
"Aku mau ngajak kamu buat hangout malam ini sayang. Soalnya inikan malam minggu. Kamu mau tidak sayang?," kata Lisa.
"Mau donk sayang, aku malah sangat senang bisa hangout bersama kamu," kata Sandi.
"Ya udah, nanti jemput aku ke rumah ya sayang," kata Lisa.
"Iya sayang, nanti aku akan jemput kamu ke rumah," kata Sandi.
"Sampai jumpa nanti malam ya sayang," kata Lisa.
"Iya sayang," kata Sandi.
"Aku sudahi telponnya ya sayang," kata Lisa.
"Ok sayang," kata Sandi.
Sandi kembali ke tempat duduknya bersama Tiara.
"Kamu kelamaan nunggu ya," kata Sandi.
"Tidak kok mas," kata Tiara.
"Ya sudah kita pulang yok!," kata Sandi.
"Ayo mas," kata Tiara.
"Tapi aku harus bayar makan kita dulu ke kasir," kata Sandi.
"Aku ikut saja mas ke kasirnya, pegal juga duduk lama-lama," kata Tiara.
"Ya sudah, tidak apa-apa," kata Sandi.
Saat hendak berdiri, dan melangkah satu langkah kaki, Tiara tergelincir dan hampir jatuh. Untung saja Sandi dengan sigap menangkap Tiara dalam pelukannya.
Sekarang mereka saling memandang satu sama lain. Seperti adegan dalam sebuah drama, mereka saling menatap tajam satu sama lain. Sandi yang melihat wajah cantik Tiara tidak berkedip setitik pun. Begitu juga dengan Tiara. Tiara tidak mengedipkan matanya saat melihat wajah Sandi yang tampan.
Beberapa saat, pelayan restauran yang hendak membersihkan meja makan mereka tadi menyadarkan Sandi dan Tiara. Sandi melepaskan pelukannya dari Tiara. Mereka berdua menjadi salah tingkah dan malu. Apalagi tindakan tadi dilihat oleh salah satu pelayan restauran.
"Ayo Tir!," kata Sandi mencairkan suasana.
"Ayo mas," kata Tiara.
Mereka menuju kasir dan membayar makanan mereka. Setelahnya, mereka kembali pulang menuju rumah Tiara.
"Tir, Aku langsung saja pulang ke rumah ya," kata Sandi.
"Mas tidak mampir dulu?," kata Tiara.
"Tidak usah Tir, lain kali saja ya," kata Sandi.
"Iya mas, tidak apa-apa kok," kata Tiara.
Sandi mengambil sesuatu dari belakang tempat duduknya.
"Ini Tir, kamu bawa satu bingkai fotonya ya. Supaya bisa kamu kasih tunjuk kepada bapak dan ibu," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara mengambil bingkai foto itu.
"Hati-hati ya mas dijalan," kata Tiara lagi.
__ADS_1
"Iya Tir, aku duluan ya," kata Sandi.
"Iya Mas," kata Tiara tersenyum.
Tiara memasuki rumahnya. Tidak ada siapapun dirumah. Ia meletakkan bingkai foto itu di Sofa ruang tamu nya.
Sandi sudah sampai rumahnya. Ia melihat orang tuanya berada diruang santai. Ia berjalan ke arah sana. Membawa sebuah bingkai foto.
"Pah,mah," kata Sandi menyapa.
"Lho San, kamu sudah pulang nak," kata bu Sari tersenyum. Pak Airlangga pun ikut tersenyum.
"Iya mah, Sandi baru sampai," kata Sandi.
"Apa yang kamu bawa itu nak?," kata bu Sari melihat sebuah bingkai besar ditangan Sandi.
"Ini foto prewedding Sandi mah dengan Tiara," kata Sandi menunjukkan foto pre-weddingnya bersama Tiara kepada bu Sari.
"Bagus sekali nak. Kamu terlihat memiliki chemistry yang baik dengan Tiara. Kalian berdua juga sangat pandai memilih outfit," kata bu Sari.
"Coba lihat mah," kata pak Airlangga.
"Iya mah, kamu betul. Kamu memang pandai San memilih tempat photo studio itu," kata pak Airlangga.
"Terima kasih pah,mah, untuk pujiannya," kata Sandi. Bu Sari tersenyum membalas.
"Mang Ari!," panggil bu Sari kepada salah satu pekerja dirumah mereka.
