
"Iya tidak apa-apa non. Terima kasih banyak non sudah memperhatikan saya," kata supir pribadi Tiara.
"Sama-sama mas, sudah kewajiban saya," kata Tiara.
Sang supir pribadi pun membalas perkataan Tiara dengan senyuman.
Sandi yang melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 13:00 siang bertanya-tanya kenapa belum ada tanda-tanda kedatangan Tiara?.
Ia sudah merasa lapar. Sudah waktunya makan siang. Tetapi sama seperti Tiara, ia ingin makan siang bersama dengan Tiara siang ini.
Ia kemudian memutuskan menghubungi istrinya itu untuk menanyakan posisinya sekarang.
"Halo mas," kata Tiara.
"Halo sayang, kamu sekarang sedang berada dimana?," tanya Sandi.
"Tiara sudah berada dalam perjalanan menuju kantor mas," kata Tiara.
"Kenapa lama sekali?," tanya Sandi.
"Tiara harus mengantarkan teman Tiara mas," kata Tiara.
"Oh begitu, masih lama tidak sampainya," tanya Sandi.
"Tidak kok mas, mungkin 15 menitan lagi," kata Tiara.
"Ya sudah aku tunggu. Aku sudah lapar. Aku ingin makan siang denganmu," kata Sandi.
__ADS_1
"Mas romantis sekali. Tapi kalau memang mas sudah sangat lapar, tidak apa-apa kok. Mas makan saja duluan," kata Tiara.
"Tentu tidak, aku akan menunggumu. Aku ingin karyawan kantor melihat kalau aku bukan hanya pimpinan yang baik tapi seorang suami yang baik juga untuk istrinya," kata Sandi.
"Baiklah mas, mas tunggu saja Tiara!,", kata Tiara.
Panggilan tersebut pun berakhir.
Tiara kini sudah sampai dikantor. Ia dihadang oleh security yang hendak masuk. Security ini adalah security baru.
Penjagaan dikantor Sandi memang Sangatlah ketat. Bahkan satu semut pun susah untuk menerobos ke dalam.
"Maaf mbak, mau bertemu siapa?," tanya security.
"Saya ingin bertemu direktur utama perusahaan ini pak. Pak Sandi Airlangga," kata Tiara.
"Saya adalah istrinya pak," kata Tiara.
"Istri pak Airlangga?," security nampak tidak percaya dengan perkataan Tiara.
Pak Sandi masih muda. Apa iya sudah menikah?. Batin security bertanya.
"Maaf mbak, saya harus tanya dulu pak Sandinya langsung," kata security.
"Tidak usah pak, saya akan sambungkan pak Sandi dengan kita berdua sekarang," Tiara mengambil ponselnya dan menghubungi Sandi.
"Halo sayang, kamu lagi dimana sih? lama sekali," kata Sandi.
__ADS_1
"Aku sudah didepan kantor mas tapi security mas menghadang aku untuk masuk, hehehe," Tiara menunjukkan sikap yang biasa atas perlakuan security.
"Coba kamu kasih ponselnya ke security itu," kata Sandi.
"Baik mas," kata Tiara.
"Pak, pak Sandi mau berbicara dengan bapak," kata Tiara.
"Baik mbak," kata security.
"Halo pak, perempuan yang berada dekat bapak saat ini adalah istri saya. Segera persilahkan dia masuk!," kata Sandi.
"Begitu ya pak? maaf sekali lagi pak, saya tidak tahu," kata security.
"Tidak apa-apa pak, saya maafkan. Bapak kan masih baru," kata Sandi.
"Terima kasih banyak pak," kata security.
Security mengembalikan ponsel Tiara.
"Maaf mbak, saya tidak tahu kalau mbak istri dari pak Airlangga. Soalnya saya masih baru," kata security.
"Tidak apa-apa kok pak, saya maklumkan," kata Tiara.
"Terima kasih banyak ya mbak. Sekarang mbak silahkan masuk!," kata security.
Tiara mengangguk. Ia melangkahkan kakinya memasuki kantor. Ia tidak perlu dituntun menuju kantor Sandi karena dia sudah pernah kesini sebelumnya.
__ADS_1
Dia memasuki lift agar mempercepat langkahnya menuju kantor Sandi yang berada pada lantai 12.