Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 162


__ADS_3

"Rumah aku berantakan. Ibuku pulang ke malang," kata Fira.


"Ayah kamu?," tanya Tiara.


"Ikut ke malang juga," kata Fira.


"Kamu kalau memberi penjelasan yang lengkap donk," kata Tiara.


"Haduh, yang benar itu, bapak dan ibu aku sedang pergi ke malang untuk urusan keluarga. Gitu!," kata Fira.


"Nah, kalau penjelasannya gitu kan aku paham. Kamu juga sih, kan kamu ada kakak sepupu kamu yang bisa bantuin beres-beres rumah," kata Tiara.


"Kakak sepupuku juga memiliki watak seperti aku," kata Fira.


"Hm, ya sudahlah, jadi satu deh," kata Tiara.


"Non, kita berangkat sekarang?," tanya supir.


"Iya mas Amar," kata Tiara.


Mobil pun dilajukan.


"Tir, kamu beruntung deh punya suami kaya suami kamu itu," kata Fira.


"Memangnya kenapa Fir?," tanya Tiara.


"Suami kamu kemarin kan beli cincin ditoko perhiasan," kata Fira.


"Kamu tahu dari mana? kamu jangan ngarang deh," kata Tiara.

__ADS_1


"Kakak sepupuku yang aku jemput kemarin kan bekerja ditoko perhiasan. Suami kamu beli cincin perhiasan itu ditoko perhiasan tempat kakak sepupuku bekerja. Aku menyaksikan hal itu saat aku sedang menunggu kakakku yang sedang melayani suami kamu,"


"Serius?," Tiara seperti tidak percaya.


Apa mungkin itu alasan kenapa mas Sandi mengajakku untuk datang ke kantornya hari ini?. Batin Tiara menerka-nerka.


"Serius tahu. Aku juga ada bukti foto suami kamu saat membeli cincin perhiasan itu," Fira mengambil ponselnya.


Ia kemudian menunjukkan bukti foto itu ke Tiara.


"Bagaimana? apa kamu percaya?," tanya Fira.


"Ia Fir, kamu betul. Ini memang suamiku," kata Tiara.


"Ya jelas donk aku tahu. Aku kan sudah pernah melihat foto suami kamu berkali-kali," kata Fira.


"Memangnya mau membelikan cincin tersebut ke siapa lagi kalau bukan untuk kamu?," Fira bertanya.


"Ya siapa tahu untuk ibu mertuaku?," kata Tiara.


"Ia juga sih, bisa saja. Tapi tidak kok, soalnya suami kamu bilang ia membeli cincin itu untuk kekasihnya," kata Fira.


"Kekasih?," Tiara seperti kaget dengan kata itu.


"Ia, memangnya kenapa? kamu kan memang kekasih suami kamu kan? lalu apa yang salah?," tanya Fira.


"Aku hanya berfikir kenapa suamiku tidak mengatakan bahwa ia membeli cincin tersebut untuk istrinya?," kata Tiara.


"Hm, hanya karena itu? kirain karena apa? kamu tinggal tunggu saja kejutan dari suamimu itu!," kata Fira.

__ADS_1


"Mudah-mudahan sih ia," kata Tiara yang menunjukkan sikap keraguan.


Mereka kini sampai dikampus. Mereka langsung saja memasuki kelas dan mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Sandi ternyata ingin memberikan Tiara anting emas. Anting tersebut ia beli karena merasa tidak adil. Ia merasa sebaiknya ia berlaku adil. Terlebih Tiara adalah istrinya.


Namun kali ini ia memilih untuk memesan


anting-anting tersebut melalui aplikasi online.


Tiara sudah keluar dari kampus. Ia meminta supir pribadinya untuk mengantar Fira terlebih dahulu baru ke kantor Sandi.


Hari ini, jam kuliah mereka cukup padat, tidak seperti biasanya.


"Terima kasih ya Tir, sering-sering kamu jemput aku," Fira bersenda gurau.


"Iya, sama-sama. Tapi jangan keseringan," Tiara menyindir.


"Hm," Fira merengut.


"Mas, lanjut ke kantor mas Sandi ya," kata Tiara.


"Baik nona muda," kata supir.


Tiara sebenarnya sudah merasa lapar. Tapi ia memutuskan untuk makan siang dengan Sandi saja.


"Mas, ini kan sudah waktunya makan siang. Mas makannya dikantor saja nanti ya," kata Tiara.


.

__ADS_1


__ADS_2