
"Ikan nilanya berapa kg mbak? terus ikan masnya berapa kg juga mbak?," tanya ibu pada ikan.
"Masing-masing satu kilo gram bu," kata Tiara.
"Baik dek, saya siapkan. Sabar menunggu ya!," kata ibu penjual ikan.
"Iya bu," kata Tiara tersenyum.
Hanya butuh waktu sebentar bagi ibu penjual ikan tersebut menyiapkan ikan pesanan Tiara. Tiara tidak harus menunggu lama.
"Ini ikannya mbak, sudah saya siap," kata ibu penjual ikan menyerahkan ikan pesanan Tiara tersebut ke tangan Tiara.
"Iya bu, berapa semuanya bu?,'' tanya Tiara menanyakan harga ikan pesanannya.
"Ikan masnya tiga puluh lima ribu dan ikan nilanya tiga puluh ribu. Jadi semuanya enam puluh lima ribu rupiah mbak," kata ibu penjual ikan mengkalkulasi.
"Oh iya bu. Ini uangnya bu," kata Tiara menyerahkan uang pecahan seratus ribu rupiah.
"Jadi kembalinya tiga puluh lima ribu ya," kata ibu penjual ikan.
"Iya bu, terima kasih ya bu," kata Tiara.
"Sama-sama mbak," kata ibu penjual ikan.
__ADS_1
Usai berbelanja ikan, Tiara lanjut membeli sayuran. Tiara menyadari ia sudah lama meninggalkan Sandi dan Doni didalam mobil.
Pasti mereka merasa bosan. Batin Tiara.
Tiara memutuskan membeli sayuran yang hendak ia beli pada penjual sayur yang dekat dengan posisi mobil Sandi parkir.
Tiara pun menemukan penjual sayur tersebut. Tiara langsung memilih sayuran yang hendak ia ingin beli, ia nampak terburu-buru sekali. Usai memilih sayuran yang hendak ia beli, Tiara kemudian membayarnya.
Tiara kemudian berjalan dengan langkah kaki yang cepat dan saling beradu.
Sudah hampir 30 menit, Sandi mulai menggerutu untuk kedua kalinya. Dia nampak gelisah dan merasa kesal.
"Mas kenapa? Doni lihat mas Sandi seperti merasa tidak tenang,'' tanya Doni.
"Tidak apa-apa dek, mas hanya kesal pada kakakmu. Dia lama sekali belanja ikan dan sayuran," kata Sandi.
"Iya dek. lama sekali," kata Sandi.
"Bagaimana kalau mas Sandi menghubungi kak Tiara saja," kata Sandi memberikan solusi.
"Oh iya juga ya, kenapa mas tidak berfikir seperti itu ya dari tadi?," kata Sandi.
Sandi menekan tombol menu telepon pada layar ponselnya yang ia mainkan tadi. Sebelum ia menelpon, seseorang lebih dahulu mengetuk pintu mobil dari luar. Sandi pun menoreh. Ternyata itu Tiara.
__ADS_1
Karena pintu mobil sengaja dikunci oleh Sandi tadi, ia pun membukakan pintu mobil tersebut.
"Kenapa lama sekali Tir?," tanya Sandi.
"Maaf mas, aku tadi sedang mengantri disana tadi. Antriannya cukup padat mas," kata Tiara.
"Bukan karena kamu ingin cari yang murah kan?," kata Sandi memberikan sindiran.
"Bukan mas," kata Tiara.
"Hmm," kata Sandi.
"Mas marah ya?," tanya Tiara.
"Tadi aku hendak marah padamu, tapi ya sudahlah. Lagi pula kamu sudah disini, rasa bosanku sudah hilang," kata Sandi dengan ekspresi wajah yang datar.
"Maaf ya mas, sudah membuat mas Sandi menunggu lama," kata Tiara.
"Iya, tidak apa-apa," kata Sandi.
Sandi melajukan mobilnya dan meninggalkan pasar tradisional tersebut perlahan.
Tiara yang memperhatikan wajah Sandi yang terlalu serius menjadi sedikit merasa tidak nyaman. Dia tetap merasa bersalah karena membuat Sandi menunggu lama saat berbelanja.
__ADS_1
Dia berinisiatif untuk mencairkan suasana akan tetapi Tiara bingung ingin mencari topik pembicaraan. Tiara terus berfikir keras seperti sedang melakukan ujian nasional yang diadakan negara.
Mau bahas apa ya?. Batin Tiara.