
"Tumben, memangnya apa alasan Sandi meminta kamu kesana nak!," tanya bu Sari.
"Iya mah, mas Sandi ingin mengajakku kesini dengan alasan supaya aku bisa lebih berbaur dengan orang-orang disini mah. Kemudian Tiara juga bisa tahu apa saja yang mau Sandi lakukan dan kerjakan dikantor," kata Tiara.
"Karena itu alasannya? mamah setuju dengan Sandi," kata bu Sari.
"Iya mah," kata Tiara.
"Kalau begitu, mamah tutup teleponnya ya sayang," kata bu Sari.
"Iya mah, terima kasih ys mah," kata Tiara.
Panggilan tersebut berakhir.
"Kenapa mamah telepon?," tanya Sandi.
"Mamah merasa khawatir mas karena Tiara belum pulang jam segini," kata Tiara.
"Oh karena itu rupanya," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara.
Satu jam kemudian, pekerjaan Sandi pun selesai ia kerjakan. Tiara masih fokus menonton televisi. Ia menikmati tayangan komedi.
"Sayang, kamu fokus sekali menonton televisinya," kata Sandi.
"Iya mas, kalau sore begini sembari menunggu mas Sandi pulang kerja, Tiara menikmati tayangan komedi," kata Tiara.
"Oh begitu, kalau sekarang, apakah kita bisa pergi?," tanya Sandi.
__ADS_1
"Mas sudah selesai bekerja?," tanya Tiara.
"Tentu, jika pekerjaanku belum selesai, aku tidak mungkin mengajakmu pergi sayang," kata Sandi.
"Baguslah mas," Tiara mengambil remote televisi, kemudian ia mematikan televisi.
Mereka pun melangkah bersama meninggalkan ruang kerja Sandi.
"Nan, kalau kamu ingin pulang, kamu bisa pulang sekarang," kata Sandi kepada sekretaris pribadinya.
"Baik pak," kata Nanda.
Sandi dan Tiara kembali melanjutkan langkah mereka menuju ruang parkir bawah tanah. Sesampainya disana, keduanya memasuki mobil.
Sandi membawa Tiara menuju hotel dan restoran mewah milik keluarganya yang baru beberapa hari ini beroperasi.
Proyek ini merupakan proyek besar yang dikerjakan Sandi dan baru nampak hasilnya sekarang.
Sandi meminta para petugas hotel untuk menyediakan ruang istirahat bagi dirinya dan Tiara.
"Mas, kenapa semua petugas tadi sepertinya menurut dengan perintah mas Sandi?," tanya Tiara yang belum mengetahui bahwa hotel tersebut milik suaminya.
"Ini kan hotel kita sayang," kata Sandi.
"Hotel keluarga Airlangga maksud mas?," Tiara seakan tidak percaya.
"Tentu, hotel ini merupakan proyek besar yang ku gagas. Papah membiarkan aku sendiri yang menangani pembangunan hotel ini dari titik nol sampai sebesar ini," kata Sandi.
"Wah, luar biasa mas," kata Tiara.
__ADS_1
"Bagaimana? apakah pembangunan hotel ini memiliki nuansa yang indah? apakah memiliki kemewahan pada setiap sisi pembangunannya?," tanya Sandi.
"Iya mas, pembangunan hotel ini betul-betul sangat bagus. Aku bangga sekali mas Sandi memiliki kemampuan besar seperti ini," kata Tiara.
Sandi tersenyum.
"Oh iya sayang, aku sudah meminta kepada pelayan hotel untuk mendandani kamu dengan baik," kata Sandi.
"Disini mas?," tanya Tiara.
"Iya sayang, hotel kita ini juga menyediakan jasa spa bagi perempuan," kata Sandi.
" Lalu kapan aku bisa melakukannya mas?," tanya Tiara.
"Sekarang," kata Sandi.
"Sekarang?," tanya Tiara.
"Iya, kamu lihat arah kesana," Sandi menunjuk ke arah perempuan yang menghampiri mereka.
Tiara pun melihat ke arah perempuan tersebut.
"Apakah nona yang bernama Tiara dan tuan yang bernama Sandi?," tanya perempuan berumur 30 tahunan tersebut.
"Iya mbak, betul," kata Tiara.
"Perkenalkan, saya Amira, manager hotel. Pak direktur dan ibu Tiara," kata Amira.
"Saya Sandi dan ini istri saya Tiara," Sandi ikut memperkenalkan diri.
__ADS_1
"