukai Farhan. Fira mulai menyukai Farhan semenjak dirinya memasuki kuliah. Bahkan ia juga mengatakan perasaannya pada Farhan itu kepada Tiara.


Tiara juga mendukungnya. Tapi sepertinya kedekatan Tiara dengan Farhan membuat Fira tidak percaya kalau Tiara tidak menyukai Farhan. Sepertinya Tiara tidak betul-betul mendukungnya.


Farhan dan Tiara sudah sampai dikelas. Fira bersikap biasa saja.


"Kalian udah sampai?," tanya Fira berbasa-basi.

__ADS_1


"Ia nih, kamu sudah dari tadi sampainya ya Fir?,"


tanya Farhan.


"Belum begitu lama sih Han, sekitar 15 menitan lah," kata Fira.


"Oh gitu," kata Farhan.


"Kamu juga Tir, udah 3 hari gak kelihatan. Kamu kemana sih?," tanya Fira memeluk sahabatnya itu walaupun dalam keadaan kesal.


"Aku sedang ada urusan keluarga diluar kota bersama Bapak dan ibuku serta adikku Fir," kata Tiara.


"Oh karena itu kamu tidak masuk kuliah Tir?," kata Fira.


"Ia Fir," kata Tiara.


"Ayo duduk, berdiri saja dari tadi," kata Fira.


Mereka duduk ditempat duduk masing-masing menanti kedatangan dosen.


Sandi yang sedang dalam perjalanan mendapat panggilan dari Lisa. Dia segera mengangkatnya.


"Halo sayang," kata Sandi.


"Halo Sayang," kata Lisa.


"Iya sayang, kenapa kamu menghubungiku pagi-pagi sekali? tumben," kata Sandi.


"Tidak apa-apa, aku kangen saja," kata Lisa.


"Yang benar?," kata Sandi.


"Iya sayang. Kamu kangen aku tidak sayang?," tanya Lisa.


"Jelas donk," kata Sandi.


"Bagaimana kalau nanti kita ketemuan?," tanya Lisa.


"Ya sudah nanti kita ketemuan. Tapi waktu makan siang aja ya. Aku nanti ke rumah kamu," kata Sandi.


"Iya sayang," kata Lisa. Jarak rumah Lisa memang tidak jauh dari kantor tempat Sandi bekerja. Hanya sekitar 15 menitan saja.


"Ya sudah sayang, kamu tunggu saja dirumah kamu ya," kata Sandi.


"Iya sayang, aku akan masak makanan kesukaan kamu," kata Lisa.


"Iya sayang, aku gak sabar mau cobain masakan kamu," kata Sandi.


"Ok, kamu semangat ya kerjanya," kata Lisa.


"Iya sayang," kata Sandi.


"Aku tutup teleponnya ya," kata Lisa.

__ADS_1


"Iya sayang," kata Sandi.


__ADS_2