Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 117


__ADS_3

Tiara tersenyum ke arah perawat.


"Saya akan melepaskan selang infusnya ya mbak," kata perawat.


"Baik mbak," kata Tiara.


Perawat mulai melakukan tindakan pelepasan infus tersebut. Setelah selesai melakukannya Sandi pun membawa Tiara keluar dari klinik dengan kursi roda yang disediakan pihak klinik.


Diluar, supir khusus yang diminta Sandi sudah menunggu. Sandi menuntun Tiara ke dalam mobil dengan hati-hati.


Dalam perjalanan Tiara melihat ada penjual bubur ayam, ia meminta Sandi untuk membelikannya untuk dirinya.


Sandi pun menurut. Ia kemudian membelikan bubur ayam tersebut dua porsi karena ia juga tertarik untuk menyicipinya.


"Ini bubur ayamnya," kata Sandi.


"Kenapa mas beli dua porsi bubur ayamnya?," tanya Tiara.


"Aku juga tiba-tiba tertarik untuk menyicipi bubur ayam ini. Itulah alasan kenapa aku membelinya dua porsi, hehehe," kata Sandi.


"Baik mas, aku mengerti," kata Tiara.


Mereka kini sudah sampai dihotel, Sandi menurunkan Tiara dengan pelan-pelan dari mobil. Meskipun keadaan Tiara sudah stabil tetapi ia belum sepenuhnya kuat untuk berjalan sendiri, oleh karena itu Sandi menuntunnya.

__ADS_1


Sandi juga menuntunnya dengan hati-hati menuju kamar hotel tempat mereka menginap. Mereka menaiki Lift supaya cepat sampai ke lantai kamar.


Sandi mendudukkan Tiara dengan hati-hati. Ia mengambil mangkok bersih yang ia minta ke pelayan hotel. Sandi menuangkan bubur ayam ke mangkok tersebut.


"Tir, ini bubur ayamnya. Kamu makan ya!," kata Sandi.


"Baik mas," kata Tiara.


Tiara memakan bubur ayam tersebut dengan lahap. Meskipun Sandi membeli bubur ayam tersebut ditempat penjual dipinggir jalan bukan berarti kualitas cita rasanya rendah.


Yang ada Tiara malah memakan bubur ayam itu tanpa jeda.


"Makannya pelan-pelan donk Tir, kamu nanti keselek gimana?," kata Sandi.


"Maaf mas, soalnya bubur ini enak, hehehe," kata Tiara.


"Iya deh mas," kata Tiara.


Tiara mulai mengurangi kecepatan tangannya mengambil bubur dari mangkok dengan sendok. Sandi tersenyum melihat Tiara yang ternyata menurut dengan tegurannya.


Farhan saat ini sedang berada dicoffee shop. Dia iseng-iseng melihat kabar berita online. Tiba-tiba ia melihat ada berita yang memuat tentang lomba menulis karya ilmiah tentang wirausaha.


Dia tertarik mengikutinya. Tapi yang jadi masalah adalah bahwa dia harus mengajak satu pasangan lawan jenis untuk mengikuti lomba tersebut.

__ADS_1


Karena lomba tersebut juga ingin melihat chemistry dari setiap peserta.


"Dulu biasanya aku ikut lomba-lomba seperti ini bersama Tiara. Dan pernah juga menang. Tapi sekarang aku dan Tiara memiliki hubungan yang dingin. Bagaimana ya? aku sebenarnya ingin mengikuti lomba ini," gumam Farhan.


Farhan malah memusatkan fokus dengan lomba tersebut.


"Sepertinya kalau aku mengajak Fira sepertinya bagus juga," gumam Farhan menemukan ide.


Dia kemudian menghubungi Fira.


"Halo Han," kata Fira.


"Halo Fir, kamu lagi apa sekarang?," tanya Farhan.


"Aku lagi nonton film nih," kata Fira.


"Berarti lagi tidur sibuk donk," kata Farhan.


"Iya begitulah, memangnya ada apa?," tanya Fira.


"Begini lho, aku itu ingin mengajak kamu untuk ikutan lomba menulis karya ilmiah gitu lho, temanya tentang wirausaha," kata Farhan.


"Tumben sekali kamu mengajak aku untuk lomba seperti itu. Biasanya kamu kan mengajak Tiara. Kalian juga kan terbiasa mengikuti lomba-lomba seperti itu," kata Fira.

__ADS_1


"Iya sih kamu memang benar," kata Farhan.


"Lalu?," tanya Fira yang seperti tidak sadar apa yang sedang terjadi.


__ADS_2