Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 121


__ADS_3

"Bagaimana perkembangan usaha kalian?," tanya bu Sari sebagai bahan pembicaraan pembuka.


"Alhamdulillah sih mbak, makin lancar jaya," kata pak Andre menjawab pertanyaan bu Sari.


"Wah, bagus donk," kata bu Sari.


"Iya mbak, begitu lah," kata bu Asta.


"Se-ingat aku mbak Sari dan mas Airlangga punya satu anak perempuan dan satu anak laki-laki kan?," kata pak Andre.


"Iya And, kamu benar," kata bu Sari.


"Lalu pada kemana mereka sekarang? kenapa rumah jadi sepi begini mas?," tanya pak Andre.

__ADS_1


"Kalau anak perempuan, Selvi, sekarang punya usaha sendiri di Amerika. Kalau anak lelaki kami Sandi, saat ini bekerja di perusahaan keluarga Ndre sebagai direktur utama. Tapi sekarang Sandi sedang pergi ke Bali," kata pak Airlangga.


"Kren juga ya mas anaknya. Apalagi Selvi yang berdikari sendiri di Amerika. Sandi ke bali? urusan bisnis ya mas?," tanya pak Andre.


"Ya begitulah Ndre. Semenjak ia menyelesaikan S2 nya disana, dia malah betah tinggal disana dan susah sekali memberikan waktunya untuk pulang ke Indonesia. Sandi berbulan madu disana," kata pak Airlangga.


Bu Asta keselek mendengar perkataan pak Airlangga.


"Iya mas, kok bisa begitu?," tanya pak Andre yang sama terkejutnya dengan istrinya.


"Iya As, Ndre. Sandi memang sudah menikah dan pernikahannya sudah menjalani dua bulan," kata bu Sari.


"Kok bisa begitu mas, mbak? kenapa terburu-buru sekali? dan juga kenapa mbak dan mas tidak mengundang kami saat pernikahan Sandi berlangsung?," kata bu Asta mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Begini As, aku memang sengaja menjodohkan Sandi dengan putri teman lamaku yang juga pegawai di perusahaan kami. Istri Sandi yang sekarang berperangai baik dan sopan santunnya tinggi. Mas tidak mau Sandi berhubungan lebih jauh dengan pacarnya, artis terkenal itu. Kami memang sengaja melaksanakan pernikahan putra kami Sandi secara tertutup agar tidak memicu gosip. Tapi perlahan kami mulai membeberkan pernikahan Sandi ini ke publik," kata pak Airlangga menjawab pertanyaan bu Asta dengan penjelasan yang panjang lebar.


"Kenapa kamu seperti sedih seperti itu As setelah mendengar pernikahan Sandi,?," tanya bu Sari.


"Begini mbak, dulu Lia selalu cerita tentang kekaguman dan rasa suka dia terhadap Sandi kepadaku. Dia bahkan ingin sekali hidup berdampingan dengan Sandi. Kalau dia sudah tahu kalau Sandi sudah menikah, dia pasti sangat hancur mbak," kata bu Asta mengeluarkan air matanya.


"Maafkan kami As, kami sebenarnya juga ingin sekali Lia menjadi menantu dikeluarga Airlangga. Selvi juga inginnya seperti itu. Tapi kau tahu kan surat wasian mendiang mbak Anita. Dan itu juga yang ingin kami bahas dengan kalian," kata bu Sari.


"Apa itu alasan mbak tidak mencoba mendekatkan Sandi dengan Lia?," tanya bu Asta.


"Iya As, kamu benar. Hanya itu alasannya. Sungguh," kata bu Sari meyakinkan bu Asta.


"Sebenarnya surat wasiat itu menunjukkan keegoisan mbak Nita saja. Aku akan berusaha sebenarnya untuk melaksanakan wasiat itu. Tapi aku sebagai ibu dan ayah bagi Lia tidak pernah menggantungkan percintaan Lia dengan cara perjodohan seperti yang diminta oleh mendiang mbak Anita. Aku hanya ingin Lia menikah dengan lelaki pilihannya. Laki-laki yang ia cintai. Laki-laki yang ia inginkan dan harapkan menjadi pendamping hidupnya. Bukan menurut keinginan mendiang ibunya semata," kata bu Asta menjelaskan pendapatnya.

__ADS_1


__ADS_2