"Iya nyonya," kata mang Ari.
"Tolong ini dipajang diruang tengah ya mang!," kata bu Sari.
Lisa kini sedang duduk santai dikamarnya.
Kamu tidak akan bisa menghalangi aku untuk memiliki Sandi Airlangga. Akan aku buat anakmu menikahimu. Kamu tidak akan bisa berkutik setelahnya. Sandi, aku akan menjadi istrimu. Aku akan menjadi bagian dari keluarmu. Dan tentunya, aku juga akan mendapatkan harta dan kemewahan darimu. Batin Lisa tersenyum licik.
Pukul 19:00 telah tiba. Lisa menghubungkan sambungan telepon ke ponsel milik Sandi.
"Halo sayang," kata Sandi menjawab telepon.
"Halo sayang, kamu jadikan jemput aku ke rumah?," kata Lisa.
"Jadi donk sayang, ini aku sedang bersiap-siap," kata Sandi.
"Oh ya sudah, aku tunggu dirumah ya sayang," kata Lisa.
"Iya sayang," kata Sandi.
Sandi keluar kamarnya dan turun ke lantai bawah.
"Mau kemana nak?," tanya bu Sari.
"Mau, mau ketemu teman mah," kata Sandi terbata-bata.
"Oh, lebih baik kamu makan malam dulu. Papah sudah menunggu dimeja makan," kata bu Sari.
"Haduh, maaf ya mah, Sandi sudah janji kepada teman Sandi untuk makan malam bersama diluar," kata Sandi.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi pulangnya jangan larut malam ya," kata bu Sari.
__ADS_1
"Iya mah, Sandi usahakan pulang cepat," kata Sandi.
"Hati-hati dijalan ya sayang. Jangan kebut-kebutan naik nyetir mobilnya!," kata bu Sari.
"Iya mah, Sandi pergi dulu ya," kata Sandi.
"Iya nak," kata bu Sari.
Bu Sari berjalan menuju ruang meja makan.
"Mana Sandi mah, kenapa tidak ikut mamah makan malam?," tanya pak Airlangga.
"Dia izin pamit pah mau makan malam bersama temannya diluar," kata bu Sari.
"Makan malam bersama?," kata pak Airlangga.
"Iya pah, tapi nanti dia usahain cepat pulang," kata bu Sari.
"Sandi berbohong mah," kata pak Airlangga.
"Kenapa papah bilang begitu sih?," kata bu Sari.
"Dia pasti ingin bertemu dengan Lisa," kata pak Airlangga.
"Kenapa papah berfikiran seperti itu?," tanya bu Sari.
"Sandi biasanya kalau malam minggu begini pasti pergi hangout sama Lisa," kata pak Airlangga.
"Mamah kalau itu kurang paham pah," kata bu Sari.
"Mah, entah kenapa papah merasa memiliki firasat buruk dengan Sandi," kata pak Airlangga.
"Firasat buruk apa pah. Papah bikin mamah takut," kata bu Sari.
"Sepertinya Lisa mau berbuat sesuatu yang buruk kepada putra kita," kata pak Airlangga.
"Astaga, firasat papah terlalu berlebihan," kata bu Sari.
"Bukan berlebihan mah, kemungkinan ia," kata pak Airlangga. Bu Sari yang mendengar penjelasan dari suaminya itu semakin khawatir.
Pak Airlangga mengambil ponsel dari saku bajunya. Mencoba menghubungi seseorang. Seseorang itu adalah Hardi, orang kepercayaannya.
"Halo pak, selamat malam," kata Hardi.
"Halo Har. Kamu dimana sekarang Har?," tanya pak Airlangga.
"Saya sedang berada dirumah pak. Ada apa pak memangnya?," tanya Hardi.
"Har, saya perlu bantuan kamu," kata pak Airlangga.
"Apa yang bisa saya perbuat pak?," tanya Hardi.
"Sekarang Hardi sedang menuju rumah Lisa. Saya ingin kamu lakukan cara apapun agar Sandi gagal pergi ke rumah Lisa," kata pak Airlangga.
"Baik pak, saya akan kesana sekarang," kata Hardi.
"Baik Har, saya tunggu informasi berikutnya dari kamu," kata pak Airlangga.
"Siap pak, nanti akan saya kabari," kata Hardi.
__ADS_1
"Baik Har," kata pak Airlangga menutup telepon.