Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 87


__ADS_3

Tiara kembali terdiam sejenak.


"Iya mas, mamah memang sudah sering membahas tentang keinginannya memiliki cucu," kata Tiara.


"Aku sebelumnya tidak begitu memberikan perhatian atas permintaan mamah itu, tapi setelah melihat obat-obatan dan minuman herbal yang diberikan mamah untuk kamu minum, aku menjadi terenyuh," kata Sandi.


"Iya mas, aku juga," kata Tiara.


"Hm," kata Sandi.


Apa mungkin aku akan melakukannya dengan mas Sandi disini? haduh, kenapa aku merasa seperti belum siap?. Batin Tiara.


"Kamu kenapa diam?," tanya Sandi.


"Oh, tidak apa-apa mas," kata Tiara.


"Baiklah," kata Sandi.


"Oh iya mas, aku lupa. Sebenarnya mamah bukan hanya memberikan obat dan vitamin untukku saja lho tapi untuk mas juga," kata Tiara.


"Obat untukku? obat apa itu," tanya Sandi.


"Kata mamah ini obat kesuburan untuk pria, ternyata bukan hanya perempuan yang harus subur mas, laki-laki juga," kata Tiara.

__ADS_1


"Begitu ya? baiklah aku akan meminumnya nanti," kata Sandi.


"Iya mas," kata Tiara.


Waktu makan malam pun tiba.


"Kamu mau makan apa Tir?," tanya Sandi.


"Mas mau pesan lagi ke pelayannya?," tanya Tiara.


"Iya," kata Sandi.


"Apa kita tidak boleh makan diruang makan ya mas?," tanya Tiara.


"Bagaimana kalau kita makan malam diruang makan saja mas? soalnya aku bosan disini terus," kata Tiara.


"Iya deh, tidak apa-apa," kata Sandi.


Mereka berdua pun meninggalkan kamar untuk turun keruang makan hotel yang berada dibawah.


Sandi dan Tiara berjalan berdua dengan sangat


dekat tapi sepertinya mereka bingung dimana ruang makannya karena setahu Sandi biasanya ruang makan untuk kelas reguler dan VIP dibedakan.

__ADS_1


Mereka memutuskan untuk bertanya pada pihak karyawan hotel. Pihak karyawan hotel pun memberi tahukan tempat ruang makan Sandi dan Tiara.


Mereka sampai disana, pelayanannya sangat lengkap dan istimewa sampai-sampai Tiara berdecak kagum didalam hatinya. Sama seperti sebelumnya, Tiara tidak ingin Sandi melihat kekagumannya pada sesuatu hal dihotel ini. Dia tidak ingin Sandi menyindirnya.


Hotel tempat Sandi dan Tiara menginap sekarang berada tepat dipinggir pantai, oleh karena itu, setelah makan malam usai, Tiara meminta Sandi agar mereka menikmati angin malam ke pinggiran pantai. Sandi pun menurut saja.


Sesampainya dipantai, Tiara nampak sangat menikmati pemandangan yang ada. Sandi pun begitu. Mereka menikmati pemandangan itu dengan ditemani makanan kecil dan minuman hangat.


Lisa kembali mencoba menghubungi Sandi. Sandi yang sedang asyik mengobrol dengan Tiara pun menjadi terganggu dengan bunyi dering ponselnya. Dia mengambil ponsel miliknya yang berada disaku celana.


Sandi yang melihat panggilan itu berasal dari Lisa pun menekan tombol reject. Lisa merasa emosi karena panggilannya direject.


"Kenapa panggilanku direject? Sandi pasti sedang bersama istrinya itu. Haduh, aku tidak bisa membiarkan mereka semakin dekat," gumam Lisa.


Aku sebaiknya tidak berhubungan dengan Lisa untuk sekarang. Aku takut keberadaanku yang selalu berada dekat dengan Tiara membuat Tiara menaruh rasa curiga padaku. Batin Sandi.


"Siapa mas yang menghubungi mas tadi?," tanya Tiara.


"Oh itu, karyawan kantor yang menanyakan soal masalah yang ada dikantor," kata Sandi.


"Kenapa tidak mas angkat? itukan masalah yang penting,".kata Tiara.


"Bukannya aku tidak mau angkat, hanya saja masalah itu terkait dengan HRD, biar HRD saja yang mengurusnya. Aku sudah memberi tahu kepadanya agar menghubungi pihak HRD saja," kata Sandi menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2