
"Oh begitu ya nak, ya sudah tidak apa-apa," kata bu Lilis.
"Baik bu, saya pulang duluan ya pak,bu,'' kata Farhan kepada bu Lilis dan pak Arifin.
"Iya nak," kata pak Arifin dan bu Lilis.
Farhan melanjutkan langkah motornya.
Kedatangan Farhan sudah ditunggu oleh ayah dan ibunya, yaitu pak Fariz dan bu Rika. Mereka ingin menyampaikan sesuatu kepada putranya itu.
"Biasanya jam segini harusnya Farhan sudah pulang, kenapa dia belum pulang juga ya pah?," tanya bu Rika pada suaminya.
"Mungkin saja Farhan ada kesibukan lain mah dikampus," kata pak Faris.
"Mungkin saja ya pah," kata bu Rika.
"Iya mah," kata pak Faris.
Suara deruman motor Farhan sekarang sudah terdengar dari dalam rumah, itu artinya ia sudah sampai.
"Pah, sepertinya itu Farhan," kata bu Rika.
"Iya mah," kata pak Faris.
Farhan meminta security rumahnya untuk memarkirkan motornya dibagasi. Farhan memasuki rumah.
Farhan yang melihat kedua orang tuanya sedang duduk diruang tamu pun memberikan salam dengan mencium kedua punggung tangan mereka.
__ADS_1
"Tumben kamu pulangnya maghrib begini nak?," tanya bu Rika.
"Iya mah, aku tadi mampir ke coffee shop dan bantu-bantu karyawan disana," kata Farhan.
"Wah, mamah senang mendengarnya. Anak mamah sekarang semakin mandiri," kata bu Rika.
"Hehehe," Sandi tertawa.
"Kamu harus lebih bertekun lagi ya Han, supaya nanti kamu lebih memiliki kemampuan dan kecakapan dalam mengelola perusahaan keluarga kita," kata pak Faris.
"Iya pah, Farhan akan lebih tekun lagi," kata Farhan.
"Oh iya nak, sebenarnya papah dan mamah mau menyampaikan sesuatu yang sangat penting kepada kamu," kata pak Faris.
"Apa itu pah?," tanya Farhan.
"Ah, papah bisa saja, baik pah," kata Farhan.
"Ya sudah, kamu lebih baik ke kamar, kamu mandi dan sholat setelah itu kita makan malam bersama," kata pak Faris.
"Baik pah, aku ke kamar dulu," kata Farhan.
Farhan berjalan menuju kamarnya. Ia membuka pakaian dan segera bebersih diri.
Kira-kira apa yang mau dibilang papah ya. Batin Farhan yang sedang diguyur air dibawah shower.
Usai selesai berolahraga, Sandi membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi dan Tiara memberikan pakaian.
__ADS_1
"Tir, tolong ambilkan sweater hangat juga," kata Sandi.
"Baik mas," kata Tiara.
Tiara mengambil sweater hangat yang diminta oleh Sandi dan memberikan sweater hangat tersebut kepada Sandi.
"Tumben mas pakai sweater hangat," kata Sandi.
"Saat diruang fitness tadi akh melihat keluar. Langit nampak mendung, pertanda hujan akan turun," kata Sandi.
Tiara pun mendekati jendela kamar tidurnya. Ia menyingkapkan gorden jendela tersebut. Ia melihat keluar, apa yang dikatakan oleh Sandi memang benar. Langit tampak menghitam dan gemuruh petir muncul secara perlahan.
"Benar kata mas, langit memang nampak mendung," kata Tiara.
Sandi mengangguk tanda mengiyakan.
"Ayo kita turun ke bawah! aku sudah sangat lapar," kata Sandi.
"Baik mas," kata Tiara mengiyakan.
Mereka turun ke bawah dengan langkah kaki yang beradu. Dimeja makan, pak Airlangga dan bu Sari sudah duduk terlebih dahulu.
"Papah sama mamah sudah lama menunggu?," tanya Sandi.
"Tidak kok nak, papah sama mamah baru saja duduk disini," kata bu Sari.
"Baguslah mah," kata Sandi.
__ADS_